Mengikuti resep yang telah mereka lakukan dalam film-film sebelumnya, film ini mengkombinasikan cerita seorang anak yang hendak menggapai cita-citanya dengan kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Namun, meski sama-sama menggunakan lokasi yang eksotis, dengan karakter dari masyarakat yang berbicara dengan bahasa setempat, 'Serdadu Kumbang' bukanlah dongeng biasa untuk anak-anak, baik karena persoalan yang diangkatnya yang cukup berat serta atmosfer secara keseluruhan film ini yang agak putus asa.
'Serdadu Kumbang' dimulai dari karakter Amex, yang seperti anak-anak di berbagai daerah minim infrastruktur pendidikan, tidak lulus ujian nasional. Amex yang berbibir sumbing (dimainkan secara meyakinkan oleh Yudi Miftahudin) bersekolah di SD 08 bersama dua teman dekatnya, Acan dan Umbe. Tiga orang ini sering membuat keributan dan 'kenakalan' yang membuat guru-gurunya pusing. Salah satu guru, Pak Alim (Lukman Sardi) bahkan sering menghukum mereka karena keterlambatan dan berbagai persoalan yang mereka timbulkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya Amek adalah anak yang baik, namun sifatnya yang introvert, keras hati dan cenderung jahil, membuat ia sering dihukum oleh guru-gurunya di sekolah. Sebaliknya Minun kakaknya yang duduk di bangku SMP selalu juara kelas. Ia juga sering menjuarai lomba matematika sekabupaten. Sederet piala dan sertifikat berjejer di ruang tamu mereka. Minun adalah ikon sekolah, kebanggaan keluarga dan masyarakat.
Minun dan Amek tinggal bersama ibunya, Siti (diperankan dengan sangat bagus oleh Titi Sjuman) di desa Mantar, suatu desa yang cukup terpencil di Pulau Sumbawa. Suami Siti, Zakaria, sudah tiga tahun bekerja di Malaysia tapi tidak pernah pulang, apalagi mengirimkan mereka uang.
Di luar desa indah yang tertata rapi itu, ada sebuah pohon yang tidak begitu tinggi namun letaknya persis di bibir tebing, menghadap ke laut lepas. Orang kampung sekitar menyebutnya pohon cita-cita karena hampir di setiap dahannya terikat botol-botol berisi kertas cita-cita anak-anak desa Mantar. Amex, Minun dan teman-temannya sering berada di pohon itu untuk βnongkrongβ atau mendengarkan cerita-cerita serta petuah Papin, kiai setempat (diperankan dengan santai, natural dan penuh karisma oleh Putu Wijaya).
Suatu hari, ayah Amex pulang. Bukannya membawa ringgit, ayah Amex justru menghadirkan persoalan baru. Amex yang memiliki hobi memacu kudanya pun harus menghadapi krisis lain. Apalagi setelah sebuah peristiwa pedih menghampiri keluarganya.
Malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Keputusasaan tak terhindarkan. Pohon cita-cita pun hendak dirubuhkan. Sebuah metafora penting dalam film ini. Namun, keteguhan hati dan cita-cita tak bisa terkalahkan begitu saja. Dengan pertolongan seorang berseragam PT Newmont Nusa Tenggara bernama Pak Ketut, Amex dan teman-temannya kembali dan berjuang meraih cita-citanya di tengah padang ilalang Mantar dalam gambar indah bagai iklan mobil.
Film 'Serdadu Kumbang' dibuat dengan standar produksi yang tinggi, dengan tata sinematografi (oleh Ical Tanjung) yang menampilkan keindahan kabupaten Taliwang (di Pulau Sumbawa) yang luar biasa serta akting para pemain yang cukup meyakinkan. Di antara film-film Indonesia lain yang dibuat akhir-akhir ini, 'Serdadu Kumbang' tentunya memberi harapan bahwa pembuat film Indonesia pun bisa membuat film dengan standar teknis yang bagus.
Namun, kelemahan film ini justru terletak di skenarionya, terutama banyaknya adegan yang tidak saling berhubungan dan kadang tidak masuk akal/tidak perlu. Persoalan pendidikan yang menjadi inti utama film ini dan menjadi kritik utamanya terasa sangat penting, namun acara pelepasan penyu menjadi semacam iklan yang terlalu jelas dan oleh karena itu tak terlalu menyenangkan bagi penonton.
Karakter-karakter dalam film ini pun menggunakan tipologi karakter yang telah ada dalam berbagai film anak-anak Indonesia lain, macam 'Laskar Pelangi' (2008) sehingga menjadi agak susah mencari 'kebaruan' dalam film ini. Dialog-dialog dalam 'Serdadu Kumbang' juga terasa sangat menggurui, apalagi ketika penulis meletakkan banyak adegan di sekolah dan di masjid. Plot menjadi kurang berperan dalam film-film yang lebih banyak berkhotbah daripada bercerita.
Penyakit 'khotbah' dan penekanan pada visual indah mungkin bukan khas Alenia Pictures. Tapi, saya berharap bahwa suatu hari, Arie Sihasale (sutradara) dan Nia Zulkarnaen akan bisa meyakinkan bahwa film yang bagus selalu terdiri dari cerita yang menggugah dan gambar yang indah.
Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia salah seorang pendiri Klub Kajian Film IKJ. Kini bekerja sebagai kurator film.
(mmu/mmu)











































