ADVERTISEMENT

Catatan Akhir Tahun Musik Indonesia 2015

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Senin, 04 Jan 2016 16:55 WIB
Pianis Muda Indonesia, Joey Alexander / Foto: Motema Music
Jakarta -

Selamat tahun baru 2016! Empat hari telah berlalu, rasanya belum terlalu lama untuk mengingat apa saja yang terjadi di panggung musik Indonesia sepanjang 2015.

detikHOT memulai catatan akhir tahun ini dari invasi para pendatang baru. Harus diakui, di tahun 2015 suara muda benar-benar mengambil alih panggung. Terserah mau dibilang mainstream atau side-stream, mereka sukses merilis karya-karya spektakuler.

Invasi Pendatang Baru Berkualitas

Seperti Rinni Wulandari yang sukses menjadi buah bibir akibat image good girl gone bad yang dibuatnya di album 'Independent, Part 1' April kemarin. Lulusan 'Indonesian Idol 2007' mengubah total musiknya, dari pop menjadi R&B bercitrasa internasional. Jauh di Surabayam, band folk Silampukau berhasil menyemarakkan musik nasional lewat debut album 'Dosa, Kota & Kenangan' di bulan yang sama.

Begitu juga gebrakan yang dibuat trio bernama GAC di album 'Stronger' satu bulan kemudian. Bersamaan dengan GAC, lahir pula debut album dari band rock Jakarta, Kelompok Penerbang Rocket bertajuk 'Teriakan Bocah'. Disusul oleh duo Stars and Rabbit dengan album penuh pertama berjudul 'Constellation'. Di bulan Oktober, panggung musik dihebohkan dengan kedatangan band baru bernama Barasuara. Bahkan dengan lantang mereka juga langsung merilis debut albumnya, 'Taifun' yang dicap sebagai fenomena tahun ini. Nama grup lainnya, Elephant Kind juga makin bersinar dengan album ini kedua bertajuk 'Promenades'.

Hingga menjelang tutup tahun, ada dua solois muda yang menyedot perhatian. Mereka adalah Kunto Aji dan Isyana Saravati yang sukses melahirkan album perdana masing-masing. Aji dengan 'Generation Y' yang penuh semangat kemandirian serta Isyana dengan 'Explore!' yang jelas mengobrak-abrik selera masyarakat musik Indonesia menjadi lebih berkualitas.



Sedikit nama di atas menjadi wakil dari geliat musik nasional yang meruntuhkan pandangan, 'musik Indonesia saat ini sedang lesu'. Tanpa adanya kekhawatiran akan bisni musiknya sendiri, para musisi muda tadi tampil ke permukaan mendominasi setahun penuh.

Lebih gilanya, pianis muda Joey Alexander menghentak setelah dirinya terpilih menjadi nominasi Grammy Awards 2016 di dua kategori musik jazz. Menjadikan anak 12 tahun itu musisi Indonesia pertama yang diakui oleh ajang penghargaan musik tertinggi dunia.

Kemenangan Konser dan Festival Lokal

2015 juga menjadi tahunnya bagi konser internasional menghebohkan. Ada dua yang utama, yakni konser perdana One Direction pada 25 Maret dan konser ke-2 Bon Jovi pada 11 September, keduanya digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Sayangnya, dua konser tadi punya hasil yang berbanding terbalik, One Direction sukses memukau walaupun harus diakhiri dengan pengumuman hengkannya Zayn Malik, sedangkan Bon Jovi berlangsung anti-klimaks dengan absennya segambreng hits, seperti 'Always' dan 'Never Say Goodbye'. Selain dua nama tadi, ada juga konser tunggal milik Ariana Grande di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 26 Agustus.

