'Pendekar Tongkat Emas": Dunia Persilatan Minim Duel dan Jagoan

- detikHot
Selasa, 23 Des 2014 10:35 WIB
Jakarta - Narasi penuh renungan dari pendekar tua Cempaka (Christine Hakim dengan suara beratnya) yang mengawali kisah dunia persilatan ini, serta bagaimana film ini menampilkan sosoknya yang berwibawa penuh kharisma, berhasil membuai saya pada kesan pertama. Betapa tidak, melihatnya berbalut pakaian kuno dengan tongkat menopang tubuhnya berjalan menyusuri alam luas nan eksotis di negeri antah berantah sungguh sebuah gelaran opening scene yang bukan main. Ditambah, tak lama setelah itu, kita pun segera disuguhi adegan baku hantam antara ia dan murid-muridnya sendiri. Ah, film yang bakal mengasyikkan, pikir saya sejurus kemudian.

Premis 'Pendekar Tongkat Emas' memang cukup generik seperti yang sudah-sudah dalam sejumlah film silat klasik Indonesia, atau bahkan dalam film kungfu sekali pun; tentang murid baik hati yang balas dendam akan kematian gurunya yang dibunuh orang jahat. Dalam film ini, orang jahat itu adalah Biru (Reza Rahadian, 'Strawberry Surprise') dan Gerhana (Tara Basro), sepasang kakak seperguruan Dara (Eva Celia, 'Adriana'), si tokoh utama kita, dan si bontot Angin (Aria Kusumah). Biru dan Gerhana berkomplot membunuh Cempaka lantaran tak rela senjata wasiat tongkat emas diturunkan kepada Dara, cewek bau kencur --setidaknya begitu bagi Biru, murid Cempaka paling senior sekaligus paling berilmu tinggi yang terbakar obsesi untuk memiliki tongkat yang konon memiliki kekuatan luar biasa itu.

Dara hampir terbunuh, bila saja ia tak diselamatkan oleh Elang (Nicholas Saputra), pendekar muda se-misterius Rangga dari film 'Ada Apa Dengan Cinta?' yang memiliki sorot mata tajam dan gaya bicara dingin --kebetulan keduanya diperankan aktor yang sama. Elang lah kunci bagi Dara untuk menumpas kebatilan sekaligus merebut kembali hak wasiatnya.

Film 'Pendekar Tongkat Emas' ini merupakan upaya membangkitkan kembali genre film silat klasik yang sempat jaya pada kurun 70-an hingga 90-an. Pada masa tersebut lahir pendekar-pendekar legendaris Nusantara seperti si Pitung, si Jiih, Jaka Sembung, Si Buta dari Goa Hantu, si Mata Malaikat, si Kupra, si Rawing, hingga Jaka Swara (Jaka Sembung versi pandai menyanyi yang diperankan oleh Bang Haji Rhoma Irama).

Bagi sutradara Ifa Isfansyah, film ini bisa juga merupakan jurus terbarunya dalam menggarap film selepas 'Garuda di Dadaku' yang cukup berhasil meramu drama persahabatan anak-anak dalam bungkus sepakbola, dan 'Sang Penari' --drama secuplik episode kelam sejarah bangsa ini dalam balutan seni tari. Maka, 'Pendekar Tongkat Emas' adalah gelaran drama lainnya dari Ifa yang dibungkus dalam laga silat. Hasilnya? Kekuatan drama yang biasanya 'nonjok' dari Ifa kini melempem, pun sebagai tontonan laga film ini masih kurang gereget.

Dalam ruang cerita yang begitu luas, dunia persilatan di film ini nampaknya kekurangan pendekar, kekurangan set padepokan-padepokan perguruan silat, dan juga kekurangan ekstra pemain pendukung rakyat jelata. Ini penting bagi motivasi Biru yang diceritakan begitu haus akan kekuasaan, sebab untuk apa sebenarnya ia ingin jadi penguasa lalim bila tak ada orang dan masyarakat hendak ia kuasai kemudian? Akan menarik apabila dalam semesta dunia persilatan film ini, tongkat emas itu menjadi rebutan semua pendekar dari berbagai perguruan hingga bakal terjadi pertarungan-pertarungan sengit di antara mereka.

Buat Anda yang tak pernah menonton tayangan di National Geographic Channel, setidaknya pemandangan alam Sumba yang dijadikan latar film ini bakal membuat Anda berdecak kagum. Bonusnya, iringan musik dari Erwin Gutawa yang cukup menghipnotis. Dan, tentu saja penampilan gemilang dari Eva Celia. Sayangnya, selain daripada itu selebihnya tak ada yang istimewa.

Penata kamera Gunnar Nimpuno ('Sang Pemimpi') tak cukup lihai menangkap adegan pertarungan di film ini menjadi tontonan duel yang mencengangkan. Film silat zaman dulu semisal 'Si Buta Lawan Jaka Sembung' (Dasri Yacob, 1983) memiliki adegan kelahi yang jauh lebih mencengangkan ketimbang film ini: ada pendekar yang terbang ke sana ke mari, tubuh yang meledak terkena jurus maut, juga shot-shot lebar yang menangkap adegan duel secara utuh. Film 'Pendekar Tongkat Emas' lebih sering menangkap adegan kelahinya dalam shot-shot medium close up, atau dalam shot-shot yang lumayan lebar. Anehnya, shot-shot tersebut seringkali tak menyisakan head room sedikit pun, seakan sang juru kamera tengah bersiasat dengan jurusnya sendiri, mengakali kalau-kalau ada kawat sling yang terlihat menyembul dari belakang kepala para pemain.

Sebagai film laga, aksi kelahi di film ini teramat minim, dan muatan drama dalam kisahnya sendiri gagal memikat hati. Mungkin ada baiknya bila keempat penulis skenario film ini (Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, Seno Gumira Ajidarma) bertarung habis-habisan dulu dalam menulis skenario hingga titik darah penghabisan mereka. Siapa tahu, seorang penulis yang menang punya jurus pamungkas yang dapat mencegah keabsurdan "duel tongkat" di pengujung film ini, agar tak terjadi.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)