Spotlight

Dian Sastrowardoyo Ingin Kembangkan Perfilman Indonesia Berkaca dari Korea

Devy Octaviany - detikHot
Minggu, 10 Jan 2021 16:12 WIB
Dian Sastro di IFFAM 2019
Dian Sastro ingin perfilman Indonesia seperti Korea. (Foto: Instagram @therealdisastr)
Jakarta -

Dian Sastrowardoyo meyakini perfilman Indonesia tak hanya sekadar meramaikan sektor industri yang ada di Indonesia. Perfilman Indonesia dapat membantu menggerakkan roda ekonomi nasional.

Pada tahun 2016, industri perfilman dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Ini berarti sektor tersebut terbuka bagi penanaman modal asing.

Berkaca dari keberhasilan K-Pop yang membawa drama dan filmnya hingga musik digandrungi dan jadi perhatian banyak orang, Dian meyakini industri film Indonesia juga dapat sesukses Korea.

"Gue sudah bisa ngelihat bagaimana perfilman Indonesia sudah bisa kasih kontribusi buat roda ekonomi negara secara makro seperti bagaimana si orang Korea bisa menggerakkan ekonomi negaranya dengan K-Pop-nya, K-Drama-nya," kisah Dian Sastro dalam wawancara via zoom.

Kepopuleran Korea Selatan lewat K-Pop-nya diamati Dian Sastro berdampak pada sektor lainnya di negara tersebut.

"Karena orang-orang suka, mereka jadi beli handphone mereka, sampai suka makanannya," kisah Dian.

Untuk itu, aktris yang ikonik dikenal sebagai Cinta di AADC? ini berniat mengembangkan industri film tak hanya menjadi aktris atau pemain pemeran.

"Akhirnya gue mencoba masuk ke film, tapi nggak cuma jadi pemain saja, karena gue harus aktif masuk ke producing," ungkap Dian yang pernah vakum 6 tahun dari depan kamera.

Nougat dalam Quarantine Tales menjadi karya terbaru Dian dari belakang layar. Ia mengatakan, dirinya membawa kisah tentang keluarga yang ia kumpulkan memorinya dari sosok mendiang ayahnya.

Tak hanya itu, pandemi yang masih berlangsung sejak tahun lalu juga menjadi inspirasi besar bagi Dian Sastro dalam melahirkan karya filmnya ini.

"Ini film pandemi, tantangannya adalah gimana gue tetep bisa ngedirect mereka yang nggak ketemu secara fisik, aktingnya harus tetap sinkron. Itu tantangannya," ungkap Dian Sastro.

Dian membawa kisah 3 saudara kakak beradik yang berusaha dekat di tengah tekanan menjadi dewasa dan sudah tak lagi memiliki orang tua. Film ini digarap Dian di tengah situasi pandemi dengan protokol kesehatan di lokasi syuting.

"Yang pengin gue tampilin juga di film ini nampilin performance actor dengan split screen, karena biasanya kalau di film kan kita gantian nggak bisa tiga-tiganya barengan. Jadi tantangannya buat gue juga harus bikin si film ini jadi kayak tarian yang gerakannya sinkron banget gitu," tukasnya.

(doc/mau)