Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang tinggal di Distrik 12 bukanlah seorang gadis biasa. Dialah yang memenuhi kebutuhan utama keluarganya setelah sang ayah meninggal dunia. Mencari makanan di saat-saat ini tidak mudah. Katniss harus melewati pagar berlistrik dan menjelajah hutan, kemudian mengeluarkan keahliannya memainkan busur panah. Untung ada Gale (Liam Hemsworth), sahabat sekaligus teman berburu.
Datanglah saat anak-anak muda ini berkumpul dan bersiap-siap dipanggil namanya untuk mengikuti The Hunger Games. Akan ada 2 perwakilan dari setiap distrik. Ke-24 orang dari 12 distrik akan saling bunuh dan bertahan hidup karena hanya 1 orang yang memenangkan turnamen ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah seri 'Harry Potter' tamat dan seri 'Twilight' juga akan menemui saga terakhirnya, dunia butuh seri baru untuk menjadi bahan obsesi. Muncullah trilogi 'Hunger Games' karya Suzzane Collins. Seri ini memang tidak seterkenal 'Harry Potter' atau Twilight Saga, namun kisahnya yang unik membuat Lionsgate memberikan lampu hijau untuk memfilmkannya.
Hasilnya tidak mengecewakan. 'The Hunger Games' akan menjadi bahan obsesi yang kuat. Bagian fantasinya terlihat sangat realistis, bagian action-nya sangat breathtaking dan super menegangkan, dan bagian romansanya juga tidak kalah mengharu biru. Bahkan, melebihi dari apapun yang telah diberikan Edward dan Bella dalam 4 film mereka. Chemistry antara Peeta dan Katniss jauh lebih kuat. Mungkin karena mereka harus mempertahankan nyawa "beneran", dan bukannya galau di tengah malam bersama manusia-serigala sebagai bintang tamu.
Gary Ross, Billy Ray, Suzzane Collins mengadaptasi buku 'The Hunger Games' ke layar perak. Seperti gerakan Katniss yang cepat, filmnya dimulai tanpa basa-basi dan begitu tokoh utama mulai berlarian, adrenalin kita mulai meluncur deras. Tidak hanya skripnya yang oke, Gary Ross mengarahkan departemen-departemen lain juga dengan semangat yang sama. Production design, art direction dan efek visualnya sangat membantu untuk membuat 'The Hunger Games' nampak megah. Dan, pergerakan kameranya yang kasar membuat kita merasakan semua emosi yang dirasakan karakternya. Rasa tidak aman, rasa ketidakmapanan, perasaan takut.
Katniss Everdeen adalah karakter yang tidak mudah dan beruntunglah aktris muda berbakat yang telah mendapatkan nominasi Oscar atas perannya dalam 'Winterβs Bone' Jennifer Lawrence yang memerankannya. Bahasa tubuhnya super dan bahkan dalam diam Lawrence tetap tampak ekspresif. Josh Hutcherson memiliki chemistry yang luar biasa dengan Lawrence. Memudahkan kita untuk mengidolakan mereka berdua. Aktor-aktor pendukung juga tidak kalah keren seperti Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Woody Harrelson, Wes Bentley sampai Donald Sutherland yang bermain bagus mendampingi para aktor muda.
Setelah menonton film ini, saya yakin bahwa banyak orang akan mulai membandingkan hasil akhir film dengan bukunya, mana yang lebih bagus. Tapi, menurut saya buku dan film adalah medium yang berbeda, jadi agak buang-buang waktu untuk membandingkannya. Pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah apakah 'The Hunger Games' sebuah adaptasi yang bagus?
Untuk pertanyaan itu, saya bisa menjawab ya. 'The Hunger Games' mempunyai semangat yang membara dan sisi romansa yang cukup membuat Anda terlena. Dan, dengan resmi saya mengatakan bahwa seri 'Twilight' tidak ada apa-apanya dengan film ini. Katniss bisa menghancurkan Edward Cullen dan Jacob Black hanya dengan tatapannya.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































