DetikHot

premiere

Tully: Menjadi Ibu Adalah Pekerjaan 24 Jam

Sabtu, 02 Jun 2018 20:31 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Tully: Menjadi Ibu Adalah Pekerjaan 24 Jam Foto: Imdb
Jakarta - "Menjadi ibu adalah sebuah pekerjaan. It's a whack-ass job," ucap komedian Ali Wong dalam stand-up komedinya berjudul Hard Knock Wife (bisa disaksikan di Netflix). Tidak ada yang pernah menggambarkan menderitanya menjadi ibu serealistis dan semenghibur Jason Reitman dalam film terbarunya. Berkolaborasi ketiga kalinya dengan penulis skrip Diablo Cody (dan kedua kalinya dengan
Charlize Theron), Tully adalah sebuah drama yang sangat menyentil. Bagi para ibu-ibu, terutama yang baru punya momongan baru, Tully akan mewakili perasaan kalian.

Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Marlo (Charlize Theron) adalah seorang ibu dari dua anak yang kelelahan. Anak perempuannya masih suka bermain-main sementara anak laki-lakinya sepertinya masuk ke spektrum autis (dan seperti kebiasaan Diablo Cody, ia tak pernah menjelaskan secara literal, hanya
memberikan begitu banyak remah-remah petunjuk). Sekarang Marlo sedang hamil tua. Meskipun suaminya (Ron Livingston) berusaha untuk membantunya semampunya, Marlo tetap kewalahan.

Adik Marlo yang kaya raya (Mark Duplass) mencoba meringankan beban Marlo dengan menyewakan dia night nanny, seorang pengasuh anak yang akan membantu Marlo setiap malamnya. Marlo menolak. Bagaimana bisa ia seorang ibu yang diharapkan hadir di setiap momen bayinya yang baru lahir membiarkan orang asing mengurus anaknya? Nurani Marlo terkoyak meskipun ia tahu bahwa bayi yang baru lahir bukan pekerjaan yang gampang.

Dan benar saja, ketika anaknya baru lahir, kita melihat Marlo kelelahan. Tidak hanya ia harus mengurus kedua anaknya yang masih kecil, ia harus mengurus bayinya yang baru lahir dan mengurus rumahnya. Kelelahan adalah understatement. Dalam keputusasaannya, Marlo akhirnya menerima tawaran
saudaranya untuk mempekerjakan night nanny dan suatu malam, perempuan itu muncul. "Nama saya Tully," kata perempuan itu (Mackenzie Davis). Dan keajaiban pun terjadi.

Diablo Cody, pemenang Oscar atas Juno, terkenal atas dialog-dialognya yang setajam silet. Seserius apa pun topik yang ia bahas (ehem Young Adult ehem), Cody selalu menemukan cara untuk menyampaikannya melalui cara yang paling menarik. Termasuk dialog-dialog kocak yang menjadi ciri khasnya. Tully juga bukan pengecualian. Sepanjang film, Anda akan masih mendengar dialog-dialog khas Cody yang cerdas dan humoris. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan karya Cody yang baru. Ia seperti mengalami pendewasaan diri yang drastis, seperti karakternya. Tully seperti sebuah "koreksi" atas
kritikan banyak orang terhadap Juno.

Saat Anda menyaksikan Tully, Anda akan merasa bahwa cerita ini sangatlah personal. Adegan montage yang digambarkan Cody saat Marlo mengurus bayi adalah sebuah bukti yang nyata. Tapi pada saat yang bersamaan, gambaran yang dilukis oleh Cody juga sangatlah universal. Pasangan yang baru mempunyai momongan pasti akan relate dengan penderitaan Marlo yang terpapar di layar.

Dengan Charlize Theron memegang kendali, Jason Reitman tahu bahwa separuh pekerjaan dia sudah selesai. Theron adalah aktris yang sangat berbakat dan sangat komit dengan pekerjaannya. Anda semua tahu bahwa Theron diberkahi oleh bentuk fisik yang aduhai. Dalam perannya sebagai Marlo, Theron berkomitmen dengan menaikkan berat badan sampai 25 kilogram untuk menggambarkan bentuk yang
realistis akan ibu-ibu rumah tangga pada umumnya yang kebanyakan memang tidak ada waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Dan keberanian Theron sebagai aktris yang tidak pernah takut kelihatan jelek baik secara fisik atau emosional (tontonlah Young Adult sebagai bukti) diikuti dengan akting dia yang
sangat jujur.

Sepanjang film Anda akan kesal dengan figur si Bapak yang selalu ada tapi selalu absen dalam setiap drama harian yang dihadapi Marlo, tapi tak pernah sekali pun Marlo protes. Tidak ada teriakan atau sindiran. Tapi setiap pandangan mata, gerak gerik, bahasa tubuh Theron yang kelelahan menunjukkan itu semua.

Kemudian muncul Mackenzie Davis yang berperan sebagai Tully. Menyaksikan ia dan Theron berbagi ruang adalah sebuah hiburan tersendiri. Apapun obrolan mereka, dari yang remeh (serial TV tentang gigolo) sampai yang serius, Davis dan Theron menggunakan kemampuan mereka untuk mengenalikan
adegan. Di atas kertas, sosok Tully memang terlalu absurd dan superficial. Tapi seiring waktu berjalan, Cody mengejutkan penonton dengan kenyataan yang menyakitkan sekaligus menggetarkan. Tully memberikan sebuah penyataan (atau sebuah pertanyaan?) tentang pentingnya menjaga diri
sendiri.

Tentang pentingnya meminta bantuan partner dalam mengurus rumah tangga. Film ini akan membuat Anda ingin memeluk ibu atau istri Anda. Meskipun Anda mungkin akan nyengir dengan dialog- dialognya, Tully akan membawa Anda ke sebuah perjalanan emosional yang tidak Anda sangka-sangka.

Tully tayang di jaringan Cinemaxx dan CGV Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
(mah/mah)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed