"Tema horor menjadi ketertarikan dan pertanyaan yang saya eksperimenkan lewat karya dari dulu. Minat saya dalam mengeksplorasi gagasan ketakutan sebagai tema dimulai dari hasrat saya untuk menceritakan kisah pribadi ke wacana publik yang lebih luas. Saya ingin mempertanyakan bagaimana rasa takut, teror, dan horor bisa diproduksi oleh kelompok tertentu untuk menghasilkan ketakutan di antara masyarakat untuk mengontrol perilaku dan kekuatan berlatih," ujarnya via surel kepada detikHOT, Selasa (28/2/2017).
"Pertanyaan ini juga memperluas ke lebih umum, seperti ketakutan yang tidak diketahui atau gagasan ketakutan itu sendiri. Apakah sebenarnya ketakutan? Mengapa manusia merasa takut? Apakah itu hanya tentang hidup dan mati? Ketakutan dan kadang-kadang takhayul pengawasan oleh manusia, atau bahkan ditolak," lanjutnya lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disitu mainan-mainannya dibungkus dengan kantung putih dan hanya ceritanya saja yang kelihatan, saya ingin menjual ketakutan orang Jepang kepada orang jepang dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan kepada tetangga sekitar sekaligus observasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat pada saat proses berkarya di sana," tutur Tontey.
Dalam waktu dekat, Tontey akan menggelar eksibisi di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, tahun ini.
Seperti apa penuturan hasil wawancara detikHOT dan Tontey? Simak artikel berikutnya!
(tia/mmu)











































