Film Tempo Dulu Tentang Perjuangan yang Wajib Ditonton

Ollivia Pratiwi - detikHot
Kamis, 17 Agu 2017 15:41 WIB
Foto: Film Tempo Dulu Tentang Perjuangan yang Wajib Ditonton (dok. ist)
Jakarta - Meskipun sempat mengalami mati suri di era 1990-an hingga awal 2000-an, ternyata perfilman Indonesia pernah berjaya ditahun 1980-an. Film-film yang mengangkat tema tentang perjuangan kemerdekaan pun kerap menghiasi layar lebar Tanah Air. Meskipun ada beberapa judul yang pernah diputar di televisi, tapi pasti ada film-film yang tidak kamu ketahui dan wajib kamu tonton.

Berikut film-film tempo dulu tentang perjuangan kemerdekaan yang mungkin bisa jadi pilihan!

1. Perawan di Sektor Selatan (1971)

[Gambas:Youtube]

Film yang disutradarai oleh Alam Surawidjaja ini mengangkat sisi lain dari kekejaman perang. Film ini berkisah tentang Laura yang diperankan oleh Farida Oetoyo. Laura memilih memihak Balanda karena sakit hati akan perlakuan gerilyawan republik yang menjadi penyebab kematian ibunya.

Laura pun diselundupkan menjadi mata-mata ke dalam pasukan Kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) di sektor selatan, yang terletak di pedalaman terpencil.

Laura menyamar sebagai kakak anggota pasukan yang ditawan Belanda. Menggunakan nama Fatimah, Laura berhasil mengadu domba antara Wira dengan Kobar (Lahardo). Ketika konflik internal pasukan tersebut memuncak, Laura pun mengundang pasukan Belanda untuk menyerbu.

2. Janur Kuning (1979)

[Gambas:Youtube]

Kembali disutradarai oleh Alam Surawidjaja film ini disebut film termahal pada saat itu. Dengan menghabiskan biaya sekitar Rp 375 juta, produksi 'Janur Kuning' sempat berhenti sebulan karena kehabisan biaya.

'Janur Kuning' sendiri mengisahkan tentang peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Film tersebut memunculkan banyak tokoh seperti Jenderal Sudirman, Sultan Hamengkubuwono IX dan Soeharto.

Film ini berfokus pada Soeharto yang merancang sebuah rencana berani untuk merebut kembali Yogyakarta sekaligus mengalahkan pasukan Belanda.

3. Serangan Fajar (1981)

[Gambas:Youtube]

Film ini disutradarai oleh Arifin C.Noer. Konsep film ini menggunakan penggambaran citra wayang untuk menunjukkan kepahlawanan.

'Serangan Fajar' juga menerima beberapa penghargaan dalam Indonesia Film Festival tahun 1982. Salah satunya adalah Best Pictures dan Best Original Story.

Mengambil setting Serangan Umum 1 Maret, 'Serangan Fajar' mengisahkan tentang dua keluarga yang menghadapi masalah pribadi mereka di tengah-tengah kekacauan perang. Temon, anak kecil yang kehilangan ayahnya dan harus tinggal bersama neneknya.

Dan ada, Romo seorang bangsawan yang berjuang untuk republik, sementara istrinya sibuk dengan anak perempuannya yang memiliki hubungan dengan pria biasa.

Film ini juga menggambarkan peristiwa-peristiwa patriotisme seperti penaikkan bendera Merah Putih di Gedung Agung dan penyerbuan markas Jepang di Kota Baru.

4. Kereta Api Terakhir (1981)

[Gambas:Youtube]

Film berdurasi 170 menit ini disutradarai oleh Mochtar Soemodimedjo dan dibintangi oleh Deddy Sutomo dan Gito Rollies.

'Kereta Api Terakhir' adalah sebuah film yang berkisah mengenai latar belakang gagalnya Perjanjian Liggarjati. Ketika markas besar tentara di Yogya memutuskan untuk menarik semua kereta api yang ada di Yogya.

Letnan Sudadi yang diperankan oleh Rizawan Gayo, letnan Firman yang diperankan oleh Pupung Haris dan sersan Tobing yang diperankan oleh Goti Rollies pun ditugaskan untuk mengawal kereta yang diberangkatkan dari stasiun Purwokerto.

Sudadi mengawal kereta pertama. Sedangkan Firman dan Tobing mengawal kereta terakhir. Perjalanan kereta terakhir ini dipenuhi oleh banyak hambatan. Mulai dari penumpang yang melebihi kapasitas hingga serangan Angkatan Udara Belanda.

5. Pasukan Berani Mati (1982)

[Gambas:Youtube]

Film yang disutradarai oleh Imam Tantowi ini melibatkan aktor-aktor terkenal seperti Roy Marten dan Barry Prima.

'Pasukan Berani Mati' sendiri berkisah tentang kota kecil yang direbut oleh Belanda. Pasukan Belanda dengan kejam menjatuhkan bom dan menyerang kota tersebut lengkap dengan persenjatahan yang canggih.

Kapten Bondan yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen menyatukan rakyat dengan pasukannya untuk menyusun rencana dan mengadakan serangan gerilya.

Namun, Belanda berhasil mengetahui tempat persembunyian pasukan tersebut dan melakukan penyerangan yang menyebabkan kematian Kapten Bondan.

Tersisa enam pasukan dan seorang penduduk yang secara spontan membentuk pasukan berani mati. Dengan gagah berani mereka menyerbu markas Belanda.


(dal/dal)