DetikHot

premiere

'Wind River': Misteri Pembunuhan yang Menyayat Hati

Kamis, 28 Sep 2017 12:55 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Wind River: Misteri Pembunuhan yang Menyayat Hati Foto: Wind River (imdb)
Jakarta -

Seorang gadis berlari ketakutan. Sesuatu mengejarnya. Kita tidak bisa melihat siapa yang mengejarnya atau apa yang membuat gadis tersebut lari ketakutan. Tapi kita bisa merasakan horor itu. Di tengah areal salju yang begitu luas, semilir angin yang dingin dan bercak-bercak darah begitu gadis tersebut berlari. Ketika gadis tersebut tersungkur, kita tahu bahwa ajalnya sudah mendekat.

Adegan tersebut adalah sebuah pembukaan yang efektif bagi 'Wind River', debut penyutradaraan Taylor Sheridan setelah sukses sebagai penulis skrip untuk 'Sicario' dan 'Hell or High Water'. Seperti halnya dua film tersebut, 'Wind River' adalah sebuah drama kriminal yang tak biasa.

Begitu film ini semakin terjun menyelami karakter-karakternya, Anda akan mengerti bahwa ada yang lebih gelap dari sekedar pembunuhan seorang gadis.
Cory Lambert (Jeremy Renner, begitu meyakinkan) adalah seorang pemburu.

Tugasnya adalah menjaga kedamaian di daerah Indian Reservation, Wyoming, dari serangan binatang-binatang liar. Hari itu, setelah membawa anaknya ke rumah mertuanya, dia menemukan mayat seorang gadis bernama Natalie (Kelsey Chow).

Lambert segera menghubungi yang berwajib dan saat itulah agen FBI Jane Banner (Elizabeth Olsen, tangguh sekaligus rapuh pada saat yang bersamaan) mulai mencoba menyelesaikan kasus ini.

Namun ternyata kasus ini tidak semudah yang mereka semua pikirkan. Ada banyak birokrasi yang harus dihadapi untuk menuntaskan siapa yang membunuh dan memperkosa Natalie. Autopsi mengatakan bahwa Natalie meninggal karena terkena keadaan alam: Natalie menghirup terlalu banyak udara dingin dengan kaki telanjang yang menyebabkan paru-parunya beku. Banner membutuhkan keterangan bahwa Natalie dibunuh agar kasus ini tetap disupervisi oleh FBI. Meskipun petugas autopsi menolak mengubah hasil autopsinya, Banner memutuskan untuk tetap meneruskan investigasi ini.

Bersama dengan Lambert, Banner menemukan petunjuk-petunjuk baru. Seperti saudara Natalie, Chip (Martin Sensmeier), seorang pemadat yang ternyata tidak mengetahui keberadaan Natalie saat saudaranya meninggal dunia. Informasi paling anyar mengatakan bahwa Natalie menghabiskan malam terakhirnya dengan sang kekasih. Banner dan Lambert segera menginvestigasi dimana keberadaan kekasih Natalie saat mereka menemukan mayat seorang laki-laki di tengah hutan.

Mayat tersebut adalah kekasih Natalie. Pertanyaan baru pun akhirnya muncul: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kematian-kematian ini?
Seperti halnya 'Sicario' dan 'Hell or High Water', 'Wind River' adalah sebuah drama kriminal yang sarat dengan kekerasan dan darah.

Namun tidak seperti kebanyakan drama kriminal standar yang suara letusan pistol digunakan hanya untuk membuat keren, Sheridan menggunakan kesunyian dan suara ledakan senapan sebagai alat untuk bercerita. Setiap letusan peluru adalah petunjuk misteri. Setiap gencatan senjata adalah sebuah puzzle yang siap untuk ditata.

Untuk ukuran thriller, Sheridan berhasil mempersembahkan 'Wind River' dengan ketegangan yang tiada tara. Semakin Anda dibawa ke penyelidikan karakter utamanya, kegilaan semakin kerap terjadi.

Dan semuanya berakhir di babak ketiga yang begitu menegangkan. Tapi hal tersebut bukanlah hal yang paling istimewa dalam Wind River.

Yang menjadikan film ini begitu menohok adalah bagian dramanya yang begitu mumpuni. Sheridan tidak hanya piawai meracik dialog-dialog yang begitu asik, dia juga mampu menyuguhkan sebuah drama yang memilukan. Racikan drama yang begitu pas dan tidak bertele-tele ini akhirnya bersatu dengan unsur thriller yang pas dan menjadikan 'Wind River' sebagai tontonan yang begitu memuaskan. Film ini akan membuat Anda waspada dan tegang, namun ketika Anda tahu rahasia apa yang sebenarnya terjadi, Sheridan akan memaksa Anda untuk menguras semua emosi Anda.

Film ini tidak akan berhasil jika Sheridan tidak tahu bagaimana cara menjadi sutradara yang handal. Sebagai debut penyutradaraan, 'Wind River' menunjukkan keunggulan Sheridan dalam mengatur tempo dan suspense. Ketegangan yang terjadi adalah pertunjukan Sheridan mengatur bagaimana gerak kamera bisa membuat Anda merasa waspada.

Permainan Jeremy Renner dan Elizabeth Olsen yang ciamik juga membuat film ini menjadi unggul. Keduanya memiliki chemistry yang begitu baik dan pengendalian emosi yang cukup super. Renner sanggup menyampaikan emosi yang begitu dalam bahkan tanpa perlu mengucapkan kata-kata.

'Wind River' mungkin bukanlah sebuah blockbuster seperti film-film Marvel atau 'Kingsman'. Tapi ini adalah sebuah tontonan yang begitu memuaskan. Jika Anda rindu dengan drama-drama kriminal yang kelam dan menghentak, film ini adalah tontonan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International


(doc/doc)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed