Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa

Spotlight

Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 03 Jul 2018 17:31 WIB
Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa
Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Ace House Collective menjadi ruang seni alternatif yang eksis di kota Yogyakarta. Berdiri sejak 2011 silam, project yang diselenggarakan kolektif ini pernah mengkritik pasar seni rupa yang ada.

Salah satu project yang diusung Ace House Collective yakni Ace Mart. Hadir sebanyak tiga kali, Ace Mart akhirnya ditutup saat gelaran Jogja Art Week beberapa waktu lalu.

"Ace Mart pertama bukan mengkritik Art Jog secara spesifik, tapi kami mengkritik pasar seni rupa yang terjadi dadakan di Yogyakarta khususnya," tutur salah satu pendiri Ace House Collective, Hendra 'Hehe' Harsono saat berbincang dengan detikHOT belum lama ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni RupaLewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa Foto: Tia Agnes/ detikHOT


Namun, Hehe menegaskan pihak Ace House Collective sendiri tidak menolak pasar.

Baca Juga: Menengok Ace House Collective, Ruang Seni Alternatif di Yogyakarta

"Kita nggak menolak pasar. Ace House berdiri karena generasi yang ada saat pasar booming seni rupa tahun 2003-an, itu gelombang ke-3 dan kita hidup juga dari karya," kata seniman yang pernah memajang karya di Art Paris Art Fair pada Maret 2015 silam.

Lewat project Ace Mart, pembacaan terhadap pasar seni rupa hangat diperbincangkan. Menurut Ace House, karya seni tidak bisa diukur dari nilai nominal saja.

"Orang-orang memanfaatkan momen Art Jog untuk berjualan. Tapi kritiknya sebenarnya banyak hal. Kita juga buka 24 jam yang menanalogikan kerja kreatif. Kita berhenti cuma karena tidur. Kita tidak pernah berhenti bekerja," katanya.
Lewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni RupaLewat Project Ace Mart, Ace House Collective Kritik Pasar Seni Rupa Foto: Tia Agnes/ detikHOT

Di tahun 2016, Ace House mencoba menggarap aplikasi Ace Mart, sayangnya project tersebut tidak terlaksana. Akhirnya, mereka membuka open submission. Yang mendaftar tak kira-kira, 173 seniman. Hehe menganggap ini adalah efek dari penyelenggaraan Ace Mart sebelumnya.

Denggan dibukanya Ace Mart yang harga karya-karya yang dijual pun harus terjangkau. "Ternyata banyak banget yang ikut. Ada juga Ace Mart Point yang jual makanan dan minuman dan karena bulan puasa jadi kayak sekalian ngabuburit."

Lambat laun Ace Mart dianggap mampu menciptakan ruang sosial baru. Di akhir penyelenggaraan pada 2017, Ace Mart pun ditutup. Tahun ini, Ace House membuka hasil evaluasi sebagai hasil project Ace Mart dan banyak fakta baru yang ditemukan.

"Misalnya di tahun 2015 ternyata kita minus Rp 5 juta tapi kok bisa bayar kontrakan. Hahaha...," cerita Hehe tertawa.

Bagi pecinta seni yang ingin menyambangi Ace House, kolektif ini berada di Jalan Mangkuyudan No.41, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Ingin tahu tentang project terbaru Ace House? Simak artikel berikutnya.

(tia/tia)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads