Bagi Pakis, anak gadis suku Bajo yang besar dan hidup di samudera, cermin tidak hanya piranti untuk melihat dirinya sendiri, tapi juga mewakili kenangan-kenangan tentang sang ayah. Cerita seperti inilah yang coba diangkat sutradara baru, Kamila Andini. Menggunakan latar cerita suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Andini mengangkat βdramaβ pencarian seorang anak perempuan terhadap ayahnya.
Pakis sendiri tinggal dengan ibunya, Tayung (dimainkan oleh Atiqah Hasiholan), yang membedaki wajahnya dengan bedak putih sepeninggal suaminya, sesuai tradisi suku Bajo. Tayung telah mengubur dalam kenangan atas suaminya. Namun bagi Pakis, kekosongan hidup atas hilangnya sosok ayah membuatnya tak bisa tenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Lumo dan Pakis terus mencari jawaban di Laut Wakatobi. Persoalan dan konflik Pakis dengan ibunya semakin pelik ketika Tudo, seorang peneliti lumba-lumba muncul ke dalam hidup mereka. Badai tidak mengusir angin, juga ketegangan dan perasaan-perasaan rumit yang berkeliaran di benak Tayung, Tudo dan Pakis. Berbagai peristiwa terjadi, berbagai upacara diadakan, dan kematian pun datang menjelang. Sebuah jawaban dari penantian. Wakatobi kembali tenang, menyelam dalam keheningan.
Film 'The Mirror Never Lies' merupakan film fiksi pertama yang mengambil lokasi eksotis di objek pariwisata Wakatobi. Dengan sendirinya, film ini kaya dengan pemandangan dan gambar-gambar elok baik di atas maupun bawah laut. Dibandingkan film-film fiksi yang menggunakan setting seperti serupa, film ini cukup segar karena tidak berangkat dari stereotip dan adegan-adegan travelog untuk turis.
Namun bukan berarti film ini tanpa masalah. Justru yang menjadi masalah adalah karena film ini tidak menghadirkan masalah. Dengan setting yang luar biasa indah dan penggambaran adat serta perikehidupan suku Bajo, film ini terasa steril dari konflik.
Dramaturgi bisa jadi istilah yang tepat untuk menjelaskan mengapa kegamangan yang dirasakan Pakis terasa berlebihan dan tidak cukup kuat untuk menggerakkan narasi film. Satu-satunya persoalan dalam film ini adalah obsesi Pakis akan ayahnya. Jangankan mendapatkan simpati dari penonton, obsesi Pakis pun tidak mendapatkan simpati dari karakter-karakter dalam film (termasuk masyarakat Bajo di sekitarnya).
Dengan seluruh ketenangan dan keindahan setting-nya, karakter-karakter dalam film ini bersifat satu dimensi dan kurang berkembang. Tayung selalu digambarkan marah dan tegang. Pakis sangat terobsesi dengan ayahnya, sementara Tudo yang berpotensi menjadi 'ayah simbolis' sekaligus obyek erotis dua perempuan itu tidak cukup kuat untuk membangkitkan ketegangan antara si ibu dan anak.
Dengan profesinya sebagai peneliti lumba-lumba, Tudi tidak memberikan kontribusi yang cukup penting dalam pembangunan karakter. Diganti tukang payung pun, misalnya, karakter Tudo sepertinya tidak akan banyak mengubah cerita.
Β
Film dengan premis seperti ini tentulah bukanlah hal baru. Film 'Pasir Berbisik' (Nan T Achnas, 2001) berangkat dari kisah yang hampir sama, atau film bagus karya Andrea Arnold, 'Fish Tank' (Inggris, 2009). Dalam 'Fish Tank', karakter terbangun sedemikian rupa sehingga cerita antara anak perempuan dengan laki-laki yang mencintai ibunya menjadi cerita yang sangat menarik.
Meski bisa dibaca sebagai teks psikoanalisis, 'The Mirror Never Lies' seperti tidak padu sebagai satu film. Apalagi bila kita menghubungkannya dengan pola mental orang Bajo. Bagi orang-orang laut dan pengembara seperti Bajo, menetap di suatu tempat dan tunduk kepada penguasa adalah penolakan mereka atas kehidupan daratan. Sangatlah mengherankan bahwa perempuan Bajo seperti Pakis akan merasa sangat kehilangan (sampai tahap terobsesi) dengan kepergian ayahnya.
Bagi suku Bajo, kepergian dan kedatangan adalah sesuatu yang alami. Kepergian sang ayah merupakan bagian dari tradisi adat karena menurut keterangan antropolog macam FranΓ§ois-Robert Zacot, kepala keluarga Bajo sangat jarang berkumpul dengan keluarganya. Tanpa mengurangi perasaan kemanusiaan mereka, kiranya Kamila Andini tidak bercerita tentang suku Bajo di Wakatobi, tapi bercerita tentang dirinya-sendiri.
Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia salah seorang pendiri Klub Kajian Film IKJ. Kini bekerja sebagai kurator film.
(mmu/mmu)











































