Kolkata, ibu kota Benggala Barat, adalah tempat kita pertama kali menjumpai kedua tokoh utama film ini. Kita diajak berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut kota, dan sesekali mendengar ocehan mereka tentang segala hal.
Shila hobi menulis dan Kirana senang memotret dengan kamera DSLR-nya. Keduanya cantik, dan kedua cewek cantik ini melakukan perjalanan ke gunung Himalaya. Premis yang apik untuk sebuah road movie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emil hanya mampu menangkap gambar sebanyak-banyaknya dan menyodorkannya begitu saja kepada kita tentang warga Kolkata yang sedang mandi misalnya, atau orang-orang yang beribadah, suasana kota, apapun yang sempat ia temui selama proses syuting berlangsung, tanpa tujuan dan arah yang pasti. Acara Syahrini jalan-jalan ke India yang disiarkan TV barangkali jauh lebih menarik.
Sepertinya naskah cerita film ini hanya berupa kumpulan dialog saja, tanpa keterangan setting, keterangan waktu dan lain sebagainya. Kumpulan dialog itu kemudian dipakai dalam pengadeganan yang acak, terjadi di kamar-kamar hotel, atau di tempat-tempat yang tak terlalu bising.
Menulis naskah film yang seakan hanya berupa kumpulan dialog mestinya jadi pekerjaan yang mudah bagi Damas Cendekia, atau setidaknya ia bisa berkonsentrasi penuh untuk menciptakan dialog-dialog yang mampu menyetir plot. Namun harapan tinggallah harapan, alih-alih mendapat suguhan dialog yang cerdas, kita lebih sering dibuat ternganga dan gemas mendengar kedua tokoh film ini terlibat percakapan satu sama lain.
Penampilan akting Nadine dan Ranggani pun tak membantu apa-apa. Dan, alih-alih sampai ke puncak Himalaya, di penghujung film kita justru diantarkan kepada twist ending film ini --yang andaikata Anda seorang bertemperamen tinggi, cukuplah membuat Anda emosi.
Pada satu adegan, Kirana cerewet soal seorang fotografer pujaannya yang menurutnya mampu menangkap gambar-gambar humanis, dramatis dari objek jepretannya. Kirana berujar bahwa sebagai seorang fotografer, ia ingin seperti pujaannya tersebut, namun anehnya ia tetap saja memotret objek-objek tidak dengan cara seperti yang dilakukan oleh fotografer pujaannya tadi. "Bukan foto-foto begini yang gue pengen potret," kilahnya kepada Shila sambil memperlihatkan hasil jepretannya.
Persis seperti Kirana, sutradara Emil Heradi seakan lantang berujar, "Gue pengen film ini berakhir kayak 'The Sixth Sense'!" Namun ia tak menempuh cara-cara yang sama seperti yang dilakukan M. Night Shyamalan --membangun dialog dan pengadeganan yang jauh dari plot hole dan tak terbantahkan tatkala twist ending terungkap di akhir film. Ah, boro-boro menyibukkan diri memikirkan cerita dan plot yang masuk akal, rupanya tim pembuat film ini lebih sibuk dengan urusan membawa-bawa kamera keliling kota dan syut sana-sini sesuka hati.
Shandy Gasela (@shandygasella) pengamat perfilman Indonesia
(mmu/mmu)











































