Kate: Bak Bik Buk Melawan Yakuza

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 11 Sep 2021 18:02 WIB
Kate tayang di Netflix.
(Foto: dok. Netflix) Ini film tentang Kate, seorang pembunuh bayaran yang diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead, yang balas dendam. Meski terdengar basic, film ini memuaskan.
Jakarta -

Kate adalah film action yang tahu dirinya basic. Judulnya saja sudah spoiler.

Ini film tentang Kate, seorang pembunuh bayaran yang diperankan oleh Mary Elizabeth Winstead, yang balas dendam. Sebuah premis yang sangat klasik bukan? Tapi rupanya, meskipun ia terdengar sangat basic di atas kertas, hasilnya lumayan memuaskan.

Mengambil setting di Jepang, penonton berkenalan dengan Kate saat dia diberi misi untuk membunuh seorang target. Varrick (Woody Harrelson), bos sekaligus kolega sekaligus figur keluarga dalam hidupnya memperingatkannya untuk selalu berhati-hati. Kate selalu berhati-hati. Ia selalu berhasil melaksanakan misi, tidak pernah gagal membunuh targetnya.

Ketika ternyata sang target keluar dari mobil bersama anaknya, Kate gelisah. Ini tidak etis. Selama ini selalu ada peraturan "tidak boleh ada anak-anak" saat bekerja. Tapi bos Kate tetap memaksa. Dan Kate pun akhirnya menekan pelatuk pistolnya dan targetnya pun tewas di depan anaknya. Hal ini ternyata mempengaruhi Kate yang dari kecil memang tidak punya hubungan keluarga. 10 bulan setelah kejadian tersebut, Kate meminta untuk berhenti. Dia, untuk pertama kalinya, ingin menjalani hidup normal.

Tentu saja Kate tidak tahu bahwa pengunduran dirinya sama saja dengan cari mati. Hari itu sebelum dia diutus untuk melaksanakan tugas akhirnya, Kate diracun dan dia akan mati dalam 24 jam. Apa yang akan dia lakukan dengan sisa waktunya? Balas dendam tentu saja.

Skrip yang ditulis oleh Umar Aleem mengikuti semua protokol film action bertemakan "pembunuh bayaran balas dendam". Kalau Anda merasa bahwa Kate terasa seperti John Wick ketemu Crank ya itu karena memang premisnya mirip dengan Crank (harus adrenalin terus supaya jantungnya tetap berdetak) dan secara style dia memang mirip John Wick. Apalagi karena dia memang dibuat oleh produser John Wick, kemiripan itu tidak bisa dihindari.

Tapi sutradara Cedric Nicolas-Troyan punya beberapa trik untuk membuat Kate tetap enak dinikmati meskipun semua yang ada di layar adalah klise.

Pertama dia punya Mary Elizabeth Winstead yang lebih dari totalitas untuk mengikuti apa yang Nicolas-Troyan mau. Mary Elizabeth Winstead yang mungkin pernah Anda simak di 10 Cloverfield Lane dan Birds of Prey, punya kemampuan untuk menarik perhatian. Selain sangat kharismatik, Mary Elizabeth Winstead sangat ahli dalam menggali emosi. Bahkan dengan karakterisasi yang tipis, ia tetap bisa membuat saya peduli dengan nasib karakter yang ia perankan. Dan dalam film ini, ia membuktikan bahwa kemampuan fisiknya lebih dari mumpuni untuk menjadi bintang action. Seperti yang sudah ia tunjukkan dalam Birds of Prey, ada beberapa adegan action dalam Kate yang sangat mempesona, Winstead terlihat seperti sedang kesurupan. Chemistry-nya dengan newcomer Miku Martinaeu juga menjaga film ini agar tetap fresh.

Rahasia Nicolas-Troyan yang kedua adalah adegan aksinya. Tentu saja sebagai film aksi dewasa, porsi gebuk-gebukannya harus sanggup memuaskan dahaga penggemar film sejenis. Dan Kate tidak mengecewakan. Adegan aksinya lumayan seru dan sangat stylish. Dan karena ini dibuat untuk penonton dewasa, maka bersiaplah untuk melihat adegan pertarungan yang sangat grafis. Kalau Anda menyukai adegan pisau ditusuk lewat leher dan tembus sampai hidung, maka ini adalah film buat Anda.

Terakhir, yang mempesona dari Kate adalah visualnya. Lanskap Tokyo memang sudah sinematik duluan. Di tangan sinematografer Lyle Vincent, Tokyo menjadi sangat eksotis dan modern. Mungkin visualnya terlalu kebanyakan neon tapi setidaknya tidak ada satu pun gambar Kate yang membosankan. Meskipun secara plot film ini hanya bercerita dalam satu malam, tapi tidak ada satu pun setting atau adegan yang terasa boring. Semuanya terlihat menarik dan cool.

Kate dapat disaksikan di Netflix.

-

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)