'Gegirangan' bercerita tentang kehidupan dua pasang suami istri sebagai pekerja di panggung teater. Cerita 'Gegirangan' diambil dari kisah nyata sehari-hari yang disuguhkan dalam bentuk 'peristiwa teater'.
Sang sutradara, Harris Priadi Bah ingin menunjukan hiruk-pikuk kehidupan teater Indonesia. Dunia teater yang jauh dari motivasi pemenuhan materi. Pementasan tersebut juga diharapkan akan menjadi renungan untuk kehidupan pekerja teater yang lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Gegirangan' merupakan sebuah kebalikan dari pentas teater Teater Kami 2 tahun lalu yang berjudul 'Gegerungan'. 'Gegerungan' merupakan sebuah kondisi kesusahan dunia teater yang disertai dengan sikap mengeluh. Sebaliknya, 'Gegirangan' merupakan sikap ceria pelaku teater saat tengah susah.
Teater Kami sudah malang melintang di Indonesia sejak 1989 dengan didirikan oleh Harris Priadie Bah. Sejak itu Teater Kami terhitung produktif, paling tidak Harris akan mementaskan karyanya setahun sekali. Setiap proses kreatif Teater Kami sangat dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi masa kini. Tak heran jika teks-teks hari ini, sering muncul. Salah satu contoh, Bebasari, yang ditulis Roestam Effendi pada 1946 dan digelar Teater Kami, 2001.
Kelompok ini biasa memulai proses dengan pembongkaran teks dramatik habis-habisan. Lalu menghadirkannya kembali sebagai tafsir baru. Tafsir yang diperhitungkan dengan realitas keseharian aktor, kebutuhan naskah dan situasi sosial pada ruang waktu saat diwujudkan dalam pentas.
(ebi/ebi)











































