DetikHot

premiere

'D.P.O': Tanpa Emosi, Tanpa Pikiran

Senin, 19 Sep 2016 14:15 WIB  ·   Shandy Gasella - detikHOT
D.P.O: Tanpa Emosi, Tanpa Pikiran Foto: Putaar Film
Jakarta -

Menyebut 'D.P.O.' sebagai film yang jelek adalah penghinaan terhadap kata "jelek" itu sendiri. Film ini jauh melebihi itu, dan tak ada tandingannya. 'D.P.O.' dibuat-buat dengan sedemikian rupa tanpa meninggalkan jejak bukti sedikit pun bahwa film ini hasil kreativitas manusia; tak ada emosi, tak ada pikiran. Menyebut karakter-karakter di film ini sebagai karakter tanpa dimensi adalah juga penghinaan terhadap kata "dimensi" yang mana ia masih memiliki arti sebagai sesuatu yang bisa diukur (panjang, lebar, tinggi, luas, dan sebagainya). Karakter-karakter di film ini tak terukur oleh standar (kualitas) apa pun.

Film dibuka oleh adegan dua orang polisi yang mendatangi markas gembong narkoba di sebuah kampung kumuh demi mendapati pada akhirnya kedua polisi tersebut mati terbunuh. Lalu keesokan harinya, datanglah Kapten Sadikin (Aa Gatot Brajamusti, 'Azrax'), yang gagah dan berwibawa (kata rilis resmi sinopsis filmnya lho), ke TKP tempat mayat kedua rekannya itu ditemukan. Ia tahu siapa dalangnya, Satam (Torro Margens, 'Mencari Hilal'), buronan interpol, lantas segera saja Kapten sadikin menghadap atasannya untuk membentuk tim elit guna menangkapnya. Tim elit ini terdiri dari: Kapten Sadikin sendiri yang tegas dan berwibawa, Julie (Nabila Putri) yang pintar dan penuh kalkulasi, Ganta yang playboy dan menawan, Andi yang pendiam, dan Tatang (Deswyn Pesik) yang setia kawan. Sekali lagi, (kalimat) ini saya kutip dari rilis resmi sinopsis film, percayalah pada saatnya Anda menonton film ini, kenyataan akan berkata lain.

Anda akan dibuat ternganga manakala cerita film makin bergulir. Satam memiliki anak sulung umur 10 tahunan bernama Oliver, dan masih ada adiknya yang bernama Edward. Oliver membenci ayahnya sendiri yang dengan tega pernah memperlihatkan pembunuhan keji di depan mata kepalanya sendiri. Sedangkan Edward, entah didasari motif apa, mengikuti jejak ayahnya itu. Oliver dan Edward, darimana kedua nama ini muncul? Belum lagi ada anak kampung pribumi asli yang sekonyong-konyong muncul dan memperkenalkan dirinya sebagai Luca, dengan "C" bukan "K". Saya penasaran apa yang ada di benak penulis naskah debutan Rusli Rinchen ketika mengerjakan proyek film ini? Tak perlulah paham betul ilmu Sosiologi dan Antropologi, yang tak pernah mengenyam bangku sekolah dasar pun pasti akan tertawa terbahak-bahak manakala menyaksikan film ini, sebab setiap kali nama Edward, Oliver, dan Luca disebut, saya dibuat terkencing-kencing mendengarnya.

Ada satu adegan dalam film ini, ketika Ramadhan, atasan Sadikin, dan sekretarisnya yang bernama Eva Vermont menyaksikan seorang agen Interpol mati tepat di sebelah mereka dalam satu mobil yang sama, dengan kalemnya mereka masih mengobrol, sambil menyetir, Ramadhan berbicara kira-kira begini, "Satam pasti mengincar saya. Baiklah, saya akan menghubungi ambulans, baru setelah itu kita menuju ke TKP." Menonton film seperti ini menyadarkan saya bahwa aktor-aktris adalah bejana-bejana kosong yang siap diisi oleh karakter dan dialog, di film ini mereka diisi oleh ide-ide kecil dan dialog kosong, ditambah bejananya sendiri bukan bejana cantik, mereka bejana retak, maka yang terjadi adalah pameran akting penuh cacat yang sungguh diperlukan ketabahan dan ridho untuk dapat menyaksikannya. Suara batuk saya bahkan lebih enak didengar ketimbang hampir semua dialog yang ada di film ini.

Secara teknis film garapan debutan LM Belgant ini pun tak terselamatkan; visual video kawinan saya terasa lebih baik kualitasnya. 'D.P.O.' seolah diedit menggunakan software Power Point, sebuah pekerjaan yang berat manakala sutradara kebingungan sendiri akan apa yang ia kerjakan. Apa yang dapat dihasilkan dari cerita cetek, akting pas-pasan, dan penyutradaraan yang asal-asalan selain hasil akhir film ini yang naudzubillah?

Banyak sekali film jelek, terutama film Indonesia. Menurut catatan saya dari 100 judul film yang tayang per tahunnya, hanya 10% di antaranya merupakan film yang bagus. Sisanya merupakan film jelek, dan jelek sekali. Tidak adakah seorang pun yang terlibat dalam proyek film 'D.P.O.' ini, seperti Dhoni Ramadhan ('Garuda Superhero', 'Kalam-kalam Langit') atau Aa Gatot sendiri (keduanya produser film ini) yang membaca skrip, menelaah ceritanya, menimbang-nimbang treatment sutradara, kemudian muntah?

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia
(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed