Oke, soal membosankan atau tidak, barangkali orang bisa berdebat. Memang, film ini alurnya lambat, dengan adegan-adegan yang datar. Berkali-kali kita disuguhi gambar-gambar diam. Berkali pula, kita diajak untuk mengikuti sang tokoh utama, Jack (George Clooney) duduk sendiri minum kopi di kafe yang sepi, berbaring gelisah di kamarnya, atau sibuk merakit senjata. Namun, film ini sejak awal berusaha membangun mood yang mengkondisikan penonton ikut merasakan kesepian dunia Jack, si pembunuh bayaran.
Setelah adegan pembuka yang memperkenalkan Jack sebagai pembunuh bayaran yang piawai, alur film ini kemudian mengikuti jejak pria itu yang oleh bosnya (diperankan Johan Leysen) diminta pindah ke sebuah desa di Italia. Dengan pesan tak boleh bergaul dengan masyarakat sekitar, di sana ia harus menemui seorang perempuan bernama Mathilde. Di desa yang sunyi di lereng pegunungan itulah hari-hari "baru" Jack dimulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, hubungan antara Jack dan bosnya hanya terjalin lewat sambungan telepon. Itu pun, sampai akhir film, kita dibiarkan untuk tak banyak tahu siapa sebenarnya orang-orang itu. Jack beberapa kali menyebut-nyebut "orang-orang Swedia itu" untuk menunjuk lelaki-lelaki yang berusaha membunuhnya, tapi siapa mereka tidak pernah jelas. Yang kita tahu, si bos yang selalu memberi komando pada Jack itu, lewat Mathilde memesan senjata dengan spesifikasi khusus. Dan, Jack mengerjakannya dengan sempurna, hanya berbekal bahan-bahan yang dia dapat dari bengkel anak haram si pendeta desa.
Karakter-karakter yang terbilang unik, dengan kesunyiannya masing-masing, membangun atmosfer yang khas bagi film ini, yang berhasil "mengeluarkan" sisi-sisi "manusia" di balik label-label profesi dan predikat: pembunuh, pendeta, pelacur. Jack yang dingin, ternyata bisa memperlakukan seorang pelacur dengan penuh cinta. Pendeta yang selalu menceramahi Jack, ternyata punya sejarah kelam dalam hidupnya. Dan, pelacur itu, memendam kerinduan pada sebuah kehidupan baru yang lebih menjanjikan kebahagiaan.
Diangkat dari novel karya 'A Very Private Gentleman (1990) karya Martin Booth, 'The American' merupakan karya fiksi kedua sutradara Anton Corbijn setelah 'Control' (2007). Corbijn sebelumnya dikenal sebagai sutradara video klip band-band papan atas seperti U2 dan Depeche Mode. Film 'Control' pun tak jauh dari tema musik, berkisah tentang vokalis Joy Division, Ian Curtis yang bunuh diri pada usia 23 tahun.
Dengan konflik yang tipis dan minim, 'The American' tetap menarik berkat bahasa gambarnya yang "stylish" dan akting George Clooney yang ciamik. Kamera dengan tabah menyorot jalan-jalan yang lengang, kafe-kafe tempat para pensiunan main gaple, statiun kecil dengan kereta api yang melintas pelan lalu menjauh, dan menciptakan impresi kesunyian yang mendalam pada diri Jack, pembunuh yang di tengah kegelisahannya menyelesaikan tugasnya, mulai merasa menemukan kehidupan "baru" di tempat pengasingannya sementara.
(mmu/mmu)











































