DetikHot

premiere

'Dunkirk': Perjalanan Pulang ke Rumah Tak Pernah Setegang Ini

Minggu, 23 Jul 2017 17:53 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Dunkirk: Perjalanan Pulang ke Rumah Tak Pernah Setegang Ini Foto: official Dunkirk
Jakarta -

Dunkirk adalah sebuah film perang yang dahsyat. Dipersembahkan dengan tiga lokasi yang berbeda dan tiga setting waktu yang berbeda, Dunkirk adalah sebuah film perang yang akan membuat Anda tidak bisa bernapas dari awal film sampai akhirnya layar menjadi gelap. Dunkirk adalah salah satu film perang yang harus ditonton di bioskop.

Tanpa bintang yang besar —Dunkirk lebih terasa seperti film ensemble, bahkan sosok paling terkenal seperti Tom Hardy menghabiskan sebagian durasinya dengan wajah yang tertutup— daya tarik film ini hanya ada di tangan sang penulis dan sutradara, Christopher Nolan. Dengan filmography yang singkat namun paten seperti Memento, Insomnia, Batman Trilogy, Inception dan Interstellar, Nolan telah menasbihkan namanya sebagai salah seorang maestro dalam dunia perfilman. Dan hal tersebut ia buktikan dengan begitu gamblang dalam Dunkirk.

Tanpa basa-basi atau intro yang bertele-tele, Nolan langsung mengajak penonton untuk masuk ke dalam sebuah adegan peperangan penuh ketegangan tanpa akhir. Di sini Nolan menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur tempo yang begitu presisi. Editing Dunkirk —dikerjakan oleh langganan Nolan, Lee Smith— dinilai tanpa melihat crosscutting antar tokoh, terasa begitu intens dan padat. Setiap beat diperhatikan dengan sempurna. Setiap ketukan dihitung dengan hati-hati. Hal ini penting untuk mengantarkan penonton ke dalam ketegangan tanpa henti dan Nolan beserta Smith berhasil mengantarkan itu.

Bukan Nolan namanya kalau dia tidak bisa berhasil menampilkan film perang yang berbeda dengan yang lain. Disyut dengan kamera IMAX 65MM on film, Dunkirk adalah film perang yang visualnya sangatlah romantis. Landscape yang luas dan lebar tertera dengan megah di layar. Setiap gambar yang direkam oleh kamera Hoyte van Hoytema terlihat seperti lukisan impresionis. Warnanya yang tajam juga membuat Dunkirk jauh lebih superior daripada film-film serupa.

Bumbu terakhir untuk membuat Dunkirk semakin berhasil untuk "menyiksa" penonton adalah tata audionya. Sound designer film ini benar-benar berhasil menampilkan gambaran teror yang tidak hanya menegangkan namun juga kaya. Suara ombak, suara peluru, suara angin, suara teriakan, suara hembusan napas, suara bom; semuanya terdengar dengan jelas dan ditata dengan sedemikian rupa untuk membuat Dunkirk menjadi tontonan audio visual yang memuaskan. Scoring Hans Zimmer yang haunting —salah satu yang terbaik dari hasil kolaborasinya dengan Nolan— pada akhirnya melengkapi kesempurnaan gambar yang melenggang perkasa di layar.

Satu-satunya kelemahan dari Dunkirk sebenarnya datang dari diri Nolan sendiri. Sebagai sutradara yang telanjur terkenal dengan inovasinya akan bertutur, storytelling dalam Dunkirk agak terasa sedikit maksa. Berbeda dengan Memento misalnya, eksperimen Nolan untuk mengacak-ngacak cara bertutur menjadi alat bercerita yang pas dikarenakan sang karakter, seperti halnya penonton, tidak mempunyai pengetahuan atas apa yang terjadi sebelumnya.

Masalahnya, Dunkirk tidak hanya mempunyai karakter yang spesial namun keputusan untuk menceritakan tiga kisah secara non-linear jadi terasa seperti ajang pamer. Karena tanpa hal tersebut sesungguhnya Nolan tetap bisa menyuguhkan Dunkirk menjadi tontonan yang menegangkan dan seru.

Tapi meskipun begitu, Dunkirk tetap fenomenal. Menonton film ini terasa sekali menyaksikan seorang maestro yang tahu betul bagaimana cara mengemudikan setir. Baik dan buruknya, Dunkirk adalah sebuah film yang hanya bisa keluar dari kepala seorang Christopher Nolan.

Candra Aditya
Writter/Filmmaker


(kmb/kmb)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed