DetikHot

premiere

The Girl in the Spider's Web

Senin, 19 Nov 2018 17:18 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
The Girl in the Spiders Web Foto: dok Sony Pictures
Jakarta - Hollywood tidak pernah lelah untuk menekan tombol restart atas produk-produknya yang dianggap kurang berhasil. Ketika Stieg Larsson menggebrak seluruh dunia dengan heroine yang bahkan terlalu keren untuk berkawan dengan Hunter S. Thompson, Hollywood segera mencoba untuk mengangkatnya ke layar lebar. Apa lagi ketika adaptasi versi Swedianya cukup memberikan kesan yang mendalam.

Sony kemudian mengontak David Fincher untuk menggarap film pertama dari Trilogi Millenium yang direncanakan akan menjadi franchise thriller dewasa. Dirilis di tahun 2011, The Girl With The Dragon Tattoo ternyata tidak mendapatkan pundi-pundi dollar yang diharapkan. Meskipun Fincher sudah melahirkan Lisbeth Salander yang berkesan melalui Rooney Mara (Oscar mengganjarinya nominasi atas komitmennya berakting sampai-sampai rela menindik putingnya demi berubah menjadi Lisbeth).

Visual yang dingin, akting para pemain yang tajam, musik yang atmospheric dari Trent Reznor dan Atticus Ross dan tentu saja opening title yang begitu keren dengan cover menggelegar Immigrant Song dari Karen O membuat The Girl With The Dragon Tattoo menjadi sebuah thriller dewasa yang mempunyai kepribadian. Fincher tidak kehilangan sentuhannya. The Girl With The Dragon Tattoo adalah sebuah slow-burn thriller yang menarik dengan tokoh yang begitu terluka, ia membuat benteng yang tebal dengan dandanan punk dan sikap yang dingin. Mungkin memang jadwal rilisnya yang salah. Dirilis saat liburan Natal, orang-orang ternyata tidak ingin menyaksikan misteri tentang keluarga yang melibatkan anggota Nazi dan kekerasan seksual.

Tujuh tahun setelah Fincher move on dari serial ini, Sony berusaha mengembalikan lagi franchise-nya. Mereka sudah keburu mengeluarkan uang yang banyak dengan membeli rights cerita ini. Kali ini Sony memilih buku keempat serial Millenium yang ditulis oleh David Lagercrantz yang berjudul The Girl in the Spider's Web. Mereka menginjak pedal restart begitu keras bahkan tidak hanya terjadi penggantian sutradara (kali ini sutradara Evil Dead dan Don't Breathe Fede Alvarez yang kebagian jatah) tapi juga mengganti seluruh cast yang ada di film sebelumnya.

Kali ini Lisbeth Salander diperankan oleh Claire Foy. Kita menyaksikannya sebagai pahlawan. Dia membantu para wanita yang menjadi korban lelaki-lelaki jahat. Menggunakan keahliannya sebagai hacker yang canggih, Salander menyelamatkan begitu banyak perempuan-perempuan yang berakhir dengan luka dan darah.

Hari itu dia mendapatkan pekerjaan baru. Seorang program developer bernama Balder (Stephen Merchant) meminta Salander untuk mencuri program buatannya yang diberi nama Firefall. Firefall adalah sebuah program canggih yang sanggup mengontrol nuklir yang ada di seluruh dunia. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Salander untuk mendapatkan Firefall. Yang tentu saja membuat seorang agen NSA bernama Edwin Needham (LaKeith Stanfield) kebingungan.

Tentu saja banyak orang mengincar program ini. Sebuah organisasi misterius kemudian mengejar Salander untuk mendapatkan program ini. Salander kemudian berkomunikasi lagi dengan masa lalunya, Mikael Blomkvist (Sverrir Gudnason), untuk mendapatkan lagi Firefall yang telah berhasil dicuri. Keadaan menjadi semakin rumit ketika masa lalu Salander yang kelam sepertinya ada hubungannya dengan misi ini.
The Girl in the Spider's WebFoto: dok Sony Pictures

Membandingkan Dragon Tattoo dengan Spider's Web adalah pekerjaan yang mudah karena mereka berdua adalah film yang sangat berbeda. Fincher lebih tertarik untuk mengeksplor psikologis Lisbeth Salander dan hubungannya dengan orang yang ada di sekitarnya. Fincher menggunakan frame kasus pembunuhan untuk merangkai ceritanya. Hasilnya adalah sebuah slow-burn thriller yang menarik dengan karakter utama yang sangat kompleks. Luka masa lalu Lisbeth dan kekerasan seksual yang terjadi di film akhirnya bukan hanya sekedar bumbu tapi sebuah commentary yang keras mengenai sexual abuse.

Sementara itu, Alvarez lebih tertarik untuk menghibur penonton. Spider's Web bukanlah character study seperti Dragon Tattoo. Film ini lebih seperti serial Mission Impossible versi lebih kinky. Lisbeth Salander dalam film ini adalah seorang pahlawan. Lengkap dengan sidekick, misi yang larger-than-life dan gadget-gadget yang canggih. Ada begitu banyak adegan hacking di film ini sehingga Salander kelihatan seperti dewa. Dia bisa melakukan apa saja. Dia bisa naik motor, nge-hack mobil di parkiran, berkelahi dengan penjahat dengan menggunakan peralatan yang ada di sekitarnya, lolos dari maut, loncat dari pagar dengan mudah, selamat dari bom.

Skrip yang ditulis oleh Jay Basu, Fede Alvarez dan Steven Knight tidak menyisakan waktu untuk kontemplasi. Dari awal film kita sudah langsung ngebut ke jalanan. Lisbeth tidak punya waktu untuk istirahat. Kalau dia tidak sedang mengintai, dia sedang memikirkan cara menjebak lawannya. Dia selalu selangkah di atas lawan-lawannya. Yang membedakannya dengan Ethan Hunt adalah Salander mempunyai masa lalu yang tidak mengenakkan. "Ayahku adalah psikopat," katanya. Ketika Anda menyaksikan ending filmnya, Anda akan mengerti.

Alvarez kemudian memvisualisasikan skrip tersebut dengan energi yang meledak-ledak. Kameranya bergerak liar seperti karakter utamanya. Editingnya lincah. Temponya stabil dan semakin lama semakin meluncur tidak kendali. Seperti halnya thriller blockbuster lainnya, Spider's Web tidak menyisakan waktu untuk istirahat.

Untuk sebuah hiburan, Spider's Web adalah sebuah film yang menghibur. Tapi jika Anda penggemar karakter rekaan Larsson, film ini akan mengecewakan Anda. Salander yang Anda kenal, hilang disini. Anda tidak akan melihat seseorang yang berusaha keras untuk menutup masa lalunya dan mencoba bersembunyi dari keramaian. Anda tidak akan melihat seorang perempuan yang berusaha keras untuk tidak terluka.

Yang menarik dari Dragon Tattoo adalah kita akhirnya menyaksikan seorang heroine yang tangguh dan rapuh pada saat yang bersamaan. Kita menyaksikan seorang gadis yang begitu rusak, ia tidak mempunyai cara lain selain menjadi binatang buas. Seaneh apapun bentukan Lisbeth Salander, kita melihat manusia disana. Hal-hal yang ia rasakan sangat manusiawi. Sementara itu, Spider's Web mereka ulang Salander sebagai pahlawan dengan sepatu booth dan rokok di tangan. Petualangannya mungkin tetap asyik untuk diikuti. Hanya saja, itu bukan Salander yang kita pernah kenal.



(nu2/nu2)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed