detikHot

spotlight

Karya Sastra dan Hubungannya dengan 'Black Mirror: Bandersnatch'

Kamis, 03 Jan 2019 16:30 WIB Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Karya Sastra dan Hubungannya dengan Black Mirror: Bandersnatch Foto: dok. imdb Karya Sastra dan Hubungannya dengan 'Black Mirror: Bandersnatch' Foto: dok. imdb
Jakarta - Meski 'Black Mirror: Bandersnatch' adalah film lepas, namun nyatanya ada beberapa karya sastra yang berhubungan dengan film tersebut.

Dikutip dari Vox, Kamis (3/1/2018), yang pertama adalah judul dari film 'Bandersnatch' yang berasal dari tokoh dalam karya Lewis Carroll. Bandersnatch pertama kali muncul dalam novel 'Through the Looking Glass' (1872) merupakan sekuel dari 'Alice in Wonderland'.

Bandersnatch kemudian juga muncul dalam puisi Lewis Caroll berjudul 'The Hunting of the Snark (An Agony in 8 Fits)'. Puisi tersebut menceritakan tentang karakter-karakter di 'Alice in Wonderland'.



Karena batasan antara realita dan fiksi begitu kabur dalam 'Bandersnatch', hal itu serupa dengan apa yang terjadi pada Alice dalam kisahnya bertualang di dunia paralel yang disebut Wonderland.

Bila Alice harus memutuskan sesuatu untuk menuju tempat lainnya, dalam 'Bandersnatch' beberapa pilihan pun selalu dihadapkan kepada para penonton.

'Looking-glass' dalam karya Lewis Caroll juga merupakan cermin yang ketika Alice melaluinya, ia tiba di dunia yang terlihat seperti apa yang dimilikinya namun kemudian ia menyadari bahwa dunia tersebut berbahaya baginya.

Bila kalian telah menonton 'Bandersnatch' tentunya akan mengerti di bagian mana dalam film hal tersebut berhubungan. Ada adegan dimana tokoh Stefan Butler (Fionn Whitehead) menembus cermin dan kembali ke masa kecilnya.



Karya sastra lainnya yang berhubungan dengan 'Bandersnatch' adalah novel karya George Orwell yang berjudul '1984' (1949). Hal tersebut adalah menjadi alasan mengapa tahun 1984 menjadi latar waktu dari film tersebut.

Padahal pada episode-episode 'Black Mirror' lainnya, hampir semuanya berada di masa yang akan datang atau masa depan yang berada di sekitar masa sekarang.

Baik '1984' dan 'Bandersnatch' keduanya adalah cerita distopia. Novel tersebut berkisah tentang masa depan (1984 adalah masa depan dari novel tersebut terbit pada 1949).

Dalam novel klasik itu, sebagian besar populasi dunia tunduk pada pengawasan dan propaganda pemerintah. Pemikiran independen pun dilarang dalam dunia yang diciptakan Orwell pada novelnya.

Di 'Black Mirror', tokoh-tokoh yang terdapat di dalamnya berada dalam pengawasan teknologi. Cerita-cerita dari seri Netflix tersebut berkisar di antara kisah tentang bagaimna teknologi mengawasi kita, merekam memori kita, dan menjadikan privasi kita hal yang bisa dikonsumsi publik dan dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Mirip bukan?



(srs/ken)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com