10 Seniman Indonesia di Kancah Internasional 2014

Hot Top Ten 2014

10 Seniman Indonesia di Kancah Internasional 2014

- detikHot
Selasa, 06 Jan 2015 09:26 WIB
10 Seniman Indonesia di Kancah Internasional 2014
Dok.istimewa/detikFOTO
Jakarta - Sepanjang 2014 lalu, banyak seniman Tanah Air yang kian menunjukkan karya mutakhirnya di kancah internasional. Beberapa di antaranya sudah melalang buana ke luar negeri dan merasakan berbagai festival seni.

Sebut saja seperti Jompet Kuswidananto yang menggelar pameran tunggalnya di Tropen Museum, Amsterdam. Serta Ruang Rupa yang berpartisipasi dalam Sao Paulo Biennale ke-31 di Brasil.

Program spesial akhir tahun Hot Top Ten 2014 kali ini, akan mengupas 10 seniman Indonesia di kancah internasional yang dirangkum detikHOT dari akhir tahun hingga awal 2014. Di antaranya:

Sidik W.Martowidjojo

Seniman yang juga dikenal dengan nama Ma Yong Qiang ini sudah melalang buana di dunia seni rupa internasional. Pada 11-14 Desember lalu, Sidik menjadi salah satu pelukis dari 30 negara yang diundang di ajang bergengsi 'Louvre International Arts Exhibition' di Museum Louvre, Prancis.

Di eksibisi tersebut, Sidik memajang 20 lukisan hasil karyanya. Ia merupakan maestro lukis yang pandai dengan lukisan tinta cair di Indonesia. Sidik juga mendapatkan penghargaan menjadi salah satu anggota peneliti di Institut Penelitian Seni Rupa Tiongkok. Serta berhasil menggelar pameran tunggal di NAMoC (National Art Museum of China) tahun 2007.

Para kritikus Tiongkok menjulukinya sebagai 'Dewa Pit Mabuk'. Sedangkan di dunia perguruan tinggi seni rupa Tiongkok, Sidik dianggap memberikan sumbangan penting dalam perkembangan 'Chinese Painting'. Di tahun 2010, ia diundang untuk menghadiri 'The First-High Level Academic Forum for Asian Culture and Art Circle 2010 di Chengdu. Bersama dengan pemenang Nobel Prize in Literature Mo Yan.

Agus Suwage

Di penghujung 2014, seniman Agus Suwage mengikuti pameran bergengsi 'Prospect3: Notes for Now' di New Orleans Amerika Serikat. Ia menampilkan karya berjudul 'Toleransi'. Dengan latar belakang iklim intoleransi agama di Indonesia dan dunia, karyanya kali ini disimbolkannya sebagai mantra, atau panggilan untuk menjembatani perpecahan antar masyarakat.

Misalnya dalam 'Toleransi Dinding #2' merupakan simbol antara Jawa Kristen, Muslim, Hindu, Budha, dan praktik animisme, dan militeristik rezim Soeharto (1967-1998).

Selain itu, juga terdapat siluet potrait Agus Suwage sebagai seorang Kristen yang masuk Islam. Serta karyanya dalam pencampuran budaya antara Tionghoa dan Jawa. Eksibisi ini berlangsung dari 25 Oktober 2014 hingga 25 Januari 2015.

Jompet Kuswidananto

Pada Oktober 2014 lalu, seniman asal Yogyakarta Jompet Kuswidananto menggelar pameran tunggalnya di Tropen Musem Amsterdam, Belanda.

Sebuah video yang di-upload ke situs museum tertua di Belanda itu menampilkan potongan dari karya seni ciptaan Jompet. Pameran yang bertajuk 'Grand Parade: Jompet Kuswidananto: Major Solo Show' itu digelar pada 31 Oktober 2014 hingga 22 Maret 2015.

Jompet merupakan seniman kelahiran 1976 yang menjadi tren inovator terkenal di Asia dan penjuru Eropa. Karya-karyanya telah dipamerkan di Taipei Biennial, National Gallery of Victoria di Melbourne, ZKM di Karlsruhe Temporary Global. Pada 2013 silam, Jompet bersama Teater Garasi memenangkan Prince Claus dari Kerajaan Belanda.

Di pameran tunggalnya kali ini, Jompet menyatukan setiap karya seninya menjadi satu parade. Sehingga seperti membuat karya seni instalasi terbaru dan menghasilkan tontonan yang terdiri dari cahaya, suara, dan gerakan.

Galuh Pangestri

Pada 19-21 September 2014, penari asal Bandung Diajeng Galuh Pangestri Larashati diundang ke Festival Constellations di Toulon, Prancis. Di sana, ia menari tunggal dan berkolaborasi dengan seniman dunia.

Seperti saat pertunjukan 'Studi Java' pada 19 September, Galuh menari solo. Di hari yang sama, Galuh berkolaborasi dengan penari dari Belgia, Prancis, Meksiko, Singapura, Mozambik, dan Taiwan dalam 'Islands in Between.

Sehari berikutnya, ia tampil kali ini berkolaborasi bersama tujuh penari dalam 'Telescopage' bersama Chorale Pouss' Pouss (acapella penduduk kota Toulon) dan Bal Shangan Electro pimpinan Idio Chicava.

