'Mwathirika': Boneka-boneka Tragedi '65

'Mwathirika': Boneka-boneka Tragedi '65

- detikHot
Rabu, 19 Jan 2011 11:32 WIB
Jakarta - Boneka-boneka kertas yang aneh dan menyeramkan menyihir penonton yang memadati GoetheHaus, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/1/2011) malam. Ruang pertunjukan berkapasitas 300 orang itu tak menyisakan satu kursi pun, dan masih banyak penonton yang berdiri berjubel untuk menyaksikan pentas bertajuk 'Mwathirika' yang dimainkan oleh Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta.

Panggung dibuat berlapis dua, bagian depan terdiri atas dua rumah kayu masing-masing di sisi kanan dan kiri, gambaran sebuah kampung. Bagian belakang, yang dipisahkan dengan tirai transparan, mengesankan sebuah dunia yang keras, yang disimbolkan dengan tangga-tangga besi. Boneka-boneka yang misterius muncul dari rumah-rumah kayu itu, kadang mengintip dari jendela mungil, kadang keluar dan berjalan ke halaman rumah atau ke jalan.

Rumah yang satu diisi oleh seorang lelaki bertangan satu, dan dua anaknya, laki-laki dan perempuan berkalung peluit. Rumah satunya lagi dihuni oleh lelaki yang galak, dengan anak gadisnya yang duduk di kursi roda. Anak-anak itu berteman layaknya bocah-bocah lain yang bahagia, sampai suatu hari orang-orang bertopeng burung hantu, dengan senjata laras panjang di tangan, mengacak-acak kampung mereka, dan memberi tanda segitiga merah di jendela salah satu rumah, yakni di rumah si lelaki bertangan satu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Segitiga merah itu kemudian mengubah segalanya.  Entah kenapa, gara-gara tanda itu, si lelaki galak tak lagi mengizinkan anak perempuannya berteman dengan anak-anak si lelaki bertangan satu. Lebih-lebih setelah si lelaki bertangan satu ditangkap dan dipenjarakan oleh orang-orang bertopeng burung hantu. Adegan ini digambarkan dengan sangat menyentuh di panggung bagian belakang, dengan iringan musik yang mencekam. Dan sejak itu, tragedi terus berlanjut, membuat penonton seperti tercekam dalam situasi yang senyap.

Sungguh ajaib, boneka-boneka yang dimainkan tanpa kata-kata itu bisa begitu hidup, dan menciptakan pertunjukan visual yang imajinatif. Aura negeri dongeng terbangun dengan baik, tanpa menyembunyikan konteks realitas yang ingin disampaikan. Tidak sulit memang untuk memaknai pertunjukan itu sebagai gambaran satu penggal sejarah Indonesia sekitar 1965, ketika terjadi tragedi berdarah yang menyeret Partai Komunis Indonesia sebagai tertuduh pelaku percobaan 'coup' lewat pembunuhan para jenderal.

Pentas 'Mwathirika' memang membuka dan menjadi bagian dari festival bertajuk 'Indonesia & The World 1959 - 1969: A Critical Decade' yang digelar di GoetheHaus, 18 - 21 Januari 2011. Peluncuran buku, pameran karya seni (komik, instalasi video, mural, dokumentasi, replika), hingga pertunjukan tari mengisi festival yang sempat didemo oleh Front Pembela Islam (FPI) karena dinilai "mengkampanyekan" komunisme itu.  Namun, demo itu tak menyurutkan antusias orang untuk menapak tilas salah satu sejarah kehilangan paling kelam di negeri ini.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads