'The Great Wall': Monster-monster Zhang Yimou Rasa Hollywood

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 06 Jan 2017 11:02 WIB
Foto: atlas entertainment
Jakarta - Matt Damon menjadi bagian dari sejarah dalam film terbaru Zhang Yimou, 'The Great Wall'. Secara sekilas memang agak menggelikan bahwa aktor kaukasian seperti dia ikut main-main dalam sebuah film yang mengambil cerita dari legenda Asia. Tapi, ternyata pembuatnya mempunyai cara sendiri untuk meyakinkan penonton bahwa keanehan itu bisa dimaafkan.

Dalam 'The Great Wall', Matt Damon bermain sebagai William, seorang tentara bayaran yang tidak mempunyai tujuan dalam berperang. Bersama dengan Tovar (Pedro Pascal), kedua pejuang dari Barat ini menginginkan bubuk hitam yang menjadi benda yang dicari di negeri mereka. Dalam perjalanan, mereka kemudian diserang makhluk yang menyeramkan. William berhasil memotong tangan monster tersebut dan membawanya sebagai barang bukti.

Tangan monster tersebut terbukti menjadi kartu bebas mati mereka ketika mereka ditanggap oleh tim perang kekaisaran ketika mereka berhenti di depan Tembok Cina. Komandan Lin Mae (Jing Tian) tadinya ingin menangkap William dan bersiap membunuhnya sesuai perintah dari bosnya ketika strategis perang Wang (Andy Lau) mengatakan bahwa mungkin William dan Tovar mengetahui rahasia yang tidak mereka ketahui.

William dan Tovar masih bingung dengan kesiapan tim perang dan apa gunanya Tembok Cina sampai akhirnya mereka melihat sendiri sekumpulan monster menyerang mereka. Keahlian William dan Tovar dalam menyerang para monster membuat Lin Mae dan yang lainnya berpikir dua kali untuk membunuh mereka. Dengan ribuan monster di depannya, kini William mempunyai misi baru dalam hidupnya.

Dengan hasil box office yang mencengangkan Hollywood, industri perfilman China sekarang menjadi the next big thing. Semua orang berlomba-lomba untuk meraih pundi-pundi uang di sana. Legendary Pictures melihat peluang ini dan menyeret Matt Damon untuk mengisahkan kisah hiperbola tentang asal usul Tembok China dalam 'The Great Wall'. Hasilnya sebuah film yang sangat berbau Hollywood blockbuster meskipun mayoritas pemainnya (masih) aktor-aktor China.

Lupakan semua film legendaris yang dibuat Zhang Yimou sebelumnya. 'The Great Wall' bukanlah masterpiece seperti 'Ju Dou', 'Raise The Red Lantern' atau 'Hero'. Namun, meskipun "sangat Hollywood", tanda tangan visual Zhang Yimou masih bisa ditelusuri di sini. Kegemarannya dengan warna-warna cerah yang kontras bisa ditemukan dengan mudah. Visualnya, seperti film-film Yimou lainnya, sangatlah megah. Kali ini, ditambah dengan polesan CGI yang membuat filmnya cukup percaya diri jika disandingkan dengan film-film mahal Hollywood lainnya.

Secara plot, 'The Great Wall' tidak menawarkan hal yang baru. Ceritanya standar, tidak membingungkan dan membuat Anda tetap terikat dengan berbagai adegan aksi Matt Damon selama 100 menit. Ditulis oleh Carlo Bernard, Doug Miro, Tony Gilroy sementara ceritanya digodok oleh Max Brooks, Edward Zwick, Marshall Herskovitz, 'The Great Wall' cenderung lemah dalam menawarkan sejarah atau mitologi Tembok Cina yang original. Dan, dialog-dialognya pun alamak menggelikannya. Tapi, seperti yang dipertunjukkan di opening filmnya yang mengatakan bahwa kisah dalam film ini hanyalah satu dari banyak legenda soal Tembok China, 'The Great Wall' murni sebuah film mahal akhir tahun yang tidak membutuhkan banyak akal untuk menontonnya.

Matt Damon memang tidak begitu banyak bertenaga dalam film ini mengingat karakternya juga tipis. Namun, ia tetap memiliki kharisma yang kuat untuk membuat karakternya menyenangkan. Pedro Pascal mempunyai chemistry yang bagus dengan Damon sebagai antihero. Pascal juga mempunyai comedic timing yang bagus sehingga dia bisa menjadi comic relief yang diandalkan. Sementara itu jajaran aktor China mengerahkan tenaga mereka untuk memerankan karakter-karakter yang tanggung dengan semaksimal mungkin. Jing Tian cukup meyakinkan ketika mulai beraksi namun chemistry-nya dengan Damon kurang menggigit.

Film ini, seperti kebanyakan Hollywood blockbuster lainnya, sangat nyaring dan tidak jarang dangkal. Tapi, di balik kedangkalannya, dan ceritanya yang sangat template, ini adalah hiburan yang cukup menyenangkan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta. (mmu/mmu)