Kejar Jakarta: Propaganda 'Jangan Datang Jakarta!'
Senin, 26 Des 2005 12:35 WIB
Jakarta - Berusaha menyamakan dengan judulnya, film garapan PT Eurika itu memulai 'Kejar Jakarta' dengan adegan kejar-kejaran. Seorang pemuda berkemeja merah muda dikejar segerombolan orang berbadan besar. Pemuda tersebut selamat setelah ditabrak mobil dan ceritapun dibuat mundur menjadi 3 minggu sebelumnya.Tiga minggu sebelumnya adalah pertamakali Ujang (Da'an) menginjakkan kakinya di Gambir. Pemuda bertampang plongo tersebut datang dari pelosok Bandung dan berniat mengadu nasib di Jakarta. Tujuan awalnya adalah rumah teman sekampungnya, Dadan, yang konon katanya telah sukses di Jakarta.Seperti film tahun 80-an, Ujang mencari kediaman Dadan menggunakan taksi. Di dalam taksi, ia mengamati Jakarta dan mengungkapkan kekagumannya pada kota besar tersebut. Entah bodoh atau tidak belajar di sekolah, ia bahkan mengira Jakarta itu masih bagian dari Bandung.Setelah dikerjai supir taksi, Ujang diturunkan di daerah di mana Dadan tinggal. Apartemen yang menjulang tinggi dikiranya rumah Dadan. Ia harus menerima kenyataan bahwa rumah kawannya tersebut hanya di kampung kumuh tepat di belakang bangunan megah tersebut.Hidup di Jakarta, Ujang lebih digambarkan sebagai orang bodoh ketimbang lugu. Ketika di ajak Dadan menjadi polisi, ia mengiranya benar begitu. Padahal, ia dan Dadan hanya menjadi 'preman cepek' mengatur lalu-lintas di pertigaan yang padat mobil. Keesokannya dia diajak menjadi politikus, padahal, ikut demo yang mengharapkan amplop. Aksi pembodohan dan kebodohan itu pun terus berlangsung hampir setengah film. Namun pesan yang disampaikan patut dipertimbangkan bagi kaum urban di Jakarta.Film besutan dua sutradara Chandra dan Bayu Sampurno tersebut cenderung membosankan. Bertahan hanya 20 menit awal, pantat rasanya ingin segera beranjak meninggalkan bioskop. Padahal, film ini berdurasi 110 menit.Kehadiran Project P yang harusnya mengocok perut agar film 'propaganda' ini tidak membosankan nyaris tak ada. Kelucuan Denni baru muncul jelang film berakhir. Sementara personel Project P lainnya kurang mengeluarkan banyolan segar. Intinya, sebagai tontonan komedi film ini kurang sukses memancing tawa penontonnya.Malah, Wulan Guritno yang memperlihatkan akting cukup baik. Sebagai Dewi, peran istri kesepian sukses dijalaninya. Sementara Melanie Putria yang berperan sebagai Neng, minim dialog. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya "A'a.." Detil film ini juga cukup mengganggu mata. Salah satu contohnya Tika Panggabean. Sebagai penjual nasi di kampung kumuh, sutradara tidak menyuruhnya melepas kawat gigi yang terbilang cukup mahal. Dan melalui SMS yang dikirimkan kepada Da'an, Tika berkilah. Honor tidak cukup untuk membayar ongkos bongkar pasang kawat giginya. (ana/)











































