'Pirate Brothers': Persaudaraan dalam Laga Pembajakan

'Pirate Brothers': Persaudaraan dalam Laga Pembajakan

- detikHot
Rabu, 01 Jun 2011 17:10 WIB
Pirate Brothers: Persaudaraan dalam Laga Pembajakan
Jakarta - Setelah gagal menonton 'Pirates of the Carribean: On Stranger Tides' musim semi ini, penonton Indonesia disuguhi dengan film 'Pirate Brothers' yang tentu saja tidak ada hubungan sama sekali dengan seri film laris itu. Dibuat oleh sutradara Indonesia yang lulus dari sekolah film New York Film Academy di Los Angeles, Asun Mawardi film aksi 'Pirate Brothers' dikerjakan dengan standar teknis yang cukup tinggi. Namun, persoalan bahasa dan sensitivitas budaya yang mengemuka di awal film terus menghantui film ini hingga akhir.

Film 'Pirate Brothers' sendiri meski diarahkan secara mutlak oleh penulis/sutradara/produsernya, merupakan hasil produksi bersama antara Hongkong/China, Singapura, Thailand dan Indonesia. Produksi bersama biasanya ditempuh untuk mengatasi persoalan modal (semakin banyak pemodal semakin banyak uang) maupun untuk memperluas pasar hingga ke beberapa negara. Namun bukan berarti usaha seperti ini berjalan tanpa risiko.

Selain persoalan cerita (cerita di satu negara belum tentu menarik di negara lain), persoalan lokasi (syuting di mana?) atau bahkan aktor (mau memakai bintang film dari mana?) bisa jadi masalah besar. Namun dalam film ini, semua hal termasuk lokasi dan aktor tampaknya tidak bermasalah, kecuali satu: bahasa dan sensitivitas budaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Film ini dibuka dengan gambar kliping-kliping koran tentang pembajakan di wilayah laut dekat Indonesia. Sebuah pembukaan yang menjanjikan. Film pun beralih pada inti cerita, yakni tentang Sunny (12 tahun), seorang anak miskin, yatim-piatu yang hidup di pelabuhan. Kakak angkat yang selalu menjadi pelindungnya tewas dibunuh oleh sekelompok anak punk yang biasa nongkrong di pelabuhan. Sunny yang papa dan sebatang kara pun ditolong oleh seorang polisi yang mengantarkannya ke panti asuhan.

Di sana, ia bertemu Verdy (7-10 tahun) yang selalu menjadi bahan celaan dan aniaya teman-temannya. Sunny pun turun tangan melindunginya. Mereka akrab layaknya bersaudara. Suatu saat, sepasang pengusaha kaya ingin mengadopsi Sunny tapi ia justru menyarankan mereka untuk mengadopsi Verdy. Verdy pun pergi bersama orang tua itu, sementara Sunny tetap di panti asuhan.

Waktu berjalan, 20 tahun pun berlalu. Sunny kini bergabung dengan kelompok bajak laut, sementara Verdy menjadi pewaris perusahaan dan harta ayah angkatnya. Ia telah memiliki pacar bernama Melanie. Suatu waktu, setelah kematian ayahnya, Verdy menghadapi satu krisis berat. Kiriman chips rahasia milik perusahaannya menjadi incaran pembajak. Ia dan Melanie yang sedang berlibur di kapal pun diserbu oleh sekelompok bajak laut, salah satunya Sunny. Verdy bisa kabur atas bantuan Sunny, sementara Melanie disandera.

Sunny ternyata bukanlah seorang pembajak. Setelah diangkat anak dan bepergian hingga ke Amerika Serikat, ia menjadi anggota Interpol. Ia ingin membalas dendam atas kematian kakak angkatnya yang tewas dibunuh kepala gang punk yang kini menjadi pimpinan bajak laut. Verdy yang pada mulanya berprasangka buruk akhirnya percaya dan bekerja sama dengan Sunny untuk menghabisi bajak laut dan tentu saja menyelamatkan Melanie. Perkelahian demi perkelahian berlangsung. Persekongkolan pun terbongkar.

Film ini menggunakan konvensi klasik film aksi Hollywood, yang dilengkapi tentu saja dengan laki-laki perkasa dan berotot, perkelahian-perkelahian yang mengandalkan adrenalin dan efek, serta para penjahat yang harus dihabisi. Konflik dalam film seperti ini bersifat sangat moralis, antara yang baik dan yang buruk, yang jahat dan yang pahlawan. Dan tentu saja semua orang telah mahfum dengan akhir ceritanya, bahkan ketika film belum dimulai. Namun, bukan berarti film seperti ini menjadi buruk.

Dengan olahan cerita dan teknis yang baik, film klise macam film laga bisa jadi film yang tidak membosankan. Dalam hal keterampilan dan kualitas teknis, film ini bisa dikatakan sangat istimewa dan sangat rapi. Setiap adegan diolah dengan pendekatan artistik yang kaya, terutama yang paling menonjol adalah departemen artistik dan sinematografi. Dengan banyaknya perkelahian dengan maupun tanpa senjata, film ini berhasil menonjolkan aksi dan teknik bela diri para aktor.

Adegan-adegan yang terjadi di masa lalu juga dibuat serealis mungkin dengan tata artistik yang tidak berlebihan. Departemen ini juga sungguh-sungguh konsisten dari awal mula Sunny masih kecil hingga Sunny tumbuh dewasa (lihatlah foto presiden Soeharto dan foto pahlawan nasional untuk menandai masa).

Meski sangat-sangat kedodoran di aktor-aktor cilik, film ini akhirnya berhasil mengatasi persoalan akting di setengah bagian film. Imd Verdy Bhawanta dan Robin Shou yang merupakan aktor film bela diri Hongkong yang cukup berpengalaman ( di antaranya dalam film 'Mortal Kombat' dan 'Death Race') memberikan penampilan yang cukup mengesankan.

Hal yang paling mengecewakan di film ini, selain akting, justru terletak di skenario padahal film telah berani mengambil topik yang tidak populer di sinema Indonesia. Mungkin karena penulisnya yang bukan orang Indonesia atau karena sutradara tidak terlalu sensitif dengan persoalan budaya, dialog-dialog di awal film ini terasa sangat kaku dan mengganggu.

Beberapa bagian bahkan terjatuh sampai tahap kurang meyakinkan, terutama ketika kakak angkat Sunny berbicara dan memberi nasihat yang terlalu mengada-ada. Bagian ini memang hanya berlangsung singkat tapi keganjilannya terbawa-bawa hingga akhir film. Mestinya pembuat film cukup percaya pada kekuatan visual, tanpa harus menambahkan kata-kata yang terkesan moralis untuk menguatkan pesan film. Toh, tanpa kata-kata itu pun, film ini telah memiliki potensi untuk laku di beberapa kawasan.


Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia salah seorang pendiri Klub Kajian Film IKJ. Kini bekerja sebagai kurator film.


(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads