Orang-orang zaman sekarang sudah mulai jarang menonton film di bioskop lagi. Teknologi yang berkembang dengan supercepat telah mengubah segalanya. Pada 20 tahun yang lalu, bioskop adalah satu-satunya cara menonton film dengan benar. TV masih belum high-definition, dan internet masih merupakan sebuah mitos. Sekarang, orang-orang bisa menonton film di mana saja. Di TV dengan layanan berlangganan, di internet dengan menggunakan Netflix, bahkan di gadget dengan layar mikro. Film sudah kehilangan kekuatan magisnya.
Dan, seperti mendengar suara jeritan para pecinta film sejati, sutradara asal Meksiko bernama Alfonso Cuarón ('Children of Men', 'Harry Potter and the Prisoner of Azkaban') mengembalikan magis itu. 'Gravity' adalah sebuah film yang harus –sekali lagi, harus!– Anda saksikan di layar besar untuk merasakan kemagisannya.
Sandra Bullock bermain sebagai Ryan Stone yang baru pertama kali berada di luar angkasa. Bersama dengan pemandunya, Matt Kowalsky (George Clooney), tugasnya adalah memperbaiki Hubble Telescope. Ketenangan di luar angkasa menjadi rusak ketika satelit Rusia meledak dan menyisakan kepingan-kepingan kecil yang mengancam nyawa Ryan Stone dan Matt Kowalsky. Dan, itulah saat kedua manusia di tengah angkasa yang tak berjarak itu melayang-layang dan menyelamatkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke-"ngoyo"-an Cuarón tidak sia-sia; 'Gravity' adalah sebuah film dengan visual yang luar biasa. Bersama dengan sinematografer Emmanuel Lubezki dan bantuan spesial efek canggih dari Tim Webber, Cuarón membuat 'Gravity' terasa seperti benar-benar di luar angkasa. Di layar besar –terutama IMAX, kalau Anda mempunyai kesempatan menontonnya di sana– kekuatan visual Lubezki sanggup membuat Anda merasa melayang bersama Sandra Bullock. Ketika dia kehabisan napas, Anda akan ikut merasakannya. Ketika dia merasa putus asa di tengah kekosongan, ketika jeritan sekeras apapun hanya akan sia-sia saja, Anda akan merasakan hal yang sama pula.
Penggunaan efek 3D semenjak 'Avatar' telah menjadi marketing gimmick. Namun, seperti yang dilakukan Ang Lee dalam 'Life of Pi', 3D dalam 'Gravity' adalah salah satu aspek yang akan membantu Anda meresapi bagaimana rasanya melayang di luar angkasa, atau bagaimana rasanya ketika pecahan-pecahan satelit Rusia terbang di hadapan wajah Anda.
'Gravity' tidak akan menjadi sebuah pengalaman yang tak terlupakan tanpa audio yang juga mendebarkan. Steven Price adalah orang yang bertanggung jawab penuh membuatnya terasa sangat overwhelming. Tanpa musiknya yang begitu powerful, perjuangan Clooney dan Bullock untuk tetap selamat tidak akan terasa sedramatis itu.
Ngomong-ngomong soal Clooney dan Bullock, mereka adalah nyawa penting dalam 'Gravity'. Secanggih apapun tekniknya, film ini tidak akan seberhasil itu tanpa kehadiran mereka. Clooney sebagai Matt Kowalsky adalah figur yang menyenangkan, bijak dan berpengalaman. Kalaupun joke-nya terasa garing, dia adalah orang yang akan Anda tuju ketika Anda mendapatkan masalah. Dan, Clooney melakukannya dengan sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Bullock, di sisi lain, mendapatkan tugas berat untuk membawa 'Gravity' ke level dramatis yang dibutuhkan. Ia menghabiskan waktu 6 bulan untuk persiapan menjadi Ryan Stone. Diskusi berat bersama sang sutradara serta latihan fisik menjadi hal utama saat dia menerima pekerjaan ini. Hasilnya, Bullock tak mengecewakan kita. Kepanikannya, keputusasaannya, perjuangannya bisa Anda lihat bahkan tanpa dia membuka mulutnya. Semuanya terjawab di pandangan matanya dan desahan napasnya yang begitu diatur dengan sempurna. Lihat misalnya adegan ketika Bullock berkomunikasi dengan warga asing di bumi, Anda akan melihat kenapa dia adalah salah satu aktris hebat saat ini.
'Gravity' mungkin memang bukan film paling original sepanjang masa –manusia menghadapi tantangan maut di luar angkasa bukanlah barang baru lagi. Namun, film ini adalah bukti nyata bagaimana seorang filmmaker memberikan sebuah persembahan yang tak terlupakan. 'Gravity' adalah sebuah pencapaian tertinggi dalam sebuah filmmaking, dan sebuah pengalaman emosi yang begitu mempesona. Dan, saya merasa sangat beruntung bisa menyaksikannya dalam IMAX 3D, karena itu adalah hal yang paling mendekati untuk mencoba rasanya melayang di gravitasi nol.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































