detikHot

Hot Review

'Scary Stories To Tell In The Dark', Cerita Seram Yang Jadi Nyata

Sabtu, 10 Agu 2019 11:25 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: IMDb Foto: IMDb
Jakarta - Cerita seram adalah sebuah cerita yang universal. Ingin tahu bagaimana cara memecah kesunyian dan membuat suasana menjadi akrab? Mulailah menceritakan cerita-cerita seram. Semua orang akan langsung fokus kepada Anda. Sebelum tidur, saat berkemah, saat lampu mati atau bahkan saat menginap bersama teman. Menceritakan tentang hal-hal seram ternyata menjadi sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan.

Kenapa kita menyukai cerita-cerita seram? Padahal kenyataannya kebanyakan dari kita tidak ingin merasakan secara langsung cerita-cerita seram tersebut. Seperti menonton film horor, mendengarkan dan berbagi cerita seram bisa menjadi hiburan tersendiri. Ada sensasi yang sungguh memabukkan ketika kita bisa merasakan sedikit aliran adrenalin berenang di pembuluh darah kita. Bisa membuat bulu kuduk merinding ternyata adalah candu.

Buku karya Alvin Schwartz yang sangat klasik dengan judul Scary Stories To Tell In The Dark mungkin memang tidak terkenal di Indonesia. Sebagai sebuah buku horor untuk remaja dan anak-anak, ia kurang terkenal dengan serial Goosebumps karya R. L. Stine. Tapi ia tetap legendaris. Banyak orang menyukai dan tetap merayakan kehadirannya. Dan ternyata buku legendaris tersebut berada di tangan yang tepat karena adaptasi Scary Stories To Tell In The Dark adalah sebuah tontonan yang sangat menghibur.

Dalam film ini kita diajak untuk bermain-main di sebuah kota kecil di Amerika pada tahun 1968. Anda bisa membayangkan semuanya. Sedang ada pemilu di Amerika Serikat. Tidak ada ponsel apalagi sosial media. Anak-anak mudanya berkomunikasi dengan radio dan menghabiskan waktunya dengan bersepeda. Bioskop drive thru sangat digemari para anak muda. Dan karena kebetulan malam tersebut adalah malam Halloween, maka kelima karakter utama kita memutuskan untuk memasuki sebuah rumah tua.

Stella (Zoe Colletti), Ramon (Michael Garza), Auggie (Gabriel Rush), Chuck (Austin Zajur) dan Ruth (Natalie Ganzhorn) masuk ke dalam rumah Sarah Bellows, sebuah urban legend kota mereka. Kabarnya Sarah Bellows dikurung di basement rumahnya karena dia meracuni anak-anak. Selain menghindari dari si bully Tommy (Austin Abrams), kelima bocah ini terpana dengan rumah tersebut. Sampai akhirnya Stella menemukan buku cerita milik Stella yang kabarnya ditulis dengan darah anak-anak yang ia bunuh.

Kabar tersebut salah. Buku tersebut tidak memberikan cerita untuk pembacanya. Buku itu membaca Anda. Betapa kagetnya kelima anak tersebut ketika buku tersebut menampilkan kisah-kisah horor yang tak terbayangkan. Sekarang Stella dan teman-temannya memikirkan cara bagaimana mereka bisa selamat dari kutukan buku tersebut.



Sensibilitas horor Asia dan Amerika sangat berbeda. Kita ketakutan saat mendengar cerita soal hantu seperti kuntilanak, pocong, sundel bolong dan lain-lain. Orang-orang Amerika memang takut dengan hantu tapi mereka jauh lebih paranoid dengan sosok yang tidak bisa dijelaskan, monster, alien dan psikopat. Beberapa tahun belakangan banyak horor Amerika terinspirasi dengan sensibilitas horor Asia.

Jika Anda menyaksikan film-film seperti The Conjuring dan Anda ketakutan, itu karena sensibilitas horor The Conjuring adalah sensibilitas film Asia karena sutradaranya orang Asia. Scary Stories To Tell In The Dark mungkin bukan jenis horor yang akan membuat Anda menjerit ketakutan. Apalagi film ini didesain untuk menghibur para remaja, bukan khusus orang dewasa.

Tapi film ini tetap menawarkan sesuatu yang thrilling. Kisah demi kisah yang terurai akan membuat Anda tertawa kesenangan (bagi pecinta horor) dan merinding ngeri karena skenario-skenario yang ada di dalamnya lumayan bikin malas kalau benar-benar dibayangkan.

Ditulis oleh Dan Hageman dan Kevin Hageman (dengan cerita dari Guillermo del Toro, Patrick Melton dan Marcus Dunstan), Scary Stories To Tell In The Dark dengan rapi menawarkan lima kisah horor pendek nan efektif. Mengingat bukunya adalah sebuah antologi, keputusan pembuat cerita film ini cukup kreatif untuk menjadikannya sebuah film dengan naratif yang menyatu. Hasilnya adalah sebuah sebuah horor dengan rasa yang berbeda namun tetap dengan narasi yang koheren.

André Øvredal (sutradara Trollhunter dan The Autopsy of Jane Doe) tahu bagaimana cara merangkai sekuens yang menegangkan. Meskipun banyak apa yang dilakukan karakter-karakternya sangat bodoh (lagipula ini kan film horor) tapi dia tetap sanggup membuat kita simpati dengan karakter-karakternya. Visual yang ia sajikan sangat memikat. Dia bisa membuat dunia yang ada dalam film ini terasa nostalgic sekaligus angker pada saat yang bersamaan.

Dengan durasi di bawah dua jam, Scary Stories To Tell In The Dark adalah sebuah santapan mantap bagi para pecinta horor. Anda mungkin lebih takut melihat pocong berdiri di sawah daripada laba-laba keluar dari pipi. Tapi setidaknya apa yang ditawarkan oleh Guillermo del Toro, yang menjadi produser di film ini, patut untuk dicicipi. Seperti yang saya bilang tadi, cerita seram maupun bagaimana bentuknya tetap membangkitkan minat. Dan yang satu ini jangan Anda lewatkan.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.


Simak Video "'Scary Stories to Tell in the Dark', Santapan Mantap bagi Pencinta Horor"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/dal)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com