Lukman Sardi: Berhasil Jadi Sutradara Itu Seperti Multiple Orgasm

Spotlight

Lukman Sardi: Berhasil Jadi Sutradara Itu Seperti Multiple Orgasm

Adhie Ichsan - detikHot
Rabu, 07 Jan 2015 11:14 WIB
Lukman Sardi: Berhasil Jadi Sutradara Itu Seperti Multiple Orgasm
Jakarta - Bisa memainkan karakter dengan baik di film membuat aktor Lukman Sardi serasa klimaks. Tapi perasaan puas lebih jauh didapatkan apabila ia dinilai berhasil melaksanakan tugas sebagai sutradara.

"Memang saya punya keinginan sebagai sutradara, nggak cuma aktor. Istilahnya kalau meranin karakter berhasil itu seperti orgasm, kalau sebagai sutradara berhasil itu multiple orgasm," kata Lukman ditemui detikHOT baru-baru ini.

Aktor yang memerankan Bung Hatta di film 'Soekarno' itu saat ini memang baru menyelesaikan film 'Di Balik 98' yang dijadwalkan tayang 15 Januari mendatang. Film itu merupakan debutnya sebagai sutradara film panjang. Sebelumnya Lukman belajar membuat film pendek sambil tetap berakting.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan baru yang dirasakan Lukman jauh berbeda. Ketika duduk di kursi pengarah film ia terlibat dari keseluruhan proses produksi dari nol. Sementara ketika menjadi pelakon, Lukman hanya bertanggung jawab untuk menghidupkan karakternya.

"Aktor hubungannya dengan skrip, karakter, sutradara. Kalau sutradara berhubungan dengan semuanya, dituntut mampu meng-handle kru supaya mengarah ke visi yang sama," ujar pria kelahiran 14 Juli 1971 itu.

Lukman langsung mendapatkan kepercayaan besar dalam karya perdananya sebagai sutradara. Menurutnya, film 'Di Balik 98' melibatkan 220 kru dan ribuan ekstras, dengan latar cerita yang hampir diketahui seluruh rakyat Indonesia. Film ini adalah drama keluarga berbalut percintaan yang memiliki latar tragedi 98.

Ada beberapa karakter utama yang menjadi penggerak cerita di film ini. Dari sudut pandang mahasiswa ada Chelsea Islan dan Boy Williams, lalu Donny Alamsyah dan Fauzi Baadila di sisi militer, Verdi Solaiman dan Alya Rohali dari sudut pandang petugas rumah tangga istana, dan Teuku Rifnu Wikana yang mewakili rakyat kecil.

"Memang ada momen penting di 98 yang terjadi reformasi, tapi gue nggak mau terjebak. Kalau gue bermain di situ akan jadi sesuatu yang nggak baik untuk film ini, karena itu gue ingin menyampaikan sisi humanisme," bebernya.

Aktor yang beru beradu akting dengan Dian Sastrowardoyo di film drama komedi '7/24' itu mengatakan bahwa jika ingin mengungkap fakta sejarah, risetnya harus matang dan bisa dipertanggungjawabkan. Ia sendiri berharap suatu saat akan ada filmmaker yang berani membuatnya.

"Dari awal gue bilang ke Affandi Rahman (produser) film ini harus netral. Ada disodorkan data dari sumber si A, gue nggak mau telan mentah-mentah. Cari sumber lain dari lawannya," kata aktor yang sudah membintangi lebih dari 50 judul itu.

Ada kejadian lucu yang dialami Lukman ketika dia sedang memikirkan konsep dan tanggung jawab yang diemban sebagai sutradara. "Perjalanan pulang (meeting) gue nyasar, harusnya ke Jakarta Barat tapi malah berada di Pancoran. Gue bengong," katanya seraya tertawa.

(ich/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads