'Moon Cake Story': Sketsa Manusia Urban dalam Filosofi Kue Bulan

Masyaril Ahmad - detikHot
Jumat, 24 Mar 2017 13:10 WIB
Foto: multivision plus
Jakarta - Pertemuan itu berawal di sebuah pagi yang ramai, ketika para manusia sedang mulai sibuk-sibuknya bergerilya berjuang menaklukkan kejamnya ibu kota. Saat jalanan kota sedang padat-padatnya, ada Asih, seorang joki 3 in 1, janda beranak satu berdiri di pinggir jalan protokol bersama anaknya, sambil mengacungkan jari menunggu mobil yang bersedia mengangkutnya. Kedengarannya seperti dramatis, namun film ini dengan elegan menjalankan alurnya dengan manis.

Sebuah mobil mewah milik seorang pengusaha muda kemudian berhenti tepat di depan ia dan anaknya. Sayang, pagi itu sepertinya masih belum rezekinya, karena tiba-tiba para petugas razia datang menyerbu mereka. Asih bergegas keluar mobil dan lari bersama anaknya meninggalkan jejak-jejak jalan raya menghindari razia. Dengan ragu namun seperti menaruh harap, sambil tetap berlari Asih menongok ke belakang ke arah pemuda pemilik mobil yang baru saja ditumpanginya itu. Sejak saat itu pertemuan demi pertemuan mereka seperti tak terelakkan, merangkai kisah janggal di tengah keramaian kota, antara gemerlap gedung-gedung tinggi dan kampung kumuh di belakangnya.

Namun, salah besar jika berharap film 'Moon Cake Story' adalah sebuah kisah cinta roman picisan antara pasangan beda kelas sosial. Mempunyai makna yang lebih dari itu, 'Moon Cake Story' adalah pembuktian di sebuah kota yang angkuh namun ternyata masih menyimpan benih-benih kebaikan. Sebuah persembahan terbaru sutradara Garin Nugroho yang akan membawa Anda merenungi makna kehidupan, melalui kisah kasih antarsesama yang saling berbagi di sebuah kota yang hampir putus asa oleh segala perbedaan, dan berbagai tatapan saling curiga penuh prasangka.

Melalui cerita dari kue bulan, kisah Asih dimulai. Asih (Bunga Citra Lestari) adalah janda beranak satu yang hidup miskin di lingkungan kampung kumuh pinggir rel kereta. Bersama anaknya, Bimo (Fathan Irsyad) dan adik perempuannya, Sekar (Melati Zein), Asih berjuang menjalani kehidupannya tanpa pamrih. Apapun akan Asih lakukan, asal pekerjaannya itu membawa kebaikan. Menjadi joki 3 in 1 pun Asih lakukan, sepulangnya ia masih bekerja menjadi buruh cuci laundry di rumahnya. Kehidupan yang serba pas-pasan tak membuat Asih bersama anak dan adiknya kehilangan prinsip dan idealismenya.

Hingga pada suatu pagi, saat hari itu ditakdirkan, Asih sedang menjadi joki di pinggir jalan protokol, ia bertemu dengan David (Morgan Oey), seorang pengusaha muda sukses yang ternyata masih menyimpan duka akan istrinya yang sudah meninggal. Setiap hari David berziarah ke makam istrinya, untuk sekedar melepas rindu dan bercerita tentang kue-kue bulan yang selalu ia makan hingga lupa ia telah melewatkan rapat penting di kantornya. Namun, dari semua kue bulan yang pernah dicobanya, tak ada yang bisa menandingi kue bulan buatan mendiang sang istri, dan juga ibunya dulu.

Melalui perjuangan dan ketulusan hidup Asih yang sederhana, David seperti melihat kembali bayangan masa lalu penuh kebahagiaan yang dulu pernah ia rasakan. Saat ia bersama ibunya, Mei (Ary Kirana) dan kakak angkatnya, Linda (Dominique Diyose) hidup sederhana di sebuah kampung sambil membuat kue-kue bulan dengan didahului doa bersama.

David kemudian mempercayakan cetakan dan resep kue bulan warisan mendiang ibunya untuk diberikan kepada Asih dengan bantuan sopir setianya, Pak Tri (Deddy Sutomo). Melalui cetakan den resep itu, David berharap agar suatu hari Asih dapat memanfaatkannya dan meneruskan filosofi kue bulan milik ibunya dulu yang dibuat dengan penuh cinta dan doa. Namun, takdir berkata lain ketika selama ini ternyata David diam-diam sedang berjuang melawan penyakit alzheimer yang menggerogoti otaknya, atau yang disebut dengan penyakit 'The Long Goodbye'.

Apa yang tidak bisa dilakukan oleh sutradara lain, Garin Nugroho bisa membuatnya seperti terlihat sangat mudah. Setelah film pahlawan inspiratif 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' ( 2015) dan film bisu dengan latar gamelan 'Setan Jawa', Garin selalu menghadirkan pesonanya dalam setiap karyanya. Kini, di 'Moon Cake Story' ia menghadirkan ciri khasnya melalui drama keluarga yang menyentuh tentang arti berbagi di tengah kehidupan hiruk-pikuk kota.

Melalui kamera Nur Hidayat, Garin berhasil menangkap sudut-sudut gambar yang muram dengan lembut, memperlihatkan sudut-sudut kontras antara yang miskin dan yang kaya, melalui gedung-gedung pencakar langit dengan lingkungan kampung padat yang mengitarinya. Hiruk pikuk jalanan protokol, suasana karikatural kehidupan rakyat kecil di rumah-rumah petak yang berdempetan, semua ditangkap dengan indah dan melankolis. Rakyat yang beragam dibuat hidup, sehingga ketika melihat mereka di layar bukan terlihat sedih, tapi sebaliknya, seperti menikmati makna kebahagiaan.

Naskah cerita yang ditulisnya bersama Winaldo Artaraya Swastia berakhir tepat sasaran dengan formula yang serba pas, ringkas. Kekuatan utama dari film ini adalah kisah hidup pada setiap karakter-karakternya. Kelemahan satu-satunya di film ini adalah kurangnya adegan proses pembuatan kue bulan sebagai judul utama film ini. Adegan pembuatan kue bulan hanya ditunjukan pada awal saja saat kilas balik mendiang ibu David semasa kecil. Alangkah lebih baiknya, jika karakter Asih juga mengalami naik-turunnya, gagal dan berhasilnya membuat kue bulan, sehingga tidak langsung berhasil begitu saja.

Dialog dan karakter-karakter yang dibangun selain dalam, juga mengandung makna dan kritik sosial tetapi juga lucu. Dan, bukan Garin Nugroho kalau tidak menyelipkan simbol-simbol filosofis dalam filmnya. Kali ini, ia menggunakan meja yang selalu menjadi doa mendiang ibu David, yang diajarkan kepada anak-anaknya. "Semoga setiap rumah memiliki meja untuk berkumpul dan berdoa bersama serta mempunyai makanan yang cukup".

Meja di sini menjadi simbol tentang kehangatan kebersamaan keluarga yang selalu berkumpul, saat makan malam. Hal itu dituangkan dalam adegan yang menyentuh, saat Bimo, anak Asih, begitu bahagianya mendapatkan meja baru seperti mendapatkan mainan baru, karena dari lubuk hatinya yang terdalam ia rindu dengan kebersamaan keluarga.

Akting para aktor di film ini semuanya menonjol, menambah kekuatan emosi cerita. Morgan Oey misalnya, sebagai David terlihat matang dan santai dalam menjalankan perannya yang kompleks. Morgan berhasil menghidupkan karakter pengusaha muda yang galau dan bimbang, setelah kematian istrinya. Ia juga meyakinkan sebagai penderita berhasil alzheimer, saat ia depresi, lupa mengenakan sepatunya dan lupa di mana ia harus mencuci tangannya. Bunga Citra Lestari, yang notabene lebih senior, mengimbanginya dengan tampil beda sebagai janda beranak satu yang kuat dan tegas pada pendirian. Aktor kawakan Deddy Sutomo juga menjadi kekuatan penengah yang penting, dalam perannya sebagai seorang pengabdi di keluarga kaya, ketika ia selalu bisa mencairkan suasana menjadi tenang, damai dan bijaksana.

Karakter-karakter kerakyatan yang lain juga beragam dan unik. Seperti karakter Jaka (Kang Saswi) yang berperan sebagai badut jalanan, yang tak lelah mengejar cinta Sekar, si gadis impian yang meninggalkan kisah manis dan pilu. Karakter lain seperti Babeh (Jaja Miharja) sebagai Pak RT dan Mbok Tun (Usmiyati) juga berhasil mencairkan suasana sehingga alur tak melulu harus sedih dan melodramatik. Sungguh, ciri khas Garin yang tak pernah absen dari layar.

'Moon Cake Story' adalah film tentang pencarian tujuan hidup yang hakiki. Ketika kesuksesan tak melulu selau mengantarkan pada kebahagian, dan ketika kemiskinan tidak kemudian membuat patah semangat untuk meraih cita-cita. Dan, yang paling penting, menonton 'Moon Cake Story' akan membuat Anda percaya kepada kekuatan ketulusan doa dan bersyukur pada setiap keadaaan di manapun Anda berada bersama orang-orang tersayang dalam keluarga. Dengan kue bulan di atas meja.

Masyaril Ahmad penggemar film




(mmu/mmu)