Galuh tak hanya aktif dalam dunia tari. Ia juga pernah bergabung di Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua di Jakarta. Sebelumnya Galuh pernah diundang menari ke Malaysia, Tiongkok hingga Rusia. Sejak 2012 ia tinggal di Bandung dan melanjutkan kuliah untuk meraih gelar dalam bidang seni di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Ruang Rupa

Dari 6 September-7 Desember 2014, Ruang Rupa diundang untuk berpartisipasi dalam 'Sao Paolo Biennale' ke-31 yang bertajuk 'How to Talk about Things That Don’t Exist' di Brasil. Tak hanya memajang karya seni tapi, Ruang Rupa juga memperkenalkan lembaga Ruang Rupa kepada khalayak.

Kurator asal Skotlandia Charles Esche mengatakan festival seni tertua kedua setelah Venesia ini mengalami tren terbaru dalam Biennale, yakni bersaing untuk membuat 'show' menggunakan seni kontemporer tidak hanya karya seni estetika semata.

Proyek 'Siasat' pun yang dibawa Ruang Rupa ke Biennale tersebut. Dengan sepotong replika dari markas Ruang Rupa, mereka berhasil menciptakan setiap kamar di dalam museum.

Prilla Tania

Agustus 2014 lalu, dua seniman Indonesia Prilla Tania dan Narpati Awangga mengikuti residensi 'Media/Art Kitchen' hingga 28 September. Penyelenggaranya adalah The Aomori Contemporary Art Centre bersama dengan seniman Jepang dan Asia Tenggara.

Pesertanya tak hanya berasal dari Indonesia saja, tapi seniman dari Thailand dan Jepang juga diundang untuk mengikuti residensi.

Seperti yang dimuat dalam situs The Aomori Contemporary Art, mereka akan menyajikan karya-karya terbaru yang menggabungkan antara kata kunci 'humor', 'bermain', 'hidup', 'masyarakat', dan 'berpolitik'. Serta menyelidiki hubungan antara kehidupan sehari-hari dengan semangat humor dalam masyarakat.

Khairani Barokka

Karya terbaru seniman Khairani Barokka pada 4-8 Agustus 2014 lalu digelar di Edinburgh Fringe, salah satu festival seni terbesar di dunia. Sebelumnya, ia sudah tampil di South Killburn Studio, London utara dengan karya berjudul 'Eve and Mary are Having Coffee'.

Karya tersebut merupakan kumpulan syair yang ditulisnya dalam kurun waktu tertentu. Saat pementasan, wanita yang akrab disapa Okka membacakan puisi yang diiringi dengan gerakan tubuhnya. Ia juga melumuri beberapa bagian tubuh dengan cat berwarna biru.

Okka banyak membicarakan tentang gender, disabilitas, dan perempuan muslim Indonesia. Usai tampil di South Killburn Studios banyak penonton yang mengapresiasi karyanya. Baginya, penampilannya adalah kesempatan emas.

"Saya merasa bangga bisa tampil di salah satu festival seni terbesar di dunia," katanya.

Mahardika Yudha

Seniman visual Mahardika Yudha menjadi salah satu peserta yang diundang dalam Seoul Media City (SeMA) yang digelar pada Agustus 2014 lalu. Video 'Sunrise Jive' menampilkan isu-isu sejarah-sosial-politik Indonesia.

Seperti panggung teater, catatan ini juga menjelaskan bagaimana para pekerja bekerja setiap pagi, bersama dengan kecanggungan dan penolakan aturan perusahaan.

Mahardika Yudha adalah koordinator divisi riset dan pengembangan di Forum Lenteng dan Ruang Rupa. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai festival film nasional dan internasional. Sebelumnya ia pernah berpartisipasi di Singapore Biennale (2013) dengan karya 'The Face of The Black River'.

Grace Siregar

Berawal dari perjalanannya belajar seni rupa di Belanda awal Maret 1996, seniman asal Sumatera Utara ini keliling dunia mengikuti pameran tunggal dan kelompok. Di akhir Mei 2014, Grace Siregar menggelar pameran tunggal yang bertajuk 'Losing It' di Institut Francais of Yaounde, Kamerun.

Grace mengambil ide dari puluhan cerek berwarna biru dan bermotif zebra. Ia datang ke Kamerun bersama keluarga kecilnya enam bulan lalu. Saat itu musim kering. Uniknya, cerek air tersebut berdesain zebra.

Tak hanya seni instalasi cerek air saja, namun Grace juga memamerkan karyanya yang berjudul 'Tranquility Reversed'. Artinya, kata dia, adalah seni yang menceritakan ke mana pun tempat dan suasana yang disinggahi pasti akan ada keindahan.

"Ini saya dapatkan di Kamerun, salah satu negara di Afrika yang membuat saya kerasan," ungkap seniman yang sudah menggelar pameran di Australia, Timor Timur, Belanda, Inggris, Sri Lanka, dan berbagai kota di Indonesia. Selain itu, April 2014, Grace juga mengikuti pameran bersama Biennale Kamerun.

Henry Irawan

Pada 19-20 April 2014, empat seniman yakni Saleh Husein, Henry Irawan, Kemal Riza Gibran, dan Mateus Bondan berpartisipasi dalam 'Roppongi Art Night 2014' di Mori Art Museum lantai 52, distrik Roppongi, Jepang.

Henry yang biasa dipanggil Batman mengatakan karya-karya mereka sesuai dengan tema 'Move Your Body' yang melibatkan interaksi para pengunjung. "Ada interaksi visual, audio, dan melibatkan mereka yang datang. Intinya ada movement," katanya beberapa waktu lalu.

Seperti karya digital print di atas kanvas yang dibentuk menjadi kolase dari 500 gambar-gambar lima artis ternama. Karya berukuran 300 x 200 sentimeter ini berbentuk kolase dengan latar belakang berwarna hitam dan putih. 
Halaman 2 dari 11
(tia/tia)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads