'Pitch Perfect 2': Kembalinya Gadis-gadis Acapella

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 29 Mei 2015 11:20 WIB
Jakarta -

Tidak akan ada yang percaya jika sebuah film tentang acapella ternyata bisa menjadi salah satu film paling fenomenal di era digital ini. Ketika dirilis dua tahun lalu, film pertamanya secara rendah hati ternyata sanggup bersaing dengan film-film besar. Padahal 'Pitch Perfect' hanyalah sebuah komedi ringan tentang anak-anak muda yang mengejar mimpi, menikmati derasnya adrenalin dan tentu saja, kisah cinta.

Mungkin keberadaan serial TV 'Glee' dan banyaknya acara pencari bakat seperti The Voice, American Idol dan semacamnya mendukung 'Pitch Perfect' untuk tampil maksimal. Atau, mungkin karena film tersebut memang mempunyai kepercayaan diri yang berlebih. Dengan humor yang sangat edgy dan keberaniannya untuk tetap menjadi diri sendiri, 'Pitch Perfect' berakhir menjadi salah satu komedi yang tidak hanya berhasil secara kualitas namun menjadi benchmark paten di panggung industri budaya pop. Siapapun sekarang pasti sudah tidak familiar dengan jargon aca-awesome atau aksi-aksi Fat Amy yang juara. Dan berkat itulah, tanpa menunggu lama, sekuelnya langsung diberi lampu hijau.

Dalam 'Pitch Perfect 2', para teman kita yang tergabung dalam kelompok Barden Bellas sudah menjadi aca-pella darling selama tiga tahun. Becca (Anna Kendrick) dan teman-temannya sekarang mendapatkan kehormatan untuk bernyanyi di depan Obama pada hari ulang tahunnya. Bencana terjadi ketika celana Fat Amy (Rebel Wilson, magnet hidup) robek dan mempertontonkan kepada dunia organ pribadinya. Barden Bellas pun langsung menjadi kecaman dunia.

Si petinggi aca-pella, John Smith (John Michael Higgins) dan Gail Abernathy-McFadden-Feinberger (Elizabeth Banks) meminta Bardens Bella untuk mengundurkan diri selama-lamanya dari dunia aca-pella. Tentu saja ini membuat Chloe (Brittany Snow) langsung aca-pusing. Dia sudah mengabdikan hampir seluruh hidupnya berjuang demi Barden Bellas. Dengan Emily Junk (Hailee Steinfeld) datang sebagai anggota baru, Barden Bellas pun tidak ada pilihan lain selain ikut kompetisi aca-pella sedunia untuk merebut kembali kehormatan yang mereka raih.

Dalam 'Pitch Perfect 2' Elizabeth Banks tidak hanya kembali memerankan perannya sebagai komentator tanpa filter—komentar-komentarnya dan chemistry-nya dengan John Michael Higgins adalah sajian yang selalu menyenangkan—tapi juga menggantikan kedudukan Jason Moore sebagai sutradara. Dalam debut pertamanya sebagai sutrada, Banks tidak mempunyai kesulitan yang berarti dalam mengarahkan adegan atau para aktornya. Anna Kendrick, Brittany Snow dan terutama Rebel Wilson siap memberikan semua kekuatan mereka untuk kembali ke peran yang membuat mereka melesat.

Dalam sekuelnya ini, adegan-adegan musikalnnya juga tampil jauh lebih meriah dan variatif dari film pertamanya. Jika dalam film pertamanya kita melihat adegan riff-off di sebuah kolam renang yang terbengkalai, kali ini kita menyaksikan riff off yang lebih kompleks, misterius dan menggelikan dengan David Cross sebagai cameo yang legit.

Yang membuat 'Pitch Perfect 2' kurang begitu nampol adalah skrip dari Kay Cannon. Membuat sebuah sekuel dari sebuah film yang dicintai semua orang bukanlah pekerjaan yang mudah. Secara plot besar, Cannon memang sudah melakukan pekerjaan yang baik. Ia memberikan konflik internal dan eksternal yang apik bagi Becca. Kegelisahannya tentang masa depan sesungguhnya vs. Barden Bellas adalah konflik yang realistis.

Namun keputusan tersebut membawa Cannon terhadap karakter-karakter lain yang jadinya hanya terkesan sebagai tempelan. Kecuali kedatangan Aubrey (Anna Camp) yang cukup membantu plot, kehadiran Benji (Ben Platt) dan Jesse (Skylar Astin) terlihat hanya untuk membuat para fans film pertamanya bahagia melihat kehadiran mereka. Bumper (Adam DeVine) yang mendapatkan sorotan keren di film pertamanya juga menjadi karakter letoy menyebalkan di film ini karena dia hanya bertugas sebagai love-interest Fat Amy. Bandingkan dengan adegan flirting pasif-agresif antara keduanya di film pertamanya yang benar-benar kocak. Karakterisasi aslinya yang disunat demi kepentingan plot menjadi agak menyebalkan.

Kehadiran musuh Barden Bellas yaitu Das Sound Machine justru jauh lebih menarik perhatian. Terutama adegan saling konfrontasi antara Becca dan dedengkot Das Sound Machine. 'Pitch Perfect 2' harusnya lebih teratur dalam mengatur tempo dan ritme bercerita.

Tapi tetap saja. Bagi Anda yang sudah merasa menjadi bagian dari Barden Bellas, 'Pitch Perfect 2' tetap memberikan nuansa nostalgia yang pekat. Setiap kali Fat Amy berbicara atau bergerak, Anda akan segera menyeringai lebar dengan cepat. Dan ketika para cewek-cewek ini bernyanyi, Anda akan kesetrum untuk ikutan nyanyi juga. Barden Bellas memang memiliki girl power yang terlalu kuat untuk hindari.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.



(mmu/mmu)