detikHot

premiere

'Under The Shadow': Perang dan Represi Agama dalam Kemasan Gotik

Jumat, 25 Nov 2016 16:28 WIB Shandy Gasella - detikHot
Foto: wigwam film Foto: wigwam film
Jakarta - Inilah saatnya, bila Anda mau, untuk berhenti sejenak dari menonton film-film Hollywood yang generik dan mencicipi tawaran sinema Timur Tengah yang langka, serta dalam beberapa aspek tertentu ternyata masih terasa asing bagi kita.

"Under The Shadow" sebenarnya merupakan produksi bersama antara Iran, Yordania, Qatar, dan Inggris, digarap oleh sutradara pendatang baru asal Iran, Babak Anvari. Dan, film berbahasa Persia ini merupakan perwakilan resmi dari Inggris untuk diikutsertakan berkompetisi di ajang Oscar tahun depan dalam kategori film berbahasa asing terbaik. Menarik bukan?

Berlatar Teheran, Iran pada pengujung 1980-an, tatkala perang sedang berkecamuk antara Iran dan Irak, seorang ibu dan putri kecil semata wayangnya mesti berjuang melawan teror kekejaman perang. Namun, di saat yang bersamaan ada teror lain yang jauh lebih menakutkan, diam-diam menunggu di sudut-sudut tergelap rumahnya. Sebuah teror mematikan yang akan mengoyak kehidupan mereka.

Keadaan Iran kala itu lebih kurang sama seperti yang terjadi di Suriah saat ini. Kota-kota begitu mencekam dengan desingan roket-roket bom yang melayang di udara sebelum pada akhirnya berjatuhan di atas rumah-rumah penduduk, dan meluluhlantakkannya. Suara sirene tanda bahaya meraung-raung hampir sepanjang hari. Dan, ketika sirine berbunyi, itu pertanda hal-hal yang buruk pasti segera terjadi.

Shideh (Narges Rashidi) berada di antara kecamuk perang itu bersama putrinya, Dorsa (Avin Manshadi). Mereka tinggal di sebuah apartemen, sedangkan suaminya ditugaskan ke medan perang. Berkali-kali suaminya mengingatkan lewat percakapan telepon agar Shideh dan putrinya segera meninggalkan kota dan mengungsi ke rumah sang mertua. Namun, Shideh yang keras kepala itu merasa akan baik-baik saja tinggal di apartemennya.

Bagi Shideh, tinggal di apartemen berdua saja bersama putrinya merupakan "kemewahan" hidup tersendiri. Sebab, di dalam rumahnya ia menjadi orang yang merdeka, bebas, tak perlu mengenakan jilbab. Ia bahkan menyukai rutinitasnya berolahraga, menirukan gerakan-gerakan senam lewat rekaman kaset video senam Jane Fonda yang ia setel di ruang tengah.

Memiliki alat pemutar kaset video, dan menyaksikan segala tontonan berbau Barat merupakan hal terlarang. Hanya di dalam rumahnyalah Shideh bisa secara sembunyi-sembunyi melakukan hal-hal yang dianggap 'haram' oleh negara yang sedang dilanda Revolusi Islam itu.

Suatu hari lantai teratas gedung apartemennya kejatuhan roket bom; tidak meledak, namun akibatnya dinding kamarnya menjadi retak-retak cukup dalam hingga menciptakan rongga-rongga gelap. Kejadian itu sudah barang tentu amat meneror, dan segera saja tetangga-tetangganya pun pergi meninggalkan gedung apartemen itu. Tapi, Shideh masih belum juga mau beranjak.

Dorsa menjadi susah tidur di malam hari, dan sering mengalami demam. Ia bahkan menjadi sering bersikap aneh, seperti terlihat mengobrol dengan orang lain, atau seolah bermain dengan teman sebayanya, padahal di rumahnya tak ada siapa-siapa selain dirinya. Saat Shideh mendapati kenyataan yang janggal itu, segalanya telah terlambat baginya.

"Ada sesuatu yang jahat pada bom yang menimpa atap apartemen kita, kau tahu, jin dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat embusan angin, mereka mencari orang untuk dirasuki!" demikian suatu hari tetangganya memberi peringatan. Namun, Shideh yang tak mempercayai takhayul atau hal-hal lain yang terdengar tak masuk akal, lagi-lagi tak menggubris. Sampai akhirnya, kaset video senam Jane Fonda miliknya pindah ke tong sampah, ia masih belum menyadari apa yang terjadi dan menyalahkan Dorsa karenanya.

Sebaliknya, boneka kesayangan Dorsa sendiri hilang, dan ia menuduh ibunya menyembunyikannya. Pada saatnya, ketika jin itu menampakkan dirinya barulah Shideh tahu ancaman bahaya yang sedang ia hadapi. Adegan ini begitu menakutkan; Shideh mengalami shock, membawa anaknya keluar dari rumah, berjalan mencari pertolongan. Namun, bukannya mendapatkan bantuan, ia malah ditangkap oleh petugas yang sedang berpatroli. Kejahatan yang dituduhkan kepadanya adalah keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang menutupi seluruh auratnya.

Di atas segala kengerian akan perang, akan teror dari makhluk halus seperti jin yang menghantui para protagis itu, sejatinya film ini sarat nilai-nilai kemanusiaan. Terasa sekali adanya penghormatan kepada perempuan yang berjuang untuk hidup di tengah-tengah masyarakat yang intoleran di sebuah negara yang menjunjung tinggi syariah otoriter.

Sutradara Babak Anvari berhasil meramu film ini hingga menjadi tontonan yang sepertinya tak pernah kita dapatkan dalam film apa pun selama ini. Sebagai film drama yang penuh kritik sosial nan kontekstual, film ini disampaikan dalam tuturan gotik. Porsi drama dalam film ini, atau tentang bagaimana sutradara menyampaikannya, bahkan setara dengan dengan apa yang dicapai oleh Asghar Farhadi atau Abbas Kiarostami lewat film-film mereka.

Pada akhirnya penonton bisa melihat film ini sebagai sebuah tontonan horor mistis yang mencekam. Atau, sebagai kisah drama penuh trauma akan kekejaman perang dan represi agama, dengan melihat unsur-unsur horornya sebagai "semiotika" belaka. Ditonton dengan pendekatan apapun, film ini berhasil tersampaikan lewat salah satu atau bahkan kedua sudut pandang tersebut. 'Under The Shadow hanya diputar di jaringan bioskop CGV Blitz dan Cinemaxx.

Shandy Gasella pengamat perfilman




(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com