The Butler: Kisah Pelayan Kulit Hitam di Gedung Putih

The Butler: Kisah Pelayan Kulit Hitam di Gedung Putih

- detikHot
Selasa, 08 Okt 2013 16:46 WIB
The Butler: Kisah Pelayan Kulit Hitam di Gedung Putih
Jakarta - Cecil Gaines (Forest Whitaker) menjadi saksi ketika ayahnya ditembak mati di kebun pertanian kapas pada 1920 silam, ketika kaum kulit hitam masih diperlakukan diskriminatif. Beberapa puluh tahun kemudian, ia tumbuh dan berkembang menjadi kepala pelayan di Gedung Putih hingga 7 kali pergantian presiden.

"Kamu tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun. Yang kamu lakukan hanyalah melayani," demikian pesan atasan Cecil di Gedung Putih sebelum ia pertama kali bertugas.

Cecil pertama kali menuangkan teh dalam ruangan kerja Presiden AS ke-34 Dwight D. Eisenhower (Robin Williams), yang tengah memimpin rapat. "Aku seperti mau pipis," ucapnya kepada James Holloway (Lenny Kravitz) dan Carter Wilson (Cuba Gooding, Jr), rekan kerjanya sesama butler.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluarga Cecil Gaines merayakannya dengan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama tetangga. Istrinya, Gloria Gaines (Oprah Winfrey) begitu bersukacita. Dari hasil jerih payahnya bekerja, Cecil berhasil menyekolahkan anaknya Louis (David Oyelowo) hingga ke tingkat universitas, dan menjadi generasi pertama di Fisk University.

Namun, bukannya kuliah dengan tekun, Louis malah bergabung dengan kelompok yang menyuarakan persamaan hak bagi kulit hitam. Serangkaian aksi demonstrasi dilakukannya hingga bolak-balik masuk penjara. Hal itu membuat Cecil gusar, dan Gloria juga menjadi pecandu alkohol karena kesepian.

Pada 1961 ketika John F. Kennedy (James Marsden) terpilih menjadi Presiden ke-35, timbul secercah harapan bagi Cecil. Ketika kaum kulit putih makin semena-mena pada kaum kulit hitam, ia merasa baru kali ini ada presiden yang mengeluarkan kebijakan untuk membelanya. Hingga ketika Kennedy tewas tertembak, hati Cecil hancur.

Cecil seperti berada dalam dua dunia yang berbeda selama bekerja melayani tujuh presiden. Di satu sisi, mereka memperlakukannya dengan baik sebagai pekerja, dan sebagai pribadi yang berkulit hitam. Tetapi di sisi lain, pemerintah AS tak ambil tindakan dengan pergolakan di dalam negeri yang semakin parah, malah mereka sibuk ikut campur mengurusi permasalahan negara lain.

Hubungan Cecil dengan anak lelaki tertuanya juga semakin renggang karena ia terus memperjuangkan hal yang menurut Cecil sia-sia dan bisa membuat sang anak terbunuh, seperti mentor Louis, Martin Luther King Jr.

Film arahan sutradara Lee Daniels ini bukan hanya bisa membuat Barack Obama menangis, tetapi mengingatkan kembali sejarah kelam di AS, di mana manusia layaknya diperlakukan seperti binatang. Butuh beberapa dekade hingga akhirnya kesetaraan hidup bermasyarakat tanpa memandang warna kulit, benar-benar menjadi kenyataan.

Setelah menonton film ini, Obama yang pernah diwawancara mengatakan sangat terharu, dan langsung membayangkan para pelayan yang bekerja di Gedung Putih. Ia juga memikirkan generasi yang berkompeten di masa itu, namun kurang beruntung karena masalah diskriminasi dan hal lainnya sehingga mereka tidak memiliki kesempatan mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Forest Whitaker memainkan perannya dengan sangat baik sebagai pelayan yang taat dan memiliki reputasi di Gedung Putih. Sementara kemampuan akting Oprah Winfrey juga tak disangka-sangka, dan mungkin bisa disandingkan dengan Viola Davis si pemenang Oscar.

'The Butler' diangkat dari kisah nyata pelayan Gedung Putih bernama Eugene Allen. Film ini sepertinya akan mampu berbicara banyak di ajang Academy Awards mendatang.


(ich/kmb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads