'Contagion': Mimpi Buruk Masyarakat Paranoid

'Contagion': Mimpi Buruk Masyarakat Paranoid

- detikHot
Kamis, 24 Nov 2011 13:56 WIB
Contagion: Mimpi Buruk Masyarakat Paranoid
Jakarta - Salah satu topik yang sering diangkat Hollywood adalah penggambaran kiamat (apocalypse) yang mungkin terjadi. Ada versi Rolland Emmerich yang gembar-gembor CGI (silakan pilih antara 'Independence Day', 'The Day After Tomorrow' atau '2012'). Ada pula versi melankolis ala Alfonso Cuaron dalam 'Children of Men'. Apocalypse versi Steven Sodernbergh yang diberi judul 'Contagion' ini adalah versi paling baru dan yang paling mungkin terjadi.

Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) baru saja melakukan perjalanan bisnis dan mendadak jatuh sakit. Suhu tubuhnya meninggi, penglihatannya mulai kabur sampai akhirnya otaknya berhenti berfungsi. Beth menularkan penyakit serupa kepada anaknya, Clark (Griffin Kane) dan membuat Mitch (Matt Damon) menjadi bahan pemeriksaan rumah sakit.

Sementara itu, wakil dari CDC (Centers for Central Disease and Prevention) Dr. Ellis Cheever (Laurence Fishburne) mengkhawatirkan adanya sebuah virus tak dikenal telah menyebabkan teror di berbagai belahan dunia. Untuk itu ia mengirim Dr. Erin Mears (Kate Winslet) untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, seberapa berbahaya virus itu. Ternyata cukup serius. Virus itu bisa menular hanya dengan sentuhan tangan atau saling menghirup udara yang sama. Teman Anda yang terjangkit memegang gelas yang sama, bisa jadi Anda akan tertular.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi WHO, Dr. Leonora Orantes (Marion Cotillard) berangkat ke Hong Kong untuk menyelidiki asal mula virus mematikan yang peredarannya super cepat itu. Dan, jurnalis dengan otak konspirasi Alan Krumwiede (Jude Law), yang tertular virus yang sama melakukan demonya sendiri di blog pribadinya atas respon pemerintah terhadap masalah serius itu.

Kekacauan tak terhindarkan. Orang-orang berjuang untuk bertahan hidup. Saling jegal dan tendang kalau perlu, yang penting selamat. Sementara para pejabat pemerintah berjuang keras untuk mencari tahu dari mana asal virus itu, para ilmuwan melakukan pekerjaan rumah terberat mereka untuk mencari vaksin manjur yang sanggup menangkis virus itu sebelum korban berjatuhan.

Siapa yang tidak kenal Steven Sodernbergh? Sebagai seorang sutradara, ia telah melakukan banyak hal. Di usia 26 tahun dia memenangkan Palme d’Or (penghargaan tertinggi Cannes Film Festival) lewat 'Sex, Lies and Videotape'. Ia mendapatkan Oscar untuk 'Traffic', dan mengantarkan Julia Roberts meraih Oscar atas penampilan primanya dalam 'Erin Brockovich'.

Sodernbergh juga mencengangkan dunia ketika mengajak pemain film dewasa Sasha Grey bermain dalam 'The Girlfriend Experience'. Jangan lupa Ocean’s Trilogy yang sukses mereunikan semua pemain Hollywood kelas A. Dan, untuk yang terakhir itu Sodernbergh menjadi ketagihan. 'Contagion' tidak akan terlihat semenarik ini tanpa ada sokongan para bintang utamanya yang semuanya paling tidak pernah merasakan berada dalam daftar nominasi Oscar.

Matt Damon, Kate Winslet, Laurence Fishburne, Gwyneth Paltrow, Jude Law, Marion Cotillard. Agak seram sebenarnya melihat mereka semua tampil dalam satu film. Hampir semuanya tampil prima, tidak berlebihan dan meyakinkan. Efek ngeri juga semakin bertambah dengan iringan musik karya Cliff Martinez yang menegangkan. Musiknya, yang kebanyakan elektrik, sangat mempengaruhi mood film ini. Menegangkan, intens dan mengajak kita untuk selalu tetap waspada.

Sayangnya, terlalu banyak karakter ternyata membuat 'Contagion' menjadi kebingungan. Tidak ada karakter yang menjadi sentral. Semua karakter dalam film ini (hampir) mempunyai porsi yang serupa. Tidak ada yang β€œperjalanannya” benar-benar diikuti dan diawasi seperti dalam 'Children of Men'-nya Alfonso Cuaron yang berhasil membuat penonton terbawa dengan misi yang dijalankan oleh karakter utamanya.

Hal itu menyebabkan 'Contagion' kehilangan fokus. Kalau saja ada satu tokoh sentral yang kuat, 'Contagion' akan menjadi film yang lebih powerful seperti virus dalam film ini. Saya tidak tahu apakah itu hal buruk atau hal baik, tetapi kita sebagai orang Indonesia akan tetap menjalani hidup dengan normal setelah end credits bergulir. Lain halnya bagi para paranoia (baca: orang Amerika), film ini sepertinya akan menjadi mimpi buruk mereka yang agak susah untuk dilupakan.


(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads