'San Andreas': Menonton Bencana di California

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 05 Jun 2015 11:24 WIB
Jakarta - 'San Andreas' dibuka dengan aksi kepahlawanan Ray (Dawyne Johnson) menyelamatkan seorang gadis yang tertahan di sebuah mobil yang siap meluncur ke jurang. Tentu saja, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan Ray. Meskipun dia diberkahi dengan bentuk fisik yang mantap dan kekuatan yang hanya bisa ditandingi oleh dewa-dewa Romawi, kehidupan rumah tangganya sangatlah suram.

Calon mantan istrinya, Emma (Carla Gugino), bersiap untuk tinggal bareng dengan pacarnya yang kaya raya, Daniel (Ioan Gruffuf). Dan, akibat kesibukannya menyelamatkan orang-orang, Ray jadi kurang bisa mengurusi putri semata wayangnya yang cantik rupawan, Blake (Alexandra Daddario).

Kemudian muncullah bencana yang mengerikan. Si profesor ahli gempa, Dr. Lawrence (Paul Giamatti, mencoba untuk terlihat fokus dan sangat serius), sudah melakukan penelitian tentang gempa bumi massif yang akan menghantam California dan sekitarnya karena pergerakan patahan San Andreas. Gempa bumi yang sudah membuat Ray dan Emma kebingungan ini ternyata baru awal. Dr. Lawrence mengingatkan bahwa gempa berikutnya yang menghantam San Fransisco akan jauh lebih besar. Tentu saja, Blake kebetulan ada di sana. Kali ini tidak ada lagi misi yang lebih penting daripada untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang dikasihi.

Hadirnya 'San Andreas' di tengah gempuran film-film musim panas harus disambut dengan tangan terbuka. Setelah gelombang sekuel, prekuel, reboot, film superhero dan adaptasi yang tak habis-habis, rasanya menarik sekali disuguhi film yang benar-benar menjanjikan tontonan tanpa misi pretensius lainnya. Layaknya film-film bencana yang kerap menjadi mainan Roland Emmerich, ini adalah film nostalgia yang tidak membutuhkan banyak pikiran saat menyaksikannya.

Secara visual, sutradara Brad Peyton—yang bekerja untuk kedua kalinya dengan Dwayne Johnson setelah 'Journey 2: The Mysterious Island'—berhasil mempersembahkan gambar-gambar yang spektakuler. Seperti film-film macam 'Armageddon', 'Independence Day', 'The Day After Tomorrow' sampai '2012', 'San Andreas' mengerahkan tim visual efek yang begitu ahli dalam pekerjaannya sehingga setiap guncangan, runtuhan (gedung), hantaman (tsunami) dan puing-puing terlihat nyata dan mengagumkan. Dengan bantuan sound design yang mumpuni, atraksi marahnya alam yang luar biasa inilah yang menjadikan 'San Andreas' film yang wajib untuk disaksikan di layar paling besar yang bisa Anda dapat. Tata audionya benar-benar membantu penonton untuk merasakan horor yang anehnya menghibur.

Kekurangannya tentu juga ada. Film ini serba klise dengan karakter-karakter yang terlalu "cetek" untuk membuat kita bisa peduli terhadap mereka. Para pemainnya memang mencoba untuk memberikan lebih. Seperti Carla Gugino atau Alexandra Daddario. Namun skrip dari Carlton Cuse, salah satu penanggung jawab serial 'Lost' dan juga 'Bates Motel', tidak memberikan sesuatu yang baru selain hanya menghambur-hamburkan bencana di layar. Semua karakternya tidak original. Ray dan keluarganya akan selamat sampai akhir film. Ini bukan spoiler. Tapi cara mereka menuju ke sanalah yang membuat penonton deg-degan. Sayangnya, Cuse tidak memberikan sesuatu yang fresh. Adegan Blake menunggu dijemput ayahnya justru mengingatkan pada aksi Jake Gyllenhaal dalam 'The Day After Tomorrow'.

Selain plot yang gampang ditebak, karakter yang tidak berkembang, dialog-dialog film ini juga tidak membantu. Tapi, lupakan saja, semua itu justru membuat San Andreas semakin terasa sebagai tontonan musim panas yang benar-benar murni untuk hiburan. Jauh berbeda dengan 'Mad Max: Fury Road' yang memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Peyton memang lebih asyik untuk bermain dengan CGI daripada mengarahkan pemainnya ke poin maksimal. Namun, untungnya dia memiliki Dwayne Johnson yang memang memiliki kharisma berlebih. Di tangannya karakter Ray bisa membuat penonton bersimpati meskipun semua yang dilakukannya adalah copy paste dari semua hero di film bencana. Tapi lagi-lagi, justru di sanalah daya tarik film ini. Jika Anda kangen untuk nonton film seru-seruan bersama teman-teman yang bisa dinikmati oleh semua golongan, inilah pilihannya. Dengan layar besar dan tata suara yang mantap, menyaksikan California luluh lantak bisa jadi hiburan tersendiri yang tidak ada duanya.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta

(mmu/mmu)