DetikHot

premiere

'Apostle': Teror Berdarah-darah dari Gareth Evans

Senin, 15 Okt 2018 13:26 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Apostle: Teror Berdarah-darah dari Gareth Evans Foto: imdb.
Jakarta -

Hanya dengan empat film panjang, Gareth Evans menjadikan namanya sebagai jaminan yang ampuh. Meskipun 'Footsteps' terasa sebagai pemanasan, 'Merantau' adalah cahaya di terowongan yang gelap. Anda bisa menyaksikan potensi yang terpendam disana. Kemudian tanpa aba-aba, Evans meluncurkan semua serangannya melalui 'The Raid'.

Film yang dirilis 2011 tersebut tidak hanya melambungkan namanya sebagai salah satu sutradara aksi terbaik tapi juga menjadikan film tersebut sebagai salah satu film martial arts terbaik yang pernah ada. Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Semua orang membicarakannya. Bagaimana Evans sanggup merangkum ketegangan tersebut dalam satu film tanpa kendor, bagaimana aksi-aksi dahsyat para karakternya tampil di layar dan bagaimana enaknya mendengar suara tulang belulang remuk.

'Apostle': Teror Berdarah-darah dari Gareth EvansFoto: imdb.


Hampir semua pemain 'The Raid' akhirnya menjelma menjadi bintang laga. Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Joe Taslim adalah beberapa contoh yang merasakan cipratan sukses ini sampai ke Hollywood.

Tiga tahun setelah 'The Raid', Evans merilis jilid keduanya yang diberi tambahan sub-judul 'Berandal'. Kali ini Evans mencoba untuk mengajak penonton menyelami mitologi yang dibangun oleh Evans. Dia bahkan tidak peduli dengan adegan bersalju di kota Jakarta. Alasannya karena darah segar terlihat menggiurkan di salju.

Tapi siapa yang peduli logika dan plot yang membingungkan kalau akhirnya penonton diberi hadiah adegan demi adegan laga yang tidak hanya lebih mantap dari film pertamanya tapi juga gila. Dengan bujet yang low untuk ukuran film Hollywood, car chase di 'Berandal' tidak kalah dengan apa yang dilakukan Matt Damon di film-film 'Jason Bourne'. Dengan keahlian maut seperti itu, kita semua mengira bahwa karya Evans berikutnya adalah film aksi. Tapi ternyata tidak. Film terbaru Evans yang dirilis di Netflix ternyata sebuah film horor. Dan kejutan ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang Anda saksikan di dalam filmnya.

'Apostle' tidak bertele-tele. Dia langsung masuk ke intinya. Seorang perempuan diculik oleh sebuah sekte misterius. Thomas (Dan Stevens) adalah saudara dari perempuan tersebut. Para penculiknya menginginkan uang. Maka Thomas, pun pergi menyusup ke dalam sekte ini untuk mencari tahu: a. apakah saudaranya masih hidup dan b. bagaimana ia membawa saudaranya pergi dari sana.

'Apostle': Teror Berdarah-darah dari Gareth EvansFoto: imdb.


Tentu saja sekte ini sangat aneh. Fakta bahwa lokasi mereka ada di sebuah pulau yang terasing hanya pembukaan saja. Semakin Thomas belajar tentang apa yang ada di sana, semakin kebingungan ia dibuatnya. Ada kepala sekte bernama Father Malcolm (Michael Sheen) yang berbicara soal perdamaian dan kebebasan dan hidup berdampingan tapi sepertinya diam-diam mempunyai hobi untuk melakukan kekerasan dan punya obsesi aneh dengan... darah?

Lalu apa suara-suara yang Thomas dengar? Kenapa saudaranya diculik? Kenapa tiba-tiba ada tumbuh-tumbuhan yang bisa hidup kemudian mati lagi? Kenapa tanah di pulau ini sangat gersang? Kenapa hewan-hewan di situ sepertinya tidak bisa berkembang biak dengan normal?

'Apostle': Teror Berdarah-darah dari Gareth EvansFoto: imdb.


Tentu saja, 'Apostle' tidak hanya mengikuti Thomas saja. Evans, yang menulis dan menyutradarai film ini, menggambarkan sekte ini dengan hidup. Kita bisa melihat cinta terlarang antara penganut sekte ini, kita melihat politik bermain di dalamnya, kita melihat bagaimana anak-anak di sekte ini tumbuh berkembang dan bagaimana mereka bereaksi dengan kekerasan.

Dengan durasi 129 menit, 'Apostle' memang terasa seperti perjalanan yang melelahkan. Satu jam pertama Evans mengisinya dengan mengatur puzzle dengan rapi. Seperti kontraktor, Evans membuat paruh pertama Apostle sebagai sebuah drama politik yang intens dengan suspense yang tak pernah berhenti untuk mengikat penonton. Evans membiarkan karakter utamanya kosong seperti kertas baru, sehingga ketika kita mengetahui backstory Thomas, penonton berada di mindset yang sama. Semakin pelan 'Apostle' berjalan, semakin waspada penonton.

Di paruh kedua barulah Evans menunjukkan aslinya. Di sinilah kita menyaksikan Gareth Evans yang kita kenal. Semua keanehan yang terjadi akhirnya terjawab. Seperti Thomas, Anda mungkin tidak akan suka dengan jawaban yang diberikan oleh Evans. 'Apostle' berubah menjadi sebuah drama menegangkan menjadi sebuah horor gore penuh teror. Ini didukung dengan kamera Matt Flannery yang begitu indah dan memabukkan dan music score cadas dari Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi.

Resolusi yang diberikan Evans mungkin tidak semenarik yang kita pikir tapi setidaknya Evans telah merangkai sebuah permainan adrenalin yang menyenangkan. Dan Stevens memainkan Thomas dengan baik. Tanpa banyak kata-kata kita bisa merasakan penderitaannya. Tapi yang paling asyik dalam film ini adalah Michael Sheen. Ini mungkin salah satu perannya yang paling asyik yang pernah dia mainkan beberapa tahun terakhir.

Ketika end credits bergulir, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana perjalanan seorang saudara laki-laki mencari saudara perempuannya yang diculik bisa berakhir seperti itu. Itu adalah salah satu keajaiban (dan mungkin kutukan) yang terjadi dalam 'Apostle'. Film ini tidak sempurna memang. Sub-plotnya terlalu banyak dan mengganggu cerita utama. Tapi bagi Anda yang doyan dengan film horor penuh ketegangan dan bergalon-galon darah, 'Apostle' adalah sebuah santapan yang pas untuk dicicip.

Apostle dapat disaksikan secara eksklusif di Netflix.


(doc/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed