'Shattered Glass', Cerita Asli Sebuah Fiksi
Rabu, 02 Feb 2005 14:10 WIB
Jakarta - Shattered Glass, berkisah tentang jurnalis bernama Stephen Glass. Di tengah persaingan yang ketat, Glass membuat cerita-cerita fiksi demi mengangkat karirnya.The New Republic, tempat Glass (Hayden Christensen) berkantor adalah majalah ternama yang sangat disegani. Majalah itu juga konon menjadi bacaan resmi di atas pesawat Air Force One yang biasa ditumpangi orang nomor satu di Amerika tersebut. Glass yang masih tergolong muda dengan hasil kerja yang brilian sudah mampu menduduki kursi editor di majalah tersebut. Ia juga menjadi penulis lepas untuk media lain seperti Rolling Stones dan New York Times. Keadaan inilah yang diimpikan oleh Glass: muda, sukses, dan disegani oleh banyak orang. Cerita bermulai ketika Glass, berada pada sebuah kelas di sekolah lamanya untuk menjelaskan kepada para siswa tentang tips-tips bertahan di dunia jurnalistik. Sambil bercerita kita dibawa Glass ke kehidupan sehari-harinya di The New Republic, mulai dari rapat redaksi sampai proses mencari berita.Masalah mulai timbul ketika sebuah media lain ingin membuat liputan lanjutan tentang berita Glass. Editor The New Republic kemudian meminta Glass memberikan nomor kontak dan data-data yang diperlukan. Glass pun mulai terjerat dalam kesulitan. Tapi itu tak membuatnya gentar karena segala perlengkapan berbohong memang telah disiapkannya, mulai dari nomor telepon palsu sampai alamat email bohongan. Tapi sekeras apapun ditutupi bau tak sedap lama-lama tercium juga, secara tak sadar Glass akhirnya mengubur diri dengan berbagai kebohongan yang telah disiapkannya dengan rapih.Tampil meyakinkan ternyata adalah kunci utama sukses Glass mendongkrak karirnya. Seperti juga yang ia lakukan pada penonton film ini. Dari awal kisah kita terbuai dengan cerita sukses Glass yang mengagumkan. Tanpa disadari ternyata penonton juga termasuk orang-orang yang tertipu dengan kepiawaian Glass memainkan kata-kata.Film ini banyak mengisahkan intrik dan kegiatan sehar-hari dalam dunia jurnalistik. Untuk para wartawan, bisa jadi ini tontonan yang menarik, tapi untuk penonton yang tidak memiliki ketertarikan pada dunia pemberitaan, mungkin sedikit bosan dengan film berdurasi hampir 3 jam tersebut. (fta/)











































