detikHot

premiere

'Ini Kisah Tiga Dara': Ketemu Jodoh di Maumere

Selasa, 06 Sep 2016 11:15 WIB Shandy Gasella - detikHot
Foto: - Foto: -
Jakarta - Nia Dinata is back lewat 'Ini Kisah Tiga Dara' setelah kali terakhir menyutradarai 'Arisan! 2' lima tahun silam. Jeda yang cukup lama bila kita menilik filmografinya, Nia biasanya butuh dua-tiga tahun untuk merampungkan sebuah film sejak debut penyutradaraannya lewat 'Ca Bau Kan' (2001). Film-film Nia Dinata selalu dinanti penuh harap oleh penonton bioskop film Indonesia – jenis penonton yang langka, mereka hanya dapat ditemui di beberapa spot saja di ibukota, misalnya di bioskop Cinema 21 di Blok M Square, Jakarta Selatan. Penonton film Indonesia memang langka, sama langkanya dengan tontontan film Indonesia yang bagus yang mereka tonton itu sendiri. Maka, comeback-nya Nia Dinata sebagai satu dari sedikit filmmaker handal jelas sebuah penantian yang patut dituntaskan.

But, was the movie worth your wait?


'Ini Kisah Tiga Dara' dimulai dengan opening credit yang manis nan catchy; kita mendapati Gendis (Shanty Paredes, 'Berbagi Suami', 'Kala'), Ella (Tara Basro, 'A Copy of My Mind', '3 Srikandi'), dan Bebe (pendatang baru Tatyana Akman) duduk bersama di jok belakang sebuah taksi (konvensional, bukan Uber) bermacet-macetan di jalanan Jakarta. Ketiga dara ayu ini hendak menemui Oma mereka (diperankan dengan mempesona oleh Titiek Puspa). Kita melihat warna-warna terang, musik mengalun, dan mereka pun bernyanyi bersenang-senang, termasuk pak sopir taksi (penampilan istimewa dari Joko Anwar) yang juga ikut bersenandung riang gembira sambil menari. Kemudian, seisi kota ikut menari bersama mereka, dan Jakarta tak lagi terlihat kejam.

Ini film musikal, tentu lagu dan tari adalah elemen yang tak terpisahkan. Pada saatnya ketiga dara ini bertemu dengan Oma, keceriaan makin meruah saja, dan kita seakan diingatkan bahwa film ini menawarkan kesenangan, bukan hal lainnya.

Oma dan ketiga dara yang cantik jelita berangkat ke Maumere di timur Flores untuk menemui ayahanda mereka, single parent Krisna (Ray Sahetapy, 'Jingga', 'Negeri Tanpa Telinga), yang membuka usaha boutique hotel di pesisir pantai. Mereka menjalankan bisnis keluarga bersama-sama; Gendis sebagai juru masak di kitchen hotel, Ella sebagai marketing, dan si bungsu Bebe sebagai… magnet pengundang tamu? Di sela-sela kesibukan mereka mengurusi tamu-tamu hotel, Oma ikut merecoki urusan jodoh buat si sulung Gendis yang sudah berkepala tiga namun tak kunjung memliki pasangan.

Singkat cerita, Gendis ditabrak pengendara motor gede yang gagah, tajir dan ganteng bernama Yudha (diperankan oleh Rio Dewanto, 'Love & Faith', 'Filosofi Kopi') sepulang ia berbelanja dari pasar. Ternyata Yudha adalah tamu di hotelnya, dan ia rupanya langsung jatuh hati kepada Gendis. Pada waktu yang sama, saat Gendis malu-malu kucing, Ella sang adik malah kecantol pada Yudha. Sampai di sini, kok rasanya alur cerita tak jauh berbeda dengan 'Tiga Dara' (1956) karya Usmar Ismail? Diklaim sebagai film yang terinspirasi oleh 'Tiga Dara', nyatanya 'Ini Kisah Tiga Dara' tak bisa keluar dari bayang-bayang 'Tiga Dara' itu sendiri. Film ini tak menawarkan hal baru, dan akan lebih pas kiranya jika film ini didaku sebagai film buat ulang saja ketimbang label "terinspirasi" atau "adaptasi bebas".

Perkara terbesar yang dihadapi film ini adalah naskahnya yang lemah hasil tulisan Nia Dinata sendiri bersama Lucky Kuswandi. Ini mengejutkan, dan tentunya mengecewakan sebab baik Nia (seperti yang sudah disebutkan di awal tulisan) maupun Lucky, adalah salah dua dari sedikit filmmaker handal yang kita miliki. Karya Lucky sebelum film ini, 'Selamat Pagi, Malam' adalah salah satu film terbaik dalam satu dekade terakhir! Herannya, dialog-dialog dalam 'Ini Kisah Tiga Dara' terasa begitu artificial, terlalu dibuat-buat, so pretentious. Seakan seluruh dialog dalam film ini ditulis dengan usaha keras untuk menciptakan kata-kata mutiara yang bisa dikutip oleh penonton, untuk bahan posting di Twitter dan Instagram.

Nia sendiri sebagai sutradara handal kali ini terasa kehilangan daya magisnya. Ia terlihat seolah kekurangan ide original; adegan Gendis bernyanyi dari kitchen hotel lalu berlari menuju bukit melampiaskan kegelisahannya dalam nyanyian yang terdengar mirip dengan lagu 'Let It Go', berbalut gaun biru meneriaki nasibnya di bukit, itu bak Queen Elsa dalam film animasi 'Frozen' yang terkenal itu. Rasanya memang sulit mengeksekusi adegan-adegan, juga dialog, dari sumber naskah film yang ditulis dengan begitu cheesy tanpa kedalaman, dan nihil konflik. Semua pemain film tampil baik, terutama Titiek Puspa, namun tidak sampai ke tahap mengagumkan. Pembuat film ini terlalu sibuk memikirkan gaya dan agendanya sendiri tentang feminisme, patriarkisme, matriarkisme, hingga lupa untuk siapa sesungguhnya mereka bercerita?

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com