'Moamar Emka's Jakarta Undercover': Kehidupan yang Tak Seindah Dongeng

Masyaril Ahmad - detikHot
Senin, 27 Feb 2017 16:22 WIB
Foto: Official Jakarta Undercover
Jakarta - Meski bukunya sudah terbit lama sekitar tahun 2003 dan menjadi best seller, cerita kontroversial dari 'Jakarta Undercover' milik Moamar Emka seperti tak usang untuk diulang lagi. Kisah-kisah di dalamnya seolah menjadi rekaman abadi hingga kini, menjadi bahan renungan warga urban Jakarta. Barangkali sebagian kisahnya telah jadi "klise", tentang wajah 'kehidupan malam' yang penuh dengan keanehan dan kebebasan.

Dalam film yang dikerjakan oleh sutradara Fajar Nugros ini, 'Jakarta Undercover' mendapatkan versi baru, tak hanya mengangkat isu-isu sensitif seperti tentang prostitusi dan segala macam serba-serbi kehidupan malam Jakarta. Lebih dari itu, 'Moamar Emka's Jakarta Undercover' berbicara tentang cita-cita yang tulus, cinta yang paling romantis, dan persahabatan yang kadang penuh dengan pengkhianatan.

Pras (Oka Antara) adalah seorang wartawan sebuah majalah ibukota yang berasal dari kampung di Jawa. Dengan hanya berbekal cita-cita dan idealisme, ia datang ingin mencoba mencicipi bagaimana rasanya menaklukkan kota Jakarta yang katanya keras dan kejam itu. Dengan penuh dedikasi pula ia datang ke Jakarta menjadi wartawan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Pejabat demi pejabat sudah sering ia temui untuk dimintai keterangan. Namun, di tengah perjalanan kariernya, ia merasa ragu tentang dirinya lagi; ia merasa hanya seperti pegawai yang diperalat oleh penguasa media tempatnya bekerja, atau dalam bahasa film ini, "merasa tidak signifikan".

Di Jakarta, dengan logat dan sikap kedaerahannya yang masih melekat, Pras tak segan menolong orang-orang yang ia temui. Perilaku itu mengantarkannya melihat gerbang gemerlap kehidupan malam Jakarta yang nyata adanya. Dari sekedar tak sengaja menolong Awink (Ganindra Bimo), seorang penari waria di sebuah klub terkemuka yang dikejar-kejar oleh kawanan berandal, hingga Yoga (Baim Wong), seorang 'party planner' yang disegani di seantero kota.

Namun, yang paling berkesan bagi Pras adalah saat ia tak sengaja bertemu dengan Laura (Tiara Eve), seorang model merangkap PSK kelas atas. Mereka bertemu di sebuah supermarket. Mereka seperti dua orang asing gagal yang ditakdirkan bertemu, gagal mewujudkan cita-citanya, gagal merenungi arti hidup sebenarnya. Dalam kecanggungan dari balik kaca supermarket mereka terlihat saling bercerita, ketika Pras kemudian bertanya kepada Laura tentang "apa yang membuatmu signifikan?" Lalu, Laura menjawab, bahwa yang membuatnya signifikan adalah ketika ia bisa melihat keluarganya cukup dan bahagia, itu saja.

Kemudian melalui pertemuan-pertemuan sederhana selajutnya, masih di supermarket, Pras dan Laura semakin dekat dan nyaman satu sama lain. Mereka juga tak malu menjadi diri sendiri, dan akhirnya pun menemukan sinyal-sinyal cinta.

Sayang, kehidupan Laura tak sederhana seperti yang Pras kira. Di sisi lain, kehidupan Pras sendiri juga mulai pelan-pelan berubah, menyangkut idealisme yang dulu ia junjung untuk selalu ia perjuangkan, kini menjadi pertaruhan, termasuk teman-teman baru yang ia kenal, juga akan dipertaruhkan. Lalu, bagaimana dengan Laura, seorang wanita yang ia temui di supermarket yang membuatnya mendadak jatuh cinta?

Garapan Fajar Nugros yang sudah kenyang malang melintang menyutradari film, kali ini berhasil menonjol di semua lini. Skrip yang ditulisnya bersama Piu Syarif sangat rapi dan tepat sasaran, memberikan porsi yang sama-sama kuat pada setiap karakter. Film ini memiliki banyak karakter yang kompleks, namun semuanya berhasil unjuk gigi, bahkan meskipun karakter itu hanya lewat sebentar.

Melalui kamera Padri Nadeak, Nugros juga berhasil mengarahkan gambar yang paling tepat, menunjukkan sisi-sisi gelap kota Jakarta dalam insting liarnya. Adegan dewasa di film ini masih terlihat elegan, tanpa mengeksploitasi tubuh secara berlebihan, semuanya berjalan secara simbolik. Sudut-sudut seperti lingkungan kumuh rumah susun, klub malam, supermarket juga ditangkap dengan cukup detail, memberikan kesan yang pas dengan tema film.

Akting para aktor adalah yang paling menonjol dan kuat di film ini, semuanya memberikan kualitas yang paling prima. Ganindra Bimo misalnya, yang berperan sebagai Awink si penari klub dan sekaligus sahabat Pras, sedikit mengingatkan kita pada aktor Jared Leto di film 'Dallas Buyers Club' (2013), tampil dengan maksimal merebut empati tanpa sesuatu yang berlebihan. Tiara Eve, seorang pendatang pendatang baru di dunia film, tampil sangat menawan dalam perannya sebagai model, membuat kita berpikir bahwa apapun yang dia lakukan adalah sepenuhnya alami.

Last but not least, adalah kehadiran Agus Kuncoro, yang tampil sangat memikat dan berbeda. Agus berperan sebagai mucikari waria yang dingin dan misterius. Ia juga sedikit mengingatkan kita pada karakter yang pernah diperankan Donny Damara di 'Lovely Man' (2011). Penampilan Agus di sini sungguh spesial, seperti adegan simbolik yang kuat di sebuah serial televisi tentang kehidupan lain seorang mucikari, saat ia dengan elegan membawa amplop berwarna merah muda, menyuruh gadis-gadis yang dipekerjakannya untuk pergi melayani para pelanggan setia.

Secara keseluruhan, 'Moamar Emka's Jakarta Undercover' merupakan sebuah film dari Fajar Nugros yang tampil maksimal dan wajib untuk ditonton bagi mereka yang sudah cukup usia. Isu yang diangkat memang tergolong kontroversial, tapi jangan melihat dari sisi gelapnya saja. Sebab, mungkin banyak pelajaran berharga yang bisa Anda petik tentang cinta, ambisi, persahabatan, dan lebih dari itu adalah kemanusiaan, sebagai bahan perenungan tentang kehidupan di sebuah kota urban bernama Jakarta, yang dengan penuh olok-olok kerap disebut "tak sekejam ibu tiri", namun juga tak pernah seindah dongeng.

Masyaril Ahmad penggemar film





(mmu/mmu)