detikHot

Hot Review

'Pokémon: Detective Pikachu', Misteri Papa Yang Hilang

Sabtu, 11 Mei 2019 13:38 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: (imdb.) Foto: (imdb.)
Jakarta - Pokémon adalah sebuah fenomena yang fantastis. Bagi Anda yang besar di era 90-an, Pokémon adalah segalanya. Ia adalah teman. Ia hadir dalam bentuk game, anime, card game dan film.

Ke mana pun kita pergi, selalu ada Pokémon di sekitar kita. Dia berbentuk tas, kotak pensil, action figure dan segala macam. Ketika kita mengira demam Pokémon sudah berakhir, Pokémon Go hadir dan membuat semua orang berlarian kesana kemari untuk mendapatkan Pikachu atau mungkin Psyduck.

Populernya Pokémon sampai saat ini menjadikan perilisan live action Pokémon menjadi anomali. Harusnya Hollywood sudah 'mencuri' Pokémon sejak dari lama. Tapi entah kenapa filmnya baru hadir sekarang. Butuhnya waktu yang lama ini membuat ekspektasi penonton menjadi sangat tinggi. Apalagi setelah trailernya yang sungguh menggemaskan itu. Lihatlah betapa gemasnya si Pikachu!

Tapi ternyata keberuntungan bukan berada di pihak penonton. Karena adalah sebuah film keluarga yang sangat membingungkan. Sebenarnya set-upnya sungguh sederhana. Kita bertemu dengan Tim Goodman (Justice Smith, berusaha keras untuk blend in di dunia yang absurd ini), seorang 21 tahun yang punya daddy issues dan pekerjaan yang sungguh boring.



Kemudian dia harus pergi ke Ryme City karena ayahnya yang seorang detektif meninggal dunia. Ini adalah pertama kalinya Tim Goodman pergi ke Ryme City. Dan Tim merasa sangat conflicted. Karena apa? Karena Tim sebenarnya ingin menjadi Pokémon master. Tapi impiannya ia kubur semenjak ibunya meninggal dunia. Kedua, Ryme City adalah satu-satunya kota di dunia dimana Pokémon dan manusia hidup berdampingan. Mereka bekerja di café. Mereka menjadi polisi lalu lintas.

Mereka karaoke di bar. Tidak ada battle, seperti yang terjadi di kota-kota lain. Begitu sampai di apartemen ayahnya Tim bertemu dengan Lucy Stevens (Kathryn Newton), seorang jurnalis muda yang sedang menginvestigasi sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya Tim.

Misteri mengikuti kemana Tim pergi ketika dia menemukan sebuah gas berwarna ungu yang membuat banyak Pokémon menjadi liar. Seakan keanehan belum komplit, muncullah Pikachu (disuarakan oleh Ryan Reynolds) yang ternyata bisa berkomunikasi dengan Tim. Si Pikachu kaget. Si Tim lebih kaget lagi. Lebih tepatnya dia panik. Tidak pernah ada manusia yang bisa berkomunikasi secara verbal dengan Pokémon sebelumnya. Dan ini seperti mukjizat yang luar biasa.

Tim dan Pikachu akhirnya berkerja sama untuk memecahkan misteri yang belum sempat diselesaikan oleh ayahnya dan mencari tahu kenapa ayahnya meninggal dunia. Mari kita fokus ke hal yang terbaik Pokémon: Detektive Pikachu.

Yang pertama adalah visualnya. Sutradara Rob Letterman berhasil membuat dunia Pokémon sebagai dunia yang tiga dimensional. Visualnya luar biasa memanjakan mata. Rasanya seperti berada di futuristic Tokyo. Rasanya seperti menonton Blade Runner dengan Squirtle dan Cubone berlarian di jalanan.

Kedua, tentu saja sosok Pikachu. Arguably sosok Pokémon yang paling terkenal, Pikachu tampak begitu menggemaskan di film ini. Kita belum pernah melihatnya dalam bentuk 3D CGI sebelumnya. Menyaksikannya berinteraksi dengan manusia nyata dengan bulu-bulu menggemaskan menjadikan
Pikachu sebagai bintang utama film ini.

Anak-anak kecil (dan juga orang dewasa yang halu) pasti ingin sekali memelihara Pikachu setelah film ini selesai. Ketiga, kedua bintang utamanya. Ryan Reynolds memang masih bisa diandalkan untuk membuat kita relate dengan apapun yang dia katakan bahkan kalau kita hanya bisa mendengar suaranya saja. Dia bisa membuat dialog-dialog yang sangat standar menjadi sebuah informasi yang penting.

Dia bisa memberikan emosi ke dalam sebuah hasil renderan komputer. Justice Smith juga cukup membantu untuk menjadikan Pokémon: Detektive Pikachu menjadi sebuah film yang serius. Kita percaya bahwa manusia memang berdampingan dengan Pokémon berdasarkan reaksi dan ekspresinya.

Sayangnya poin-poin tersebut tidak membantu untuk menjadikan Pokémon: Detektive Pikachu sebagai film yang enak untuk dinikmati. Dibutuhkan empat penulis (Dan Hernandez, Benji Samit, Rob Letterman, Derek Conolly dari cerita karya Dan Hernandez, Benji Samit dan Nicole Perlman) untuk menulis Pokémon: Detektive Pikachu yang ternyata malah tidak menghasilkan film yang baik.

Pokémon: Detektive Pikachu penuh dengan berbagai hal tapi pada saat yang bersamaan juga sangat kurang kompleks. Pokémon: Detektive Pikachu menganggap semua orang familiar dengan Pokémon. Ia menganggap bahwa semua orang tau apa kekuatan Squirtle atau kenapa Cubone menggemaskan. Ini mengurangi kenikmatan penonton yang sama sekali tidak mengenal dunia Pokémon karena banyak sekali inside jokes mengenai Pokémon (seperti apa kegunaan Psyduck dalam hidup ini) hadir dari awal sampai akhir film.

Dan seakan hal tersebut belum berakhir, penonton harus menghadapi berbagai tone yang saling tumpang tindih yang membuat film ini susah untuk dikunyah. Ini film soal Pokémon atau soal anak dan ayah? Ini noir serius atau sebenarnya komedi? Apakah misteri dalam film ini perlu diperhatikan dengan serius atau kita mendingan fokus dengan Pokémon- Pokémon-nya saja?



Ada begitu banyak hal yang ingin dicapai oleh film ini namun hampir semuanya gagal. Dan yang menyedihkan, karakter-karakternya begitu tipis sehingga Anda bisa menebak apa yang akan terjadi dari pertemuan pertama. Tentu saja Tim dan Lucy akan jatuh cinta. Tentu saja akan terjadi pengkhianatan. Tentu saja para Pokémon akan menyelamatkan dunia. Tentu saja daddy issues Tim akan terselesaikan.

Pokémon: Detektive Pikachu memang film anak-anak. Dan fungsi film ini mungkin memang hanya untuk penonton ingin bergemas-gemas ria dengan Pikachu atau membuat orang ingin bermain Pokémon Go setiap hari. Tapi dibutuhkan lebih dari sekedar makhluk gemas berbulu untuk membuat sebuah film enak ditonton.

Dan sayangnya bahkan dengan Pikachu yang super duper gemas, Pokémon: Detektive Pikachu tetap tidak berhasil untuk membuat misteri ini menjadi asyik untuk diikuti.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

[Gambas:Video 20detik]


(nkn/nkn)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com