Untungnya, serangkaian konser musisi Indonesia mampu memperbaiki kekecewaaan. Mereka bukan hanya berhasil menghadirkan hits-hits untuk dinyanyikan bersama, tapi juga kualitas produksi yang makin tinggi dan mengagumkan. Ada Afgan dengan konser tunggalnya, 'Dari Hati' pada 14 Februari, dilanjutkan dengan Raisa pada 24 Mei di Istora Senayan, bahkan konser bernama 'Raisa Live in Concert' itu berlanjut ke Surabaya di bulan November. Selepas bulan puasa pada Juli lalu, penikmat konser di Indonesia mendapat keistimewaaan dengan bisa menonton konser tunggal band rock legendaries, God Bless pada 7 Agustus di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan City.

Dua lainnya yang menjadi sorotan adalah konser 'Metamorofosa' milik Andien di JCC Plenaty Hall. Dan juga perayaan 20 tahun Glenn Fredly berjudul 'Menanti Arah' pada 17 Oktober di Istora Senayan, Jakarta.



Sama halnya dengan sejumlah festival musik milik pribumi yang jelas berhasil 'memenangkan' pertarungan dengan hajatan internasional. Ada 'Soundrenaline' pada 5-6 September yang digelar semakin matang, ada 'Konser Cinta Musik Indonesia' pada 31 Oktober yang mengundang hampir seluruh musisi Indonesia terbaik, senior ataupun junior. 'The 90s Festival' pun menjalani tahun kedua dengan caranya sendiri menjual nostalgia.

Namun bagi Java Jazz Festival, sepertinya bukan jadi yang terbaik. Semakin lama, festival jazz berskala dunia itu dicap semakin pop. Tapi tidak dengan Djakarta Warehouse Projet (DWP), 11-12 Desember kemarin. Festival tahunan musik elektronik itu bersinar dengan daftar penampil dan produksi terbaik. Pesonannya bahkan sukses melunturkan euforia dirilisnya album terbaru Adele dan Coldplay.



Bau Tak Sedap dan Air Mata


Sayangnya, 2015 juga menjadi tahun yang tidak mengenakkan. Sejumlah pegiat musik nasional tutup usia, ada pengamat musik Denny Sakrie yang meninggal dunia karena serangan jantung pada 3 Januari, disusul musisi kondang Rinto Harahap satu bulan kemudian. Tidak sampai di situ, bulan depannya giliran salah satu personel Trio Libels, yaitu Yanni Djunaedi yang berpulang. Sampai bulan November kemarin, drummer BRNDLS (The Brandals), Rully Annash juga ikut tutup usia.

Perpisahan sejumlah personel juga hadir sepanjang 2015. Dibuka oleh drummer band NOAH, Reza yang memutuskan untuk mundur dengan alasan ingin mendalami agama. Senada dengan gitaris Aditya Ardinugraha dan drummer Yudhistira Ardinugraha dari Pure Saturday. Selain itu, gitaris Abdee Negara juga resmi beristirahat dari Slank dalam rangka penyembuhan sakit ginjal yang dideritanya sejak lama.

Akhir tahun, tepatnya bulan November menyebar kabar penutupan 40 dari 100 toko kaset dan CD Disc Tarra di seluruh Indonesia. Ada dua isunya, toko yang berdiri sejak 1986 itu benar-benar bangkrut, atau bertransformasi menjadi toko digital demi mengikuti perkembangan zaman. Dan sampai sekarang, ketidakpastian itu masih belum terjawab.

Terakhir, sebelum tahun berganti, kancah musik nasional dihebohkan dengan sosok Polisi Skena. Sosok yang mencuat setelah munculnya 'perang' di dunia maya tentang sebuah foto di Instagram yang menunjukkan seorang penonton dicap tak memberikan apresiasi kepada Barasuara. Adalah akun @hasiefardiasyah yang juga jurnalis salah satu majalah musik di Indonesia, yang dianggap sebagai pemicu kehebohan tersebut.

Lantas, bagaimana dengan harmoni musik nasional di 2016? Mari sama-sama menyaksikan!

(mif/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT