DetikHot

spotlight

Natasha Gabriella Tontey: Saya Membahas Ketakutan dalam Konteks Global

Selasa, 28 Feb 2017 16:37 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Natasha Gabriella Tontey: Saya Membahas Ketakutan dalam Konteks Global Foto: Istimewa/ Youtube
Jakarta - Nama Natasha Gabriella Tontey menjadi pembicaraan di sosial media lantaran karya yang diciptakan dalam pameran 'Little Shop of Horrors'. Menu tak biasa yang dihidangkannya menuai kritik publik sejak akhir pekan lalu.

Istilah 'Makan Mayit' yang merupakan perjamuan makan malam itu menyajikan camilan berbentuk janin, potongan-potongan boneka bayi, dan sajian horor lain. 'Little Shop of Horrors' sendiri sebenarnya adalah hasil residensi Tontey di Koganecho Bazaar, Yokohama, Jepang, dua tahun lalu. Di Jakarta, sajian tersebut telah berlangsung dua kali (28 Januari dan 25 Februari), dengan total partisipan 32 orang.

Seniman yang lulus dari Desain Komunikasi Visual (DKV), Universitas Pelita Harapan ini aktif mengikuti pameran kolektif di Jakarta, Yogyakarta, dan kota lainnya. Dia pun pernah mengikuti workshop fotografi di Galeri Jurnalistik Antara, dan lambat laun mulai mendalami seni rupa hingga kini.

detikHOT mewawancarai Tontey via surel pada Selasa (28/2/2017). Berikut penuturannya:

Kenapa perlu mengangkat tema kanibal dalam karya yang diciptakan?
Ini berhubungan dengan minat saya untuk membahas ketakutan dengan hal yang lebih global. Dimulai dari hal-hal kecil untuk membahas sesuatu yang lebih besar dan pertanyaan saya akan ketakutan itu sendiri. Mungkin ketakutan adalah suatu ciptaan oknum tertentu untuk mengontrol ketakutan lain, contoh paling dekat dengan kita adalah larangan dalam berbentuk ketakutan yang dibuat oleh orangtua terhadap anak, karena orangtua memiliki ketakutan tersendiri atau isu-isu hantu atau teror yang dibuat oleh oknum-oknum tertentu untuk mengontrol masyarakat. Mungkin begitu.

Sebenarnya isu ini menjadi ketertarikan saya sejak lama tapi baru tercapai di Koganecho, di mana saya membuat toko mainan yang menjual cerita-cerita fiksi hasil sejarah kelam daerah Koganecho yang saya campur dengan karakter hantu Jepang. Di situ mainan-mainannya dibungkus dengan kantung putih dan hanya ceritanya saja yang kelihatan, saya ingin menjual ketakutan orang Jepang kepada orang jepang dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan kepada tetangga sekitar sekaligus observasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat pada saat proses berkarya di sana.

Alasannya memilih model karya berupa bayi, mengapa? Kenapa tidak ambil bagian tubuh manusia dewasa lainnya?
Dalam membuat karya ini, saya menggunakan pendekatan fiksi dengan membuat cerita panti asuhan yang menjual bayi, di mana saya sebagai performer menjadi suster panti asuhan tersebut. Ini mengacu pada riset yang saya lakukan mengapa saya memilih anak-anak.

Bagaimana pandangan kamu tentang konsep 'kanibal'?
Konsep kanibal menurut saya tidak hanya mengacu pada membunuh, psikopat, dan memakan tapi hal yang lebih luas.

Publik juga membicarakan tentang pemakaian ASI dan keringat bayi, kenapa?
Saya ingin mempertanyakan hasrat kanibalistik dimulai dari mana? Karena ada konsep endocannibalism (praktik di mana orang memakan tubuh orang yang mati) dan saya terinspirasi dari fenomena sosial itu.

Ada satu asosiasi ibu menyusui yang memprotes karya karena mencatut nama mereka. Bagaimana tanggapannya?
Saya sudah membuat surat klarifikasi untuk AIMI Yogyakarta bahwa kami tidak ada hubungannya dan hanya kesalahpahaman.

Sejak awal bikin karya, apakah sudah terpikir akan mendapatkan respons seperti ini?
Sudah, tapi saya tidak menyangka sebesar ini, ketika acara ini berakhir malah menjadi heboh seperti ini, tapi sekarang orang malah menghujat karena belum membaca dan tidak menangkap konteks yang ingin saya sampaikan.

Banyak yang bilang Tontey dituduh psikopat, punya kelainan, cari sensasi?
Pada konsep, saya mempertanyakan apakah sifat psikopat itu dimiliki semua manusia, dan di dalamnya saya mempertanyakan lagi hakikat dari psikopat dan kanibalisme, itu saja.

Sebelum pameran juga pernah bilang ingin bereksperimen dengan persepsi publik atas kanibalisme lewat karyamu. Sekarang kan respons masyarakat beragam. Bagaimana tanggapan kamu?
Nah, seperti yang saya ceritakan di atas, waktu belum viral hal ini adalah eksperimen sosial, di mana saya mencari jawaban atas pertanyaan tadi. Dan sebenarnya hal yang saya lakukan juga bukan hal baru, ada minuman darah lucu-lucuan seperti yang dijual di bazar-bazar. Setelah peristiwa berakhir setelah 5 minggu pameran berlangsung, semua menuding saya psikopat dan sebagainya. Silakan dinilai sendiri bagaimana kesimpulannya.

Nama dan karya kamu sudah viral, tanggapan publik juga beragam. Bagaimana kamu menilainya?
Tujuan saya "semata memberikan tawaran pemikiran alternatif", "memicu dialog atau perdebatan", dan "membuka kemungkinan". Reaksi sosial masyarakat, negatif atau positif, itu bagian dari medan berkesenian.



(tia/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed