DetikHot

premiere

'King Arthur: Legend of the Sword': Reka Ulang Sang Ksatria Berpedang Sakti

Selasa, 16 Mei 2017 16:00 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
King Arthur: Legend of the Sword: Reka Ulang Sang Ksatria Berpedang Sakti Foto: adegan di film King Arthur: The Legend of the Sword (imdb)
Jakarta - Guy Ritchie sedang getol-getolnya dengan materi-materi lama. Sutradara Inggris kenamaan yang memulai karirnya dengan film-film kriminal menyenangkan seperti 'Lock, Stock and Two Smoking Barrels' dan 'Snatch' akhir-akhir ini keranjingan dengan proyek reboot.

Setelah terbukti berhasil membuat Sherlock Holmes dengan lebih sangar, dua tahun lalu Guy Ritchie mengajak kita bernostalgia dengan remake 'The Man From U.N.C.L.E.' Film kedua seri 'Sherlock Holmes' agak melempem dan petualangan Solo dan Kuryakin juga kurang megah, namun Ritchie tidak gentar.

Kali ini dia memegang kendali untuk reka ulang kisah Raja Arthur. Dengan sub-judul Legend of the Sword, King Arthur adalah film perkenalan sebelum Warner Bros. berencana untuk mengeksploitasi setiap ons isi filmnya menjadi enam film.

'Legend of the Sword' memulai filmnya dengan perang antara Uther Pendragon (Eric Bana) dengan penyihir. Ritchie yang terkenal dengan scene-scene extravaganza, memberikan perang epik yang melibatkan gajah raksasa di sini.

Kemudian kita melihat adik Pendragon, Cortigern (Jude Law) berkhianat dan mencoba menguasai kerajaan seorang diri. Singkatnya, Pendragon dan istrinya tewas sementara anaknya yang masih balita mengapung di atas perahu kayu.

Bayi tersebut kelak menjadi sosok gagah perkasa bernama Arthur (Charlie Hunnam) yang akan menjadi lawan setimpal untuk Cortigern.

Tahun 2003 kita pernah menyaksikan usaha Hollywood untuk menceritakan petualangan King Arthur dengan epik lewat film Antoine Fuqua. Sayangnya film yang dibintangi oleh pemain terkenal seperti Clive Owen dan Keira Knightley tersebut terjerembab ke lubang lumpur.

Tidak hanya film tersebut gagal secara komersial namun respon kritikus juga adem ayem.

'Legend of the Sword' memang sebuah produk yang lebih baik dari versi 2003 tersebut. Dengan tiga orang penulis—Guy Ritchie, Lionel Wigram, Joby Harold—dengan dasar cerita dari David Dobkin, film ini tidak memberikan suatu yang baru.

Dan karena film ini direncanakan sebagai foreplay sebelum seri-seri berikutnya, Ritchie mau tidak mau harus memanjang-manjangkan adegan untuk memenuhi durasi dua jam.

Banyak adegan yang tidak efektif yang mengurangi kekhusyukan penonton yang harusnya bisa dipotong. Di atas kertas, gaya Guy Ritchie yang berlebihan dan kisah epik klasik memang kurang cocok.

Namun ternyata, di depan layar kedua hal tersebut menikah dengan serasi. Gaya sembrono Ritchie, potongan editing yang cepat, dialog yang kocak dan musik metal ternyata menjadikan 'Legend of the Sword' menjadi tontonan yang sangatlah menghibur.

Menyaksikan calon raja bertingkah seperti berandalan dan dilengkapi dengan gaya sinematis Ritchie ternyata menjadikan film ini cukup fresh.

Film ini justru terasa kendor ketika Ritchie terpaksa harus "menurut" dengan sumber aslinya. Ketika Ritchie bersenang-senang dengan caranya sendiri, seperti montage perjalanan Arthur dari bayi sampai akhirnya menjadi babe-magnet, film ini terasa percaya diri karena mempunyai identitas yang jelas.

Energi Ritchie yang meledak-ledak membuat petualangan King Arthur menjadi epik. Terlepas dari apakah film ini akan benar dibuat lanjutannya apa tidak, Charlie Hunnam mendapatkan tanggung jawab yang besar untuk menampilkan King Arthur sesuai dengan visi Ritchie. Hunnam tidak gagal.

Tidak hanya dia menampilkan fisik yang meyakinkan sebagai seorang calon raja yang berasal dari tempat gelandangan, gayanya yang asyik dan penampilannya di adegan-adegan action menunjukkan bahwa dia lebih dari siap untuk menggotong seri ini di pundaknya.

Bahkan saking magnetiknya peran ini, aktor-aktor lain seperti Djimon Hounsou dan Jude Law tertutup oleh bayang-bayang Hunnam. 'King Arthur: Legend of the Sword' memang bukan film King Arthur terbaik. Tapi untuk ukuran film hiburan, film ini lebih dari cukup untuk membuat Anda anteng di dalam bioskop.

Bagi penggemar Guy Ritchie, film ini jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(doc/doc)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed