Β
Seperti film bagus lainnya, 'A Walk Among The Tombstones' akan lebih asyik bila Anda tidak mengetahui isi ceritanya. Yang perlu Anda tahu adalah Matt Scudder (Liam Neeson), seorang detektif swasta, dipanggil oleh Kenny Kristo (Dan Stevens) untuk menyelidiki siapa yang membunuh istrinya.
'A Walk Among The Tombstones' merupakan adaptasi dari serial detektif Matt Scudder yang ditulis oleh Lawrence Block. Pada 1986 Hal Ashby pernah mengadaptasi salah satu novel Block ke dalam '8 Millions Ways To Die'. Jeff Bridges-lah yang memerankan sosok Scudder dalam film tersebut. Dibandingkan dengan '8 Millions Ways To Die', 'A Walk Among The Tombstones' mengungguli film tersebut atas beberapa hal.
Pertama, atmosfer film. 'A Walk Among The Tombstones' memiliki aura dingin yang kuat. Sama seperti 'Prisoners' yang dirilis setahun sebelumnya, petualangan Scudder dalam mencari dua psikopat yang selalu membunuh perempuan menjadi semakin memikat dengan suara hujan, dan Liam Neeson basah-basahan. Keputusan Scott Frank untuk menceritakan film ini di tahun 1999 juga menambah kesenangan tersendiri. Seperti halnya 'Silence of the Lambs' dan 'Se7en', 'A Walk Among The Tombstones' terasa bak nostalgia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, pilihan pemainnya. Tidak dapat disangkal bahwa 'A Walk Among The Tombstones' adalah kendaraan Liam Neeson untuk bersinar. Berbeda dengan aksinya dalam 'The A-Team', dua film 'Taken', 'The Grey' ataupun 'Non-Stop' yang dirilis awal tahun ini dimana semuanya merupakan aksi pamer Neeson untuk menghajar para penjahat, 'A Walk Among The Tombstones' merupakan ujian Neeson untuk mengukuhkan bahwa dirinya bisa menyampaikan emosi tanpa harus berbicara. Sorotan matanya sudah mengatakan banyak hal. Dan, aksinya ini tentu saja mengungguli Bridges.
Yang juga menarik adalah Neeson tidak senarsis itu. Dia bersinar dan masih mampu memberikan kesempatan pemain lain untuk ikutan kecipratan lampu sorot. Dan Stevens yang kebagian peran sebagai suami yang dendam juga berhasil menyampaikan amarahnya dengan baik. Boyd Holbrook juga sanggup menunjukkan sisi tersembunyinya ketika momennya tiba. Brian 'Astro' Bradley menjadi comic relief dan partner yang paling pas untuk Neeson.
Kekurangan 'A Walk Among The Tombstones' adalah motivasi dan penangkapan si pelaku. Berbeda dengan film-film seperti 'Memories of Murder'-nya Bong Jon-hoo atau 'Se7en'-nya David Fincher yang memiliki motivasi pembunuhan yang jelas, film ini agak sedikit abstrak. Apakah mereka sebenarnya penjahat yang dimotivasi atas kegelisahan seksual seperti dalam 'Silence of the Lambs'? Atau, sebenarnya ini semua hanya soal uang? Proses penangkapan dua psikopat itu juga terlalu biasa, kalau mau menghindari kata "garing". Film seperti ini, layaknya serial hits HBO 'True Detective', memang menekankan proses, bukan hasil akhir. Tapi, akan lebih nendang lagi kalau Frank memberikan sesuatu di bagian penangkapan; memberikan waktu khusus untuk membuat kepintaran Scudder semakin menggelegar.
Tapi, lebih dari itu 'A Walk Among The Tombstones' merupakan sebuah tontonan yang istimewa. Dengan cerita yang pas, pemain yang oke, skrip yang mantap --dialog-dialognya begitu natural-- dan humor gelap yang menyenangkan, film ini akan membuat Anda mengunyah misteri yang ada dengan cengiran lebar di wajah. Efek sampingnya, mungkin Anda akan mempertanyakan moral Anda ketika diam-diam Anda menginginkan Liam Neeson menggorok leher si penjahat.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































