Itulah salah satu adegan yang mencekam dari film pendek berjudul 'Wajang Koelit'. Karya sutradara Chairun Nissa itu merupakan satu dari 5 film yang terhimpun dalam omnibus 'Hi5teria' yang diproduseri oleh Upi. Empat film lainnya adalah 'Pasar Setan' (Adrianto Dewo), 'Kotak Musik' (Billy Christian), 'Palasik' (Nicholas Yudifar), dan 'Loket' (Harvan Agustriansyah).
Entah lagi tren atau bagaimana, omnibus memang memberi kesegaran tersendiri bagi perfilman di Tanah Air. Untuk tahun ini, 'Hi5teria' adalah omnibus kedua yang beredar di bioskop setelah 'Dilema' yang diproduseri Wulan Guritno. Bedanya, dan yang lebih menyegarkan, kali ini kita beroleh omnibus berjenis horor, meskipun tidak tematik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Hi5teria' dibuka cemerlang dengan 'Pasar Setan' yang ringkas, tangkas, padu dan meninggalkan kesan tunggal yang kuat. Berangkat dari fantasi tentang alam gaib di gunung, film ini mengisahkan tentang pendaki yang tersesat. Horor tentang hantu gunung nyaris selalu gagal meyakinkan (karena di gunung orang lebih takut lintah ketimbang hantu), dan film ini dengan cerdik menyiasatinya dengan tak menampilkan hantu.
Gunung Lawu dieksplorasi keindahannya, sekaligus mitos-mitosnya. Salah satu mitos itu adalah adanya Pasar Setan, sebuah wilayah gaib yang kerap membuat para pendaki hilang jika melewatinya. Film ini sangat imajinatif, dan hanya dengan memperlihatkan satu-dua orang pendaki yang berputar-putar seperti kehilangan arah, sudah langsung efektif memberikan daya cekam, sekaligus perasaan ngilu dari kesedihan oleh rasa kehilangan.
Permainan imajinasi yang fantastis juga muncul dalam 'Wajang Koelit'. Dalang perempuan yang misterius, desa yang sunyi, acara ruwatan dengan lakon 'Betari Durga' yang mistis, serta bunyi gamelan dan tembang-tembang Jawa yang ngelangut, menjadi paket komplit yang membuat film ini akan paling diingat dari kompilasi 'Hi5teria'.
Dengan menokohkan perempuan bule wartawan asing yang tengah riset untuk penulisan tentang wayang kulit, bagian ini mengajak penonton main detektif-detektifan untuk menguak misteri di balik wajah dingin dan seram sang dalang ruwat desa itu. Dengan simbol-simbol yang terkait, seperti konde sang sinden yang terjatuh, film ini memaku penonton di tempat duduk tanpa berani menarik napas, sebelum kita siapa sebenarnya dalang perempuan itu, dan bagaimana nasib sang wartawan bule. Mengerikan!
Secara teknis, film-film dalam kompilasi ini dikerjakan dengan rapi dari sinematografi hingga musik. Dalam segi ide cerita pun semuanya tampak "sempurna". Ibaratnya, dengan hanya membaca sinopsis satu per satu film, sangat mudah bagi orang untuk tertarik dan tergerak menontonnya. Palasik? Hantu "khas" Tanah Minang berupa kepala melayang pemangsa bayi dalam kandungan itu? Siapa yang tak langsung kesengsem.
Dan, sutradara Nicholas Yudifar mengerjakan 'Palasik' dengan asik. Bila dalam film horor pendek yang diperlukan adalah pepadupadanan dan kesan tunggal yang kuat, maka seperti dua film sebelumnya tadi, 'Palasik' juga memberikan itu. Hanya saja, film ini terlalu tunduk pada pakem horor modern (Hollywood) yang mewajibkan adanya adegan mandi di buthup. Hal itu agak sedikit 'merusak' kekuatan lokalitas yang menjadi pijakannya.
Kekurangan lain, alur 'Palasik' terlalu ingin menjelas-jelaskan sejarah sang hantu sehingga tokoh utamanya tertabak dan kurang wajar. Malam-malam ia bangun oleh suara yang menuntunnya ke sebuah kamar, lalu membuka sebuah laci dan --aha!- menemukan sebuah dokumen tentang seluk-beluk Palasik. Untunglah, kekakuan itu dicairkan tuntaskan dengan sebuah ending yang brilian.
Cara bertutut yang kurang smooth dan bahkan cenderung ruwet juga tampak pada 'Kotak Musik' dan 'Loket'. Dua karya ini mewakili fantasi hantu generasi kini, dengan setting tempat-tempat urban. Fantasi ini kerap terjebak klise, misalnya mendiskusikan hantu secara ilmiah --sebuah tren yang muncul sejak 'Jelangkung'. 'Kotak Musik' bukannya menghindari itu, malah memasukinya dari awal dengan sengaja.
Tokoh utama dalam 'Kotak Musik' (diperankan Luna Maya) adalah seorang dosen yang tak percaya hantu. Dia menulis buku yang menyangkal keberadaan hantu. Dia melakukan percobaan ala acara TV 'Dunia Lain'. Lalu, apa masalahnya? Masalahnya, ketidakpercayaan dia pada hantu itu belakangan membuatnya 'dihukum', dengan diteror hantu anak kecil. Hantu anak kecil itu bahkan mengkotbahi sang dosen itu.
'Kotak Musik' kehilangan misterinya karena cara bertuturnya yang tidak lancar. Terlalu banyak hantu yang dimunculkan (ada hantu cleaning service apartemen yang entah apa hubungannya dengan "hantu utama" anak kecil tadi), ditambah sublot affair sang dosen dengan seorang brondong (mungkin mahasiswanya), sehingga membuat film ini jadi makin tidak fokus. Dan, siapa yang mau mendengarkan kotbah anak kecil, hantu pula!
Problem yang nyaris sama, yakni cara bertutur yang tidak jernih juga menghinggapi 'Loket'. Ini sangat disayangkan karena film penutup ini sejak awal sebenarnya menjanjikan horor yang cukup gokil. Areal parkir bawah tanah yang gelap, pengap dan sepi; seorang perempuan penjaga loket yang kesepian dan bingung menghadapi kerusakan komputer; semua itu tanpa basa-basi langsung memberikan ketegangan yang maksimal.
Namun, seperti tokoh utamanya (oh ya, kenapa tokoh utama 5 film ini semuanya perempuan, kebetulan atau memang disengaja untuk 'pesan' tertentu, perlu diskusi terpisah) yang tegang dan bingung, pembuat film ini kemudian jadi seperti tegang sendiri, dan alur pun berjalan dalam kebingungan. Teknik kilas baliknya cukup memberi kejutan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu, tapi sayangnya film ditutup dengan adegan yang "salah", yang membuyarkan misteri sebelumnya.
Selamat menyaksikan di bioskop kesayangan Anda!
(mmu/mmu)











































