Ulasan Film

'1917': Perang Adalah Neraka

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 25 Jan 2020 11:20 WIB
Foto: Dok. Universal Pictures
Jakarta -

Salah satu film jagoan Oscar dari sutradara 'American Beauty dan Skyfall (dan juga Spectre)', '1917' adalah film yang harus Anda saksikan di bioskop untuk merasakan gegap gempitanya.

Ini adalah, salah satu jenis film yang rasanya akan 100 kali lipat lebih maksimal jika Anda menyaksikannya di layar besar dengan tata suara yang canggih. Rasanya tidak akan sama jika Anda menontonnya di komputer, televisi atau bahkan di ponsel Anda.

'1917' mempunyai premis yang sangat sederhana. Ceritanya terjadi pada tahun 1917 ketika Perang Dunia I terjadi. Dua tentara Inggris yang masih kinyis-kinyis, diminta untuk mengantarkan pesan untuk mundur dari posisi mereka besok. Dua tentara muda ini, Schofield (George MacKay) dan Blake (Dean-Charles Chapman), diminta untuk membawa pesan ini kepada kepala batalion kedua dari Regimen Devonshire.

Intel dari Inggris mengatakan bahwa Jerman mundur karena mereka akan menyergap mereka. Jika Schofield dan Blake berhasil melakukan tugasnya, mereka akan menyelamatkan 1600 nyawa. Maka, berangkatlah mereka berdua untuk membawa pesan tersebut. Yang tentu saja tidak semudah kelihatannya.

Setup sederhana ini, kemudian menjadi sebuah spektakel yang menggelegar ketika Sam Mendes dengan sinematografer pemenang Oscar Roger Deakins (melalui 'Blade Runner 2049') membungkus '1917', menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan emosi.

'1917' diiklankan sebagai film yang dipersembahkan seolah-olah tidak ada editing. Seolah-olah tidak ada adegan terputus. Jadi penonton menyaksikan aksi dua orang ini tanpa henti (kecuali satu adegan yang tidak akan saya sebutkan untuk membuat Anda semakin nikmat menontonnya nanti) dari awal film sampai akhir film.

Cara ini ternyata efektif. Karena '1917', menjadi terasa lebih real dan menyeramkan dengan kamera yang mengikuti mereka tanpa putus. Penonton sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu menelaah konteksnya lebih dalam.

Bahaya ada di mana-mana. Ranjau ada di mana-mana. Mereka bisa saja mati ditembak kapan saja. Tentara Jerman bisa jadi bersembunyi. Cara Sam Mendes dan Roger Deakins, mempersembahkan film ini dengan ilusi seolah ini adalah sebuah satu kesatuan menjadikan '1917' terasa seperti film horor. Dan itu adalah hal terbaik untuk menggambarkan sebuah perang.

'1917': Perang Adalah NerakaFoto: Dok. Universal Pictures

Untuk menjadikan momen kedua karakter ini terasa seperti sedang berada dalam perang beneran, Sam Mendes mengajak komposer Thomas Newman untuk membuat adegan demi adegan terasa mencekam. Thomas Newman tidak mengecewakan Sam Mendes. Musiknya benar-benar menghantui dari awal sampai akhir.

Dan ketika Sam Mendes butuh momen untuk membuat penonton tersentuh, Newman memberikan musik-musik melankolis untuk memeras emosi penonton. Saking bagusnya musik Newman, ada beberapa adegan yang terasa dimana Sam Mendes terlalu bergantung kepada musiknya untuk mengatur emosi penonton.

'1917' tidak akan menjadi semenggelegar ini tanpa tangan dingin Roger Deakins dan juga production designer Dennis Gassner. Roger Deakins membuat '1917' tampak mewah dan raksasa. Gerakan kameranya benar-benar halus dan mengesankan.

'1917': Perang Adalah NerakaFoto: Dok. Universal Pictures

Ketika si karakter utama terjebak di Ecoust pada malam hari dan penonton bersama karakter utamanya harus menyaksikan berbagai "kembang api" dari ledakan api, '1917' terasa seperti sebuah fever dream yang sangat buruk. Visual yang dilukis oleh Deakins juga didukung oleh desain produksi dari Gassner yang sangat telaten.

Untuk mengakomodir adegan Sam Mendes yang dibuat tanpa henti, Gassner harus membuat parit dan medan perang yang terlihat sangat meyakinkan. Hasilnya adalah sebuah pemandangan perang yang sungguh, sungguh luar biasa. Ditulis oleh Sam Mendes dan Krysty Wilson-Claims, '1917' sayangnya tidak semenggelegar teknisnya.

Bukan berarti film ini buruk. Sama sekali tidak. Tapi, film ini agak hampa karena hampir tidak ada urgency yang penonton rasakan karena setelah beberapa saat, '1917' terasa seperti sebuah video game. Hal ini adalah akibat karakterisasi dua karakter utama yang agak kosong. Selain baik hati dan tidak gampang menyerah, susah untuk menggambarkan Schofield dan Blake. Kehampaan karakter utama inilah yang akhirnya membuat '1917' agak terasa nihil.

Dan karena film ini didesain agar penonton merasakan aksi karakter utamanya tanpa henti, film ini juga terasa agak artifisial ketika sang karakter utama harus mengisi adegan dengan berbagai dialog dan konflik yang tidak relevan dengan isi utamanya. Seperti momen sebelum Schofield berlarian di Ecoust dan bertemu dengan perempuan Perancis.

Sam Mendes menggunakan untuk meredakan tensi sebelum dia membawa karakter utamanya ke teror. Tapi ketika Mendes menggunakannya untuk menunjukkan kemuliaan karakter ini dengan extravaganza, '1917' jadi kehilangan momen.

Dan itu kemudian diakhiri dengan klimaks film yang mungkin akan membuat Anda nyeletuk, "Udah, gitu aja?" Meskipun plotnya lumayan tipis dan setelah selesai menonton dan Anda menonton Dunkirk lagi dan teringat bahwa film Nolan jauh lebih superior, '1917' tetap harus Anda saksikan di bioskop.

Presentasi menggiurkan Sam Mendes dan Deakins dalam film ini terlalu keren untuk dilewatkan begitu saja. Cari bioskop dengan layar terbesar di kota Anda dan rasakan betapa rusuhnya medang perang.

'1917' dapat disaksikan di jaringan CGV, Cinepolis dan Lotte Cinema

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'1917' Menang Besar, Ini Daftar Pemenang BAFTA 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(wes/wes)