detikHot

Hot Review

'Tigertail': Bertamasya ke Masa Lalu

Minggu, 19 Apr 2020 21:00 WIB Candra Aditya - detikHot
Tigertail Foto: (dok. imdb.)
Jakarta -

Jika Anda mencintai komedi, nama Alan Yang mungkin bukan nama yang asing. Dia adalah salah satu penulis dari serial 'Parks and Recreation'. Dia juga menjadi produser serial 'The Good Place' dan sempat menghasilkan 'Forever' dengan bintang Maya Rudolph dan Fred Armisen untuk Amazon.

Tapi yang membuat namanya melambung adalah serial 'Master of None' (yang juga tersedia di Netflix). Dikerjakan bersama dengan sang bintang utama Aziz Anzari, 'Master of None' tidak hanya berhasil menggambarkan tentang struggle percintaan millenial di zaman yang baru ini tapi juga perjalanan seorang imigran di Amerika.

Salah satu episode 'Master of None' yang paling dibicarakan adalah ketika Yang dan Anzari membahas tentang perjalanan orang tua mereka dari asal mereka (India dan China) ke Amerika. Kegelisahan ini nampaknya masih belum selesai dibahas oleh Yang karena debut penyutradaraannya layar lebar yang tayang di Netflix, Tigertail, masih membahas soal kisah ini.

'Tigertail' diceritakan dengan non-linear. Kita melihat kontras seorang karakter bernama Pin-Jiu (Hong Ching-Lee ketika remaja dan Tzi Ma ketika dewasa). Dari awal film kita melihat narasi Pin-Jiu, seorang bocah tanpa orang tua yang dibesarkan oleh neneknya. Kadang dia harus bersembunyi di dalam lemari ketika tentara datang memeriksa warga negara yang tidak resmi. Pin-Jiu memiliki cinta pertama.



Tapi dia memilih untuk meninggalkan cinta tersebut dan juga neneknya karena ada kesempatan untuk pergi ke Amerika. Pin-Jiu muda memiliki optimisme yang sangat menular. Dia menari di tengah restoran. Dia berdansa dengan wajah ceria. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Hari esok adalah sesuatu yang dinanti dan masa depan adalah sebuah harapan yang indah.

Bertahun-tahun kemudian Pin-Jiu berubah menjadi laki-laki paruh baya yang lebih banyak diam. Ada banyak cerita dalam hidupnya tapi dia memilih untuk diam. Hubungannya dengan istrinya, Zhenzhen (Fiona Fu), hanya tinggal sejarah. Dan interaksinya dengan anaknya Angela (Christine Ko) hanya sebatas basa-basi atau argumen yang tidak pernah selesai. Penyesalan membayangi wajah Pin-Jiu. Dan dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

'Tigertail' menurut info terinspirasi dari kisah nyata Alan Yang sendiri. Kalau Anda berharap bahwa 'Tigertail' akan seperti episode 'Master of None' yang penuh dengan warna-warni indah, Anda mungkin akan kaget kalau menemukan bahwa film ini sangat serius. Isinya adalah rangkaian adegan yang kadang bisu dan penuh kerinduan.

[Gambas:Youtube]





Dalam debut penyutradaraannya ini (Alan Yang juga menulis dan memproduseri 'Tigertail'), Yang agak gagap dalam bercerita. Ada sesuatu yang sepertinya kurang mulus dalam menceritakan kisah ini. Ada sedikit yang menjanggal. Meskipun para aktornya bermain dengan cukupan (terutama Tzi Ma yang bisa menampilkan rasa penyesalan dengan spektakuler tanpa banyak cakap), dramanya kurang nendang.

Tapi kegagapan Yang dalam segi skenario bisa diobati dengan treatment-nya sebagai sutradara. Yang jelas tumbuh dengan banyak film-film Asia. Influence para pembuat film Asia seperti Wong Kar Wai bisa Anda rasakan dalam film ini. Film ini terasa sekali magisnya ketika ia tidak berbicara banyak. Ketika Yang menampilkan rutinitas dan perasaan rindu terhadap masa lalu. Adegan-adegan tersebut hidup di layar.



Salah satu hal yang sangat membantu 'Tigertail' untuk menjadi sebuah tontonan yang sangat melankoli adalah visualnya yang apik. Sinematografer Nigel Bluck membagi film ini dalam dua era. Masa kini disyut dengan digital sementara masa lalu disyut dengan 16mm. Dan percayalah, grain yang Anda lihat ketika Tigertail menyoroti perjalanan Pin-Jiu di masa lalu menjadikan momen-momen tersebut terasa indah. Agak sedikit pilu tapi tetap indah.

'Tigertail' memang bukan film yang sempurna. Tapi film ini menjadi pembuktian bahwa Yang tahu bagaimana cara mengemas sebuah cerita. Jika Anda berminat untuk melihat satu dari banyak kisah imigran di luar sana, film ini patut dijajal.

'Tigertail' dapat disaksikan di Netflix

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.




Simak Video "'The Invisible Man', Menegangkan dan Penuh Kejutan"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com