'Whiplash': Monster di Balik Pemimpin Orkestra Jazz

- detikHot
Selasa, 17 Feb 2015 13:00 WIB
Jakarta -

'Whiplash' adalah jenis film yang begitu lampu bioskop dinyalakan, Anda tidak akan berhenti memikirkannya, mengingat semua adegannya dan kemudian mendiskusikannya sampai berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari berikutnya. Film panjang kedua Damien Chazelle ini memang begitu powerful, menghipnotis dan sakti sehingga banyak kritikus film dunia menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik 2014.

Salah satu letak kejeniusan Whiplash adalah kesederhanaannya. Dalam film ini kita melihat murid bernama Andrew (Miles Teller) yang begitu semangat untuk menjadi drummer terbaik di sekolah musik Shaffer Conservatory yang prestisius di New York. Salah satu hal yang menjadi impian semua murid di sana adalah bisa masuk band orkestra jazz sekolah yang dipimpin oleh Terrence Fletcher (J. K. Simmons). Hanya orang-orang terbaik dari yang terbaik yang bisa masuk band tersebut. Dan, kesempatan untuk menjadi pemain musik profesional akan terbuka lebih lebar jika Anda terpilih.

Tentu saja itu tidak mudah. Tidak hanya karena Terrence Fletcher begitu selektif namun dia adalah horor bagi siapapun yang menjadi anak buahnya.
Teror Fletcher kepada seluruh muridnya dan terutama Andrew inilah yang menjadi konflik utama 'Whiplash'. Teror yang diciptakan tidak hanya sebatas fisik namun juga mempengaruhi psikologis semua murid-muridnya. Sejauh apa yang Anda lakukan untuk mengejar mimpi? Seberapa keras seorang guru bisa menekan muridnya untuk menjadi yang terbaik? Apa yang terjadi jika metode pembelajaran seorang pendidik mempengaruhi kejiwaan sang murid? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya menjadi melodi utama untuk film ini.

Damien Chazelle yang masih berumur 30 tahun adalah nada baru yang menyegarkan di dunia perfilman. Setelah sambutan supermeriah atas film pendeknya yang berjudul sama di Sundance Film Festival 2013, Right of Way Films dan Blumhouse Productions setuju untuk mendanai Chazelle membuat versi panjangnya. Pilihan para produser itu tidak salah. Chazelle yang menulis dan menyutradarai 'Whiplash' mengerahkan seluruh semangatnya yang menular dan menjadikan film ini berpendar sangat terang.
 
Salah satu poin keberhasilan itu adalah fakta bahwa Damien Chazelle tidak bertele-tele. Dia tahu benar bagaimana menceritakan filmnya dengan tepat sasaran. Penonton digiring untuk tetap fokus kepada dua karakternya, Andrew dan Terrence Fletcher. Tidak ada waktu untuk membahas urusan yang tidak penting. Kalaupun ada subplot asmara antara Andrew dan Nicole (Melissa Benoist), itu pun untuk menambahkan drama yang semakin menggila begitu Andrew larut dalam kegilaan Fletcher. Semua hal yang tidak perlu benar-benar absen dalam 'Whiplash'.

Di tengah kesederhanaan bercerita, Chazelle mengimbanginya dengan teknik penyutradaraan yang canggih. Sebagai lulusan sekolah musik, Chazelle tahu benar bagaimana menggambarkan sekolah musik yang penuh dengan persaingan. Bahkan seandainya sekolah yang dibuatnya adalah sekolah fiksi. Eksposisinya yang sederhana tapi begitu jitu soal status sosial para siswa musik tersebut sangat membantu penonton dengan mudah untuk memahami sosok Andrew di awal film yang kelihatan seperti pecundang. Aura menyeramkan Terrence Fletcher juga dikemas dengan penuh ketelitian —editor Tom Cross mengerjakan tugasnya dengan begitu apik— sehingga begitu sosoknya muncul di layar, Miranda Priestly pun mungkin akan ikutan merengut seperti karakter-karakter lainnya.

Klimaks yang berjalan dengan intens —hampir lima belas menit!— dan semakin menggila setiap menitnya juga bukti nyata bahwa Chazelle bisa meramu kisah drama ini lebih menegangkan dari semua film Stallone, Schwarzenegger dan Bruce Willis jadi satu. Dan, ending-nya yang begitu kuat serta disajikan murni dengan visual dan akting membuktikan bahwa sutradara muda ini memang masa depan yang begitu cerah.

Sedangkan Miles Teller, yang sudah disebut-sebut menjadi salah satu aktor muda berbakat sejak permainannya yang santai tapi keren dalam film 'The Spectacular Now', menunjukkan aktingnya yang nampol sebagai Andrew. Transformasinya dari murid yang terobsesi sampai akhirnya benar-benar terinfeksi Terrence Fletcher terlihat dengan jelas di layar. Dalam satu adegan makan malam bersama keluarga, Anda bisa melihat passion-nya di musik bahkan hanya dalam satu kalimat. Sementara, J. K. Simmons yang memenangkan hampir semua award untuk peran ini adalah segala-galanya bagi 'Whiplash'. Tanpa tatapan matanya yang sangat horor dan auranya yang begitu kuat, Terrence Fletcher tidak akan menjadi sekuat itu.

Kalau Anda melihat peran-peran Simmmons sebelumnya seperti sebagai orangtua Ellen Page dalam 'Juno', Anda tidak akan percaya bahwa aktor ini bisa menjadi monster yang begitu berbahaya. Selama kamera menangkap sosoknya di layar, selama itulah Anda akan menggenggam erat kepalan tangan Anda untuk memukul wajahnya.
 
Di tengah gempuran film-film Hollywood yang melulu berisi remake, adaptasi dan sekuel, cukup menyegarkan ada sosok seperti Chazelle yang bersedia untuk mengajak penonton mengeksplorasi psikologi manusia dalam balutan musik yang membuai. Dibutuhkan banyak uang untuk membuat blockbuster Hollywood. Tapi, dibutuhkan talenta yang luar biasa untuk membuat tontonan seperti 'Whiplash'. Ini bukan sekedar drama yang luar biasa tapi sebuah standar baru bagi film musik. Melewatkannya adalah sebuah dosa besar.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)