Teater Kami Akan Curhat di Usia 22 Tahun

Teater Kami Akan Curhat di Usia 22 Tahun

- detikHot
Senin, 25 Apr 2011 19:25 WIB
Teater Kami Akan Curhat di Usia 22 Tahun
Jakarta - Salah satu kelompok teater yang paling eksis di Indonesia, Teater Kami, kini berusia 22 tahun 21 Juli 2011 mendatang. Teater Kami akan menampilkan pentas 'Gegirangan' 28-29 April 2011 pukul 20.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat.

'Gegirangan' bercerita tentang kehidupan dua pasang suami istri sebagai pekerja di panggung teater. Cerita 'Gegirangan' diambil dari kisah nyata sehari-hari yang disuguhkan dalam bentuk 'peristiwa teater'.

Sang sutradara, Harris Priadi Bah ingin menunjukan hiruk-pikuk kehidupan teater Indonesia. Dunia teater yang jauh dari motivasi pemenuhan materi. Pementasan tersebut juga diharapkan akan menjadi renungan untuk kehidupan pekerja teater yang lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemain yang akan diajak Harris di antaranya Ribka Maulina Salibia, Piala Dewi Lolita dan Roy Julian. Mogan Pasaribu diajak menjadi penata musik, dan penata cahaya di panggung BBJ dipegang oleh Aziz Dying.

'Gegirangan' merupakan sebuah kebalikan dari pentas teater Teater Kami 2 tahun lalu yang berjudul 'Gegerungan'. 'Gegerungan' merupakan sebuah kondisi kesusahan dunia teater yang disertai dengan sikap mengeluh. Sebaliknya, 'Gegirangan' merupakan sikap ceria pelaku teater saat tengah susah.

Teater Kami sudah malang melintang di Indonesia sejak 1989 dengan didirikan oleh Harris Priadie Bah. Sejak itu Teater Kami terhitung produktif, paling tidak Harris akan mementaskan karyanya setahun sekali. Setiap proses kreatif Teater Kami sangat dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi masa kini. Tak heran jika teks-teks hari ini, sering muncul. Salah satu contoh, Bebasari, yang ditulis Roestam Effendi pada 1946 dan digelar Teater Kami, 2001.

Kelompok ini biasa memulai proses dengan pembongkaran teks dramatik habis-habisan. Lalu menghadirkannya kembali sebagai tafsir baru. Tafsir yang diperhitungkan dengan realitas keseharian aktor, kebutuhan naskah dan situasi sosial pada ruang waktu saat diwujudkan dalam pentas.

(ebi/ebi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads