'Onrop! Musikal' menjelaskan dirinya sebagai "sebuah komedi satir bagi yang masih percaya akan kekuatan cinta", dan diiklankan sebagai karya yang lahir "dari sutradara 'Janji Joni', 'Kala' dan 'Pintu Terlarang' Joko Anwar". Dari segi ini saja, karya ini sudah cukup menawarkan sebuah kebaruan. Sebuah lakon teater yang dibuat oleh seniman yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film, dan dipasarkan dengan teknik-teknik marketing modern yang massif.
Tak heran jika dalam pertunjukan pembukaannya, Jumat (12/11/2010) malam ada penonton yang nyeletuk, "Nggak nyangka seni teater bisa sekeren ini!" Tentu saja, sebelum ada 'Onrop! Musikal' seni teater sudah dan memang keren. Tapi, jasa terbesar Joko Anwar adalah, berhasil membuat anak-anak gaul Jakarta berbondong-bondong pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM), lalu di dalam gedung pertunjukan berbisik, "Gue lagi nonton teater," lewat BlackBerry-nya kepada teman yang sedang meneleponnya. Untuk kemudian menyadari,Β bahwa "seni teater ternyata keren juga".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat yang sama, pacarnya, Sari (diperankan bergantian oleh Aimee Saras dan Ary Kirana) juga terjerat kasus yang sama karena kegemarannya berpakaian minim. Namun, Sari kemudian dibebaskan dari penjara sebelum pengadilan berlangsung, sedangkan Bram kasus Bram terus berlanjut, dia disidang dan kemudian benar-benar dijatuhi hukuman yang paling ditakuti oleh orang seluruh negeri. Namun, di pengasingan, Bram justru menemukan fakta yang berbeda dari bayangan sebelumnya. Apakah itu?
Tidak elok, dan sudah barang tentu tidak asik kalau diceritakan terlalu detail. 'Onrop! Musikal' adalah lakon yang meriah dan menghibur dan hanya bisa dirasakan dengan menyaksikannya sendiri. Departemen koreografi yang dikerjakan oleh Eko Supriyanto wajib mendapat pujian paling awal. Dengan gerakan-gerakan yang simpel, dan lebih mengandalkan ketangkasan, kecepatan dan kekompakan, koreografi Eko dengan efektif membuat karya ini bergerak dinamis, menutupi kemungkinan penonton bosan pada adegan-adegan yang terasa berpanjang-panjang.
Secara keseluruhan, layaknya teater musikal pada umumnya, 'Onrop' mengandalkan kekuatannya pada gerak dan nyanyian. Musik yang dikerjakan Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro memberi roh pada setiap adegan. Joko Anwar selain menyutradarai dan menulis skenarionya, sekaligus membuat lirik untuk setiap lagu. Yang tak kalah penting pada setiap pementasan teater musikal adalah desain tata panggung dan pencahayaan, dan untuk kedua unsur itu, 'Onrop! Musikal' juara. Kostum yang dikerjakan oleh Isabelle Patrice dan Tania Soeprapto menampilkan desain yang tidak neko-neko, bersahaja, tapi elegan.
Para aktor utama yang notabene adalah pemula (dalam arti bukan seniman lakon yang secara profesional sudah dikenal sebelumnya), dan dijaring lewat audisi, bermain bagus dan memenuhi tuntutan untuk berakting sekaligus menyanyi dengan prima. Tapi, lagi-lagi, kalau mau bicara tentang juaranya, Yudi Firmansyah yang berperan sebagai Amir (selanjutnya diperankan bergantian dengan Ario Bayu), asisten Bram. Amir menjadi pusat kekuatan unsur komedi dari 'Onrop', mencuri perhatian sejak awal kemunculannya dengan gaya dan lagak-tingkahnya yang kemayu. Belakangan, Amir dengan lantang mengumumkan kepada dunia bahwa dirinya gay.
Seperti film-film Joko Anwar, karya musikal ini pun dengan gamblang menyatakan dirinya sebagai reaksi atas fenomena sosial-politik aktual di masyarakat. Seperti biasa, Joko membungkus kemarahannya dengan lawakan-lawakan parodis yang getir, sinis, sarkastis -khas komedi kelas menengah kota. Hanya saja, berbeda dengan di film-film itu, kali ini Joko tampaknya lebih leluasa, tanpa bungkus metafor-metafor yang rumit, sehingga sindiran-sindiran kritisnya terasa lebih "keras", selantang ketika ia mengomentari berita-berita tentang tingkah-polah anggota DPR lewat akun Twitter-nya.
Satu lagi. Kalau tadi sempat dibilang bahwa karya ini memberikan sesuatu yang cukup baru pada khasanah seni pertunjukan di Tanah Air, sebenarnya "nggak baru-baru amat". Kehadiran 'Onrop! Musikal' menyemarakkan apa yang telah dirintis oleh Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company sejak awal tahun 2000. Lewat karya-karya teater musikal yang spektakuler seperti 'Madame Dasima' (2001), 'Gallery of Kisses' (2002) dan 'China Moon' (2003) hingga 'Jakarta Love Riot' (2010), EKI yang dipimpin oleh suami-istri Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto telah memberi warna tersendiri bagi seni teater.
Oleh karenanya, barangkali tak berlebihan jika ucapan terimakasih ditujukan kepada produser Afi Shamara yang telah mengembalikan tradisi yang pernah ada. Sukur, setelah ini, teater musikal menjadi tren untuk mengimbangi bentuk-bentuk kesenian lain yang sudah lebih mapan. 'Onrop! Musikal' digelar untuk umum mulai hari ini di Teater Besar, TIM, hingga 21 November 2010.
(mmu/mmu)











































