'Leher Angsa': Komedi dan Sensasi Seputar Buang Hajat

'Leher Angsa': Komedi dan Sensasi Seputar Buang Hajat

- detikHot
Jumat, 21 Jun 2013 11:08 WIB
Leher Angsa: Komedi dan Sensasi Seputar Buang Hajat
Jakarta - Seakan sudah menjadi pakem rumah produksi Alenia Pictures bahwa film-film hasil produksi mereka (memang harus) selalu menampilkan keindahan alam negeri ini. Kita pernah menyaksikan cantiknya pulau Sumbawa lewat 'Serdadu Kumbang', lalu lewat 'Di Timur Matahari' kita diajak berkunjung ke perkampungan eksotis di pedalaman pegunungan Papua.

Kini dengan mengusung judul 'Leher Angsa', sutradara Ari Sihasale membawa kita menapaki kaki Gunung Rinjani, sekaligus memperlihatkan kepada kita panorama alam Lombok yang memikat mata. Lalu hal baru apa yang ditawarkan film ini --bila memang ada?

Kecenderungan untuk menangkap hijaunya daun pepohonan, pesisir pantai serta pesona alam Lombok lainnya dalam 'Leher Angsa' menjadi masalah tersendiri bagi Ari Sihasale tatkala penyajian keindahan alam itu tak bisa ia kompromikan. Seakan tujuan utama film ini adalah memamerkan shot-shot cantik ala foto Instagram ber-hashtag #pemandangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini bukan kali pertama Ari Sihasale mengarahkan cerita disertai ambisi mulia mengenalkan indahnya Bumi Pertiwi ke khalayak penonton. Usaha sebelumnya yang ia lakukan untuk 'Di Timur Matahari' cukup berhasil. 'Di Timur Matahari' yang juga menghadirkan shot-shot cantik ala foto Instagram itu, sebagai film, tak hanya memanjakan mata namun juga memiliki plot yang lumayan solid serta enak untuk diikuti. Ada kesinambungan antara penyampaian cerita dengan ambisi memamerkan landscape keindahan alam sebagai setting-nya. Sayang, hal serupa tak kita jumpai dalam 'Leher Angsa'.

Aswin (Bintang Panglima), bocah cerdas tokoh utama kita, baru saja kehilangan ibunya (Tike Priatnakusumah). Sang Ibu tewas tertimpa pesawat yang jatuh ketika ia tengah bekerja di ladang pada suatu siang. Meratapi kepergian ibunya, Aswin merenung di atas bukit, lalu ke pantai, lalu kembali lagi ke atas bukit melanjutkan ratapannya. Ari Sihasale tak kuasa membiarkan sekuen ini tampil begitu saja tanpa kehadiran pegunungan sebagai background. Sah-sah saja menampilkan keindahan alam sebagai latar cerita, namun alasan Aswin yang berpindah-pindah tempat untuk meratap itu terasa tidak sah, terlalu dibuat-buat.

Di banyak adegan lain, pameran keindahan alam ini terus berlanjut tanpa substansi apa pun. Pembuat film hanya mampu menangkap shot-shot keindahan alamnya itu untuk membingkai adegan tokoh-tokohnya yang sekedar sedang berjalan, berlarian ke sana-ke mari, dan shot-shot tersebut lebih berfungsi sebagai transisi menuju ke adegan lain saja.

Tak hanya soal pemandangan, seperti filmnya yang sudah-sudah, 'Leher Angsa' juga dihidupi oleh sejumlah karakter anak-anak, lalu menjadikan karakter-karakter dewasa sebagai pendukung belaka, atau dalam bingkai film ini, mereka adalah karikatur yang diproyeksikan melalui sudut pandang anak-anak (baca: Aswin). Lewat mata kepala Aswin, tokoh-tokoh dewasa direduksi karakternya menjadi amat sederhana, dan karenanya tak diberi ruang untuk berkembang.

Ayah Aswin, Pak Tampan (Lukman Sardi), hanya dikenal sebagai ayah yang pelit saja. Pak Kades (Ringgo Agus Rahman) juga orang yang pelit, dan sisanya adalah penduduk desa yang hadir dalam cerita tak lebih sebagai figuran semata. Bahkan tokoh ayah dari teman-teman Aswin yang diceritakan di awal film, tak berkontribusi apa pun selain hanya dijadikan alat dagelan pengocok perut. Itu pun lucunya hanya di awal, kemudian garing minta ampun akibat joke serupa yang terus diulang.

Musfar Yasin ('Get Married', 'Nagabonar Jadi 2') sebagai penulis naskah kali ini seperti kikuk untuk mengarang plot cerita yang utuh; usahanya kali ini tak jauh lebih baik dari Raditya Dika yang menulis naskah 'Cinta Brontosaurus'. Keduanya sama-sama hanya menampilkan potongan-potongan cerita kecil yang ketika disulam terlihat sekali jahitannya yang tak karuan.

Film ini berkisah soal perkara buang hajat --rutinitas yang selalu kita lakukan baik dengan gaya jongkok ataupun duduk. Rupanya si pembuat film ingin mengajak kita untuk tak hanya melamun ketika sedang buang hajat; sekali-sekali bolehlah sambil menikmati pemandangan dan merasakan nikmatnya buang hajat dengan pantat yang terendam air sungai, katanya sih memiliki sensasi tersendiri. Film ini boleh saja kedodoran dalam pembabakan tuturan ceritanya. Namun, satu hal yang pasti, 'Leher Angsa' berhasil memberi kita sensasi yang lain dari buang hajat. Terdengar remeh, tapi mau bilang apa lagi kalau faktanya memang begitu.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads