Film dibuka dengan sebuah drama politik orang dewasa: pemecatan sang pelatih yang berbeda visi dengan pejabat dan investor. Adegan itu dilukiskan tanpa kata-kata. Bayu dan teman-temannya hanya menatap sedih kepergian pelatih itu. Lalu, datanglah pelatih baru yang keras, Wisnu (Rio Dewanto). Kompetisi tingkat ASEAN sudah di depan mata.
Tapi, di luar lapangan Bayu punya kehidupan sebagai cowok yang tengah menginjak remaja. Lihat saja penampilannya. Behel di giginya, gaya rambut ala Kevin Aprilio, v-neck Topman dan sepatu unisex jelas menujukkan dia adalah anak gaul Citos yang cool dan dinamis. Penanda-penanda itu memberi aksen cukup kuat untuk menyatakan dua hal sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecemburuan juga mewarnai persahabatannya dengan Heri (Aldo Tansani), anak cerdas yang duduk di kursi roda. Gara-garanya adalah kehadiran anak baru, Yusuf dalam tim sepakbola, yang dipuji-puji dan dibanggakan oleh Heri. Krisis eksistensi di rumah dan dalam tim itu diperumit dengan kehadiran cewek baru di sekolah, Anya (Monica Sayangbati) yang galak, yang mengaturnya ketika mereka berada dalam satu kelompok untuk sebuah tugas kelas.
Puncaknya adalah ketika pelatih mengumumkan adanya pergantian kapten tim. Bayu langsung merasa dirinya telah gagal. Ia bahkan tak datang latihan, dan memilih untuk bermain-main di taman bersama Anya.
Di tangan Rudi Soedjarwo (sebelumnya 'Garuda di Dadaku' dikerjakan oleh Ifa Isfansyah), 'Garuda di Dadaku 2' menjadi film yang mengandalkan drama lapangan. Namun, di luar itu, Bayu juga dibebani banyak konflik-konflik tipis yang berseliweran. Akibatnya alur menjadi tidak fokus, seperti ada dua arus yang jalan sendiri-sendiri dan tak saling mempengaruhi.
Persahabatan dengan Heri (lengkap dengan kehadiran Bang Duloh yang kocak) terasa tak kuat lagi, dan akhirnya justru terjatuh ke dalam "bromance" yang menye-menye, terlalu melodramatik untuk sebuah drama dunia sepakbola. Relasi-relasi "tarik-ulur" antara Bayu-Om Rudi atau Bayu-Anya juga terasa hanya sekedar untuk melengkapi.
Sementara, drama lapangannya sendiri, sebagai sajian utama yang diharapkan menjadi sumber ketegangan penonton ternyata masih kalah menegangkan dibandingkan pertandingan beneran di luar sana. Butuh ketelatenan yang tinggi untuk membuat sebuah pertandingan olahraga menjadi sumber ketegangan dari sebuah plot. Film ini tak membangunnya dengan intens dari awal. Ilustrasi musik dan teknik editing tidak menolong.
Terlalu banyak muatan yang sebenarnya lebih terasa sebagai titipan suara "ego" dari orang-orang di balik film ini. Dari adegan-adegan yang bisa diasumsikan sebagai kritik untuk dunia persebakbolaan Tanah Air, hingga obrolan-obrolan Wisnu dan salah seorang anak didiknya tentang Benjamin S. Dan, oh ya, siapa sih konsultan kostum untuk tokoh Bayu itu?
(mmu/ich)











































