Lukman Sardi: Filmmaker Harus Balance Cari Duit & Kualitas

Lukman Sardi: Filmmaker Harus Balance Cari Duit & Kualitas

- detikHot
Rabu, 05 Mei 2010 18:06 WIB
Lukman Sardi: Filmmaker Harus Balance Cari Duit & Kualitas
Jakarta - Geliat perfilman Indonesia dibarengi dengan pro kontra banyaknya film berbumbu seks. Lukman Sardi pun bicara soal idealisme dan menjaga kualitas film.

Kekhawatiran dirasakan bintang 'Merah Putih' itu melihat banyak film Indonesia yang tidak mengedepankan cerita. Mereka menjual sensasi untuk mencari keuntungan.

Namun bukan hanya pelaku film saja yang patut dipertanyakan. Selama jumlah penonton film tersebut masih membludak, maka industri akan terus menyediakan film tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut wawancara dengan Lukman saat ditemui dalam jumpa pers film terbarunya 'Aku dan Dia' di Jl Pasuruan, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/5/2010).

Apa tanggapan Lukman dengan banyaknya film berbumbu seks yang dianggap merupakan kemunduran bagi dunia film?

Kalau menurut gue kita harus melihatnya dengan bijaksana. Kenapa film seperti itu dibuat. Kalau nggak ada penontonnya nggak mungkin film itu dibuat. Produser film itu nggak hanya melulu harus mikir idealisme film, tapi gimana dia bisa bikin film lagi ya dia butuh uang.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Menurut gue hal yang paling ampuh untuk meredam itu ya penontonnya yang harus mengerti mana tontonan yang harus ditonton, mana yang tidak. Selama penontonnya banyak, selama animo masyarakat besar, mereka akan selalu terus bikin film itu.

Dari sisi produsernya juga punya kesadaran untuk bikin sesuatu yang membuat penonton itu terdidik nggak sekadar hanya sisi komersial aja yang ditonjolin. Harusnya balance-lah. Empat film dia bikin untuk cari duit, dua film dia bikin yang berkualitas dan edukasinya sampai.

Apakah Lukman termasuk orang yang selektif dalam memilih peran?


Bukan selektif, gue menjaga apa yang udah gue bangun dari awal. Dengan keseriusan gue dengan kegiatan gue, tidak habis begitu aja. Gue ingin memberikan sesuatu yang baik untuk anak cucu gue. Gue pernah main film ini, film itu.

Tidak pernah berlaga dalam film horor, apakah Anda menganggap film dengan genre tersebut jelek?

Bukan berarti gue anggap film horor itu jelek, banyak film horor yang bagus. Kalau gue lebih mementingkan cerita, karakter. Yang selama ini kita lihatkan kalau ngomongin genre horor, ya mereka hanya mikir gimana film horor itu bikin takut. Kaget. Sebenarnya kan bisa dibikin lebih bagus dengan jalan ceritanya dikuatin, karakternya dikuatin. Film luar banyak film horor bagus-bagus.

Soal kontroversi menjadi bagian dari promosi film?

Selama rumus seperti itu masih berhasil, dia (produser) akan pakai terus. Jadi benar-benar harus ada penolakan dari masyarakat. "Eh gue udah pinter, jadi loe nggak bisa pakai rumus-rumus kontroversi kayak gitu lagi". Jadi sekarang di masyarakat Indonesia itu harus jadi kontroversi dulu. Semua jadi kontroversi. Jadi masyarakatnya sendiri yang harus menolak, dengan begitu mereka akan mencari rumus baru dan dari segi marketingnya jangan begitu lagi, begitu lagi.

Promosi kayak gitu kacangan nggak?

Gue nggak bisa bilang kacangan. Kalau bicara pure bisnis, dia berhak melakukan apa saja, terlepas dari itu dosa apa nggak. Tapi itu pilihan dia atau hak dia mau dibilang kacangan atau nggak, biar orang yang menilai. Kalau teori seperti itu masih berhasil, ya mereka pasti akan pakai itu terus.

Apa tolak ukur film berkualitas menurut Lukman sebagai aktor?


Kalau gue sebagai aktor, tolak ukur film berkualitas itu bukan berarti gambar harus bagus. Cerita harus bagus itu pasti. Tapi ini kan kerja satu tim. Di dalamnya ada seni musiknya, seni gambar, segala macam. Jadi bagaimana film itu terangkum jadi satu yang bisa memberikan semacam pemikiran baru. Mau itu enteng atau berat terhadap penontonnya. Misalkan sang penonton sedang sedih, habis nonton sebuah film jadi gembira. Menurut gue itu film yang baik.

Bagaimana dengan moral yang dibawa film?

Kita jangan ngomong moral lah. Gue suka cape kalau ditanya, moral film ini apa, moral film itu bagaimana. Yang penting adalah bagaimana film itu jadi media hiburan yang bisa memotivasi orang. Mau pilih mana. Mau bikin film sebagai media hiburan yang bikin orang jadi lebih baik atau lebih hancur. Itu aja.

(yla/iy)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads