Katakanlah dengan Film Dokumenter!

JIFFest 2010

Katakanlah dengan Film Dokumenter!

- detikHot
Jumat, 03 Des 2010 08:56 WIB
Katakanlah dengan Film Dokumenter!
Jakarta - Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2010 dibuka dengan film dokumenter dari Amerika Serikat. Sejumlah film dokumenter karya sineas
Indonesia pun premiere di ajang yang digelar sejak 25 November hingga 5 December itu. Tentu saja, film dokumenter bukanlah hal yang asing di JIFFest. Namun, tahun ini memang lebih terasa gairahnya. Sebab, bukan hanya karya sineas yang sudah relatif dikenal saja yang diberi tempat, melainkan juga dari para pemula.

Syafaat Ladanu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena karya dokumenter pendek pertamanya mendapat kesempatan untuk diputar perdana di JIFFest. Dengan emosional ia berdiri di hadapan penonton di Blitzmegaplex, Pasific Place, Senin (29/11/2010) lalu. "Sudah lama saya mencari media untuk menyuarakan kemarahan saya pada apa yang terjadi di tanah kelahiran saya, agar di dengar oleh orang-orang yang ada di pusat," katanya.

Ia datang dari Parigi, Sulawesi Tengah. Filmnya yang berjudul 'Menambang di Piring Petani' (20 menit) diputar bersama 3 film pendek lainnya di
bawah judul 'Setelah Badai Mereda'. Tiga film lainnya itu masing-masing 'Serupa Tapi Tak Sama' (15 menit) karya Dewi Yanti, 'Tadulako Mild' (15 menit) karya Nur Soima Ulfa dan 'Senandung Ikan Baru' (25 menit) karya bersama Nurhuda dan Wahdania.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka adalah peserta workshop 'Kickstart' yang diselenggarakan di Palu oleh In-Docs bekerja sama dengan Rumah Ide Makassar dan JALIN Palu serta didukung oleh USAID-Serasi dan Ford Foundation. "Mereka benar-benar para pemula, dalam arti belum pernah memegang kamera sebelumnya, dan Anda semua bisa melihat hasilnya," ujar Direktur In-Docs Chandra Tanzil.

Hasilnya memang cukup membanggakan untuk para pemula yang berasal dari beragam latar belakang. Dewi Yanti misalnya, adalah seorang guru honorer yang mengajar di sebuah SMK. Karyanya, 'Serupa Tapi Tak Sama' dengan jeli merekam ketabahan seorang ibu yang dengan dengan riang dan sabar mengasuh anaknya yang menderita down syndrome. Sementara Nurhuda dan Wahdania, keduanya mahasiswa, mendokumentasikan kemiskinan yang membelit anak-anak kampung nelayan, bagaimana orangtua mereka menyikapinya, berkaitan dengan kelangsungan pendidikan anak-anak itu.

Nur Soima Ulfa yang masih kuliah di Universitas Tadulako membuka "borok" kampusnya sendiri yang para petingginya melakukan "kongkalikong" dengan sebuah perusahaan rokok. Sehingga, wajah kampus itu menjadi belepotan penuh iklan sampai ke sudut-sudutnya. Dengan memasukkan unsur-unsur animasi yang sederhana, Nur mengemas filmnya menjadi komedi satir yang penuh gejolak amarah. "Saya kesal sekali, mereka mengubah tampilan kampus menjadi serba merah, dengan logo rokok di mana-mana," katanya.

Dengan amarah yang sama, Syafaat Ladanu mengikuti perjuangan sekelompok petani di kampungnya menghadapi kekuatan perusahaan tambang yang diizinkan oleh pemerintah untuk mengeksplorasi sawah-sawah mereka.Β  Dia menggambarkan bagaimana lahan-lahanΒ  itu, setelah ditambang ditinggalkan dalam keadaan yang sudah "mati", dalam arti tak bisa ditanami lagi. Dengan film-film dokumenter pendeknya, anak-anak muda yang tinggal jauh dari Jakarta itu telah mengatakan sesuatu yang ingin mereka katakan.

Kickstart! Palu 'Setelah Badai Reda' adalah satu dari beberapa karya dokumenter yang premiere di JIFFest. Pada Minggu (28/11/2010), film
'HopHopDiningrat' misalnya, mendapat sambutan hangat dari penonton. Garapan Muhammad Marzuki dan Chandra Hutagaol sepanjang 65 menit itu merekam sebuah propes akulturasi budaya yang unik yang terjadi Yogyakarta. Yakni, pertemuan antara tradisi Jawa dan kultur hiphop yang melahirkan produk kesenian kontemporer.

Film dokumenter lain yang juga mendapat perhatian luas adalah 'Working Girls' yang diputar Rabu (1/12/2010). Memuat 3 karya dari 5 sutradara, film ini bercerita tentang perempuan-perempuan yang mencari nafkah untuk menghidupi diri, keluarga dan bahkan membawa perubahan bagi orang-orang sekitar mereka. Sedangkan Kamis (2/11) JIFFestΒ  memutar film dokumenter karya Tony Trimarsanto, 'Di Ujung Jalan'. Film ini mengisahkan keluarga-keluarga di Flores yang kehilangan anggotanya yang merantau ke Malaysia.